Sore itu … Cuaca mendung mengiringi pemakaman Deri. Luisa masih terus duduk disamping makam sang ayah yang masih bertaburan bunga segar. Mata gadis itu nanar menatap makam ayahnya, tempat terbaringnya pria yang sangat ia cintai. Pria yang melindunginya selama ini. Tempat yang tidak bisa Luisa kunjungi lagi. Hatinya kian hancur, menyadari sedikitnya waktu yang ia luangkan untuk sang ayah yang ternyata semakin habis. Ia tidak menyangka ayahnya akan pergi secepat ini. Jika saja saat itu Luisa memilih untuk pulang, mungkin ia masih punya kesempatan untuk melihat senyum ayahnya seperti biasa. Tapi lagi-lagi hanya penyesalan yang ia dapatkan. Semua terlambat. “Ayah, maafin Lui. Selama ini aku belum menjadi anak yang baik untuk ayah. Tapi ayah adalah pria terhebat yang pernah Lui miliki.” F

