Berdelan lembut di telinga, hingga merasuk ke relung kalbu.
Esok hari, ke lima anggota T-FIVE berangkat bersama ke sekolah, mereka layak menjadi pusat perhatian dikarenakan ketampanan yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Banyak yang pura-pura cuek, namun sedikit melirik. Dalam hati, para gadis di Towyer School mendambakan ke lima cowok tersebut, bukan hanya ketampanan yang mereka miliki, namun skill dan harta termasuk point utama.
Bertepatan kedatangan mereka, ada sosok perempuan yang melewati ke lima cowok tampan tersebut dengan santainya, siapa lagi kalau bukan Sihan, sang ketua kelas yang terkenal galak.
"Jalannya lambat banget, gak usah sok ganteng deh. Ingat, yang piket hari ini kalian berempat," tunjuk Sihan ke Noval, Jono, Fandi, dan Aksara.
Yang ditunjuk terkekeh pelan dan kompak berkata, "siap, bos!"
"Cepet!"
Mereka berempat langsung kocar-kacir menuju kelas tanpa mempedulikan para siswa yang memandang takjub kepada Sihan yang bisa melunakkan mereka.
"Galak banget sih, gak khawatir tua sebelum waktunya?" tanya Eagan.
"Gak khawatir, karena semua orang akan tua pada waktunya, kecuali ajal telah menjemput," jawab Sihan kemudian menyusul mereka berempat. Sementara Eagan menaikkan sebelah alisnya, heran dengan Sihan yang selalu membuatnya skakmat.
Sampainya di kelas, Sihan tersenyum senang bahwa yang piket tidak melepas tanggung jawabnya hingga cewek tersebut tidak perlu mendengar ocehan dari wali kelas.
"Jam pertama dimulai." SoundSystem berbunyi, para siswa menghela napas, baik yang ada di kantin maupun yang ada di toilet, dengan cepat mereka kembali ke kelas dan siap menyambut mata pelajaran jam pertama.
Guru pun masuk dan semuanya duduk di tempat. Guru yang bernama Ibu Wardaniah merupakan wali kelas mereka, berdehem. "Buka halaman 68 dan kerjakan soal yang ada di buku hingga halaman 75, waktu penyetoran sampai pulang sekolah. Yang tidak mengerjakan, tidak ikut ulangan minggu depan, terima kasih. Ibu ada urusan penting. Sihan, harap kontrol teman kamu agar tidak keluar kelas," ucap Ibu Wardaniah menyampaikan, antara senang dan sedih itu seimbang, freeclass 50% mengerjakan tugas 50%
"Baik, Bu."
Dengan santainya Ibu Wardaniah keluar dari kelas, sebelum itu, sang wali kelas tersebut sempat memotret dirinya dan menge-post-nya di i********: dengan caption : Pukul 7 : 20 waktunya mengajar siswa, di antaranya ada yang bandel dan juga tidak. Lelahku akan menjadi berkah :)
Keluarnya Ibu Wardaniah, Eagan dan kawan-kawannya kompak berteriak, "masih lama!"
Masih lama, dalam artian waktu pengumpulannya itu masih ada beberapa jam.
"Heh, masih lama apaan? Lebih cepat lebih baik," tegur Sihan.
"Wah bagus tuh, lebih cepat lamar Sihan kan lebih baik, benar kan, beb?" tanya Eagan dengan gombalan recehnya.
Sihan menunjukan spidolnya dan tersenyum manis menawarkan sebuah lemparan untuk Eagan.
"Hehehe, sukses dulu kalau gitu yah, sayang," ujar Eagan cengengesan.
Baik di kelas mereka maupun di kelas lain banyak yang menjodohkan Eagan dan Sihan karena mereka bagaikan tom & jerry, yah, benci dan cinta itu beda tipis, benar bukan? Jika salah satunya terjadi pembolakan hati, maka, bisa saja mereka saling mencintai, namun, jika pembolakan hatinya itu terbalik. Maka, bahaya. Suatu penyesalan akan terjadi kepada pihak yang baru menyukai.
"Sukses? Aamiin, tapi bukan jodohnya," balas Sihan dan menatap sinis Eagan.
Eagan mengangkat kedua alisnya kemudian mengalihkan perhatiannya kepada empat sahabatnya. Mereka ber empat mengerjakan tugas dan Eagan takjub akan hal itu, namun, hanya bersifat sementara karena mereka berempat ternyata menyontek.
"Gue kirain kerja mandiri," dengus Eagan.
"Emangnya lo mau kerja mandiri?" tanya Jono dan Eagan menggeleng datar.
"Kamfret, foto buku gue, setengahnya udah selesai," bangga Jono memberikan bukunya ke Eagan. Eagan sendiri tersenyum manis menerima buku Jono, tapi, bukannya memfoto buku tersebut melainkan menyoretnya.
"Tungguin gue, gue mau kerja bersama."
"Eagan b*****t!"
1 jam lebih pengerjaan tugas dan semuanya telah selesai. Sedangkan Sihan duduk di kursi guru dan menanti temannya untuk mengumpulkan tugas di atas meja, Sihan sendiri? Gadis itu memiliki tangan yang cekatan dalam menulis, dalam artian cepat dan indah.
"Five k*****t, tugas kalian mana?" tanya Sihan.
"Paling bawah," jawab Noval.
Sihan mengecek buku mereka, dan semuanya telah mengumpulkan. Tentu Sihan melayangkan tatapan sinis kemudian tersenyum dan menaikkan jempolnya.
"Begini dong, kan bisa bebas jadinya," ucap Sihan dan mereka berlima mengangguk-angguk.
Perpaduan rasa yang pas, antara dia dan aku. Namun sayangnya, itu hanyalah kehaluan yang hakiki.
Sihan tertawa setelah membaca quote tersebut, Sihan seringkali berimajinasi yang dimana dirinya menikah dengan shawn mendes, namun sayangnya, itu hanya sebatas kehaluan, tidak lebih dan tidak kurang.
"Ketawa sendiri kek orang gila," ucap Eagan.
Sihan mendongak dan melihat Eagan yang berada di depan meja.
"Gue gak gila, lo yang gila!" balas Sihan.
Eagan merebut ponsel Sihan tiba-tiba dan membaca quote yang Sihan baca tadi. Eagan tersenyum setelah membacanya pula dan menatap gadis di depannya dengan jahil.
"Cie yang sering halu bersanding sama gue, gak perlu berhalu sayang, Abang Eagan mau kok sama Dedek Sihan." Eagan mengerlingkan sebelah matanya, sementara Sihan bergidik ngeri. Bukan dirinya yang selalu berhalu, ternyata cowok di depannya pun juga, namun lebih halu dibandingkan Sihan.
Terlindas di tengah jalan, pada saat itulah aku melihat dirimu dengan yang lain.
Saat Eagan meng-scroll layar ponsel Sihan, quote tersebut sempat dirasakan oleh Eagan, pada saat Sihan dijemput oleh seseorang kemarin di depan halte yang ternyata merupakan kakak Sihan sendiri.
Eagan geleng-geleng kepala, apakah dirinya cemburu? Sedikit saja? Eagan sedikit malu untuk mengakuinya, tapi, memang iya.Esok hari, ke lima anggota T-FIVE berangkat bersama ke sekolah, mereka layak menjadi pusat perhatian dikarenakan ketampanan yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Banyak yang pura-pura cuek, namun sedikit melirik. Dalam hati, para gadis di Towyer School mendambakan ke lima cowok tersebut, bukan hanya ketampanan yang mereka miliki, namun skill dan harta termasuk point utama.
Bertepatan kedatangan mereka, ada sosok perempuan yang melewati ke lima cowok tampan tersebut dengan santainya, siapa lagi kalau bukan Sihan, sang ketua kelas yang terkenal galak.
"Jalannya lambat banget, gak usah sok ganteng deh. Ingat, yang piket hari ini kalian berempat," tunjuk Sihan ke Noval, Jono, Fandi, dan Aksara.
Yang ditunjuk terkekeh pelan dan kompak berkata, "siap, bos!"
"Cepet!"
Mereka berempat langsung kocar-kacir menuju kelas tanpa mempedulikan para siswa yang memandang takjub kepada Sihan yang bisa melunakkan mereka.
"Galak banget sih, gak khawatir tua sebelum waktunya?" tanya Eagan.
"Gak khawatir, karena semua orang akan tua pada waktunya, kecuali ajal telah menjemput," jawab Sihan kemudian menyusul mereka berempat. Sementara Eagan menaikkan sebelah alisnya, heran dengan Sihan yang selalu membuatnya skakmat.
Sampainya di kelas, Sihan tersenyum senang bahwa yang piket tidak melepas tanggung jawabnya hingga cewek tersebut tidak perlu mendengar ocehan dari wali kelas.
"Jam pertama dimulai." SoundSystem berbunyi, para siswa menghela napas, baik yang ada di kantin maupun yang ada di toilet, dengan cepat mereka kembali ke kelas dan siap menyambut mata pelajaran jam pertama.
Guru pun masuk dan semuanya duduk di tempat. Guru yang bernama Ibu Wardaniah merupakan wali kelas mereka, berdehem. "Buka halaman 68 dan kerjakan soal yang ada di buku hingga halaman 75, waktu penyetoran sampai pulang sekolah. Yang tidak mengerjakan, tidak ikut ulangan minggu depan, terima kasih. Ibu ada urusan penting. Sihan, harap kontrol teman kamu agar tidak keluar kelas," ucap Ibu Wardaniah menyampaikan, antara senang dan sedih itu seimbang, freeclass 50% mengerjakan tugas 50%
"Baik, Bu."
Dengan santainya Ibu Wardaniah keluar dari kelas, sebelum itu, sang wali kelas tersebut sempat memotret dirinya dan menge-post-nya di i********: dengan caption : Pukul 7 : 20 waktunya mengajar siswa, di antaranya ada yang bandel dan juga tidak. Lelahku akan menjadi berkah :)
Keluarnya Ibu Wardaniah, Eagan dan kawan-kawannya kompak berteriak, "masih lama!"
Masih lama, dalam artian waktu pengumpulannya itu masih ada beberapa jam.
"Heh, masih lama apaan? Lebih cepat lebih baik," tegur Sihan.
"Wah bagus tuh, lebih cepat lamar Sihan kan lebih baik, benar kan, beb?" tanya Eagan dengan gombalan recehnya.
Sihan menunjukan spidolnya dan tersenyum manis menawarkan sebuah lemparan untuk Eagan.
"Hehehe, sukses dulu kalau gitu yah, sayang," ujar Eagan cengengesan.
Baik di kelas mereka maupun di kelas lain banyak yang menjodohkan Eagan dan Sihan karena mereka bagaikan tom & jerry, yah, benci dan cinta itu beda tipis, benar bukan? Jika salah satunya terjadi pembolakan hati, maka, bisa saja mereka saling mencintai, namun, jika pembolakan hatinya itu terbalik. Maka, bahaya. Suatu penyesalan akan terjadi kepada pihak yang baru menyukai.
"Sukses? Aamiin, tapi bukan jodohnya," balas Sihan dan menatap sinis Eagan.
Eagan mengangkat kedua alisnya kemudian mengalihkan perhatiannya kepada empat sahabatnya. Mereka ber empat mengerjakan tugas dan Eagan takjub akan hal itu, namun, hanya bersifat sementara karena mereka berempat ternyata menyontek.
"Gue kirain kerja mandiri," dengus Eagan.
"Emangnya lo mau kerja mandiri?" tanya Jono dan Eagan menggeleng datar.
"Kamfret, foto buku gue, setengahnya udah selesai," bangga Jono memberikan bukunya ke Eagan. Eagan sendiri tersenyum manis menerima buku Jono, tapi, bukannya memfoto buku tersebut melainkan menyoretnya.
"Tungguin gue, gue mau kerja bersama."
"Eagan b*****t!"