Luisa menatap keluar jendela kereta api yang ditumpanginya. Hamparan sawah yang padinya telah menguning menjadi pemandangan yang menjadi teman perjalanannya. Ia tersenyum menyadari kelegaan hatinya setelah meninggalkan kota penuh kenangan itu. Walau berat, harus ia lakukan demi memulihkan hatinya. Setidaknya ia bisa sedikit lebih lega berada jauh dari kota yang menyisakan banyak luka dalam hidupnya walau ia harus memendam kerinduan yang mendalam pada makam sang ayah dan … suaminya. “Wah! Lumayan murah nih. Rukonya bagus lagi dua lantai. Ada dua kamar diatasnya.” Faizal menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan foto sebuah bangunan berlantai dua. Ada beberapa ruko disana dan hanya kosong dua.” Harganya oke kan?” “Disana lebih murah ya harga sewanya. Tempatnya strategis gak?” tanya Luis

