O.H.M.Ds 8

2010 Kata
Happy Reading . . . *** Dengan langkah yang cukup lemah, aku melangkah menuruni anak tangga setelah baru saja aku selesai menghadap atasanku di ruangannya yang berada di lantai atas bangunan restauran tempatku bekerja ini. Aku yang sebelumnya sudah bersiap ingin memulai pekerjaanku, tiba-tiba saja aku dipanggil oleh atasanku itu untuk bisa menghadapnya sejenak sebelum aku memulai pekerjaanku. Aku yang berpikir bahwa atasanku tersebut hanya ingin membicarakan mengenai hal yang biasa saja, tetapi rupanya aku justru harus mendapatkan suatu hal yang tidak pernah ada di pikiran dan benakku sebelumnya. Tidak pernah aku duga, aku mendapatkan surat peringatan dan teguran yang dilayangkan oleh atasanku itu. Semua itu katanya dimulai dari dua hari yang lalu aku tidak masuk bekerja, dan ditambah kemarin aku pun juga tidak masuk tanpa bisa memberikan alasan yang jelas mengapa aku bisa sampai tidak masuk bekerja. Semua alasan yang diberikan atasanku itu, bersamaan dengan performa kerjaku yang semakin hari menurut penilaiannya itu semakin menurun saja. Dan, aku pun juga tidak ingin membantah semua itu karena aku sendiri pun juga bisa melihat kenyataan yang terjadi itu memang benar-benar aku lakukan. Bagaimana tidak performa kerjaku menjadi menurun, jika pikiranku saja tidak bisa terlepas dari penyakit Grey? Tetapi, semua pengorbanan yang sudah aku lakukan itu justru seakan terasa hanya menjadi sebuah lelucon saja di mata pria itu. Karena, Grey-lah yang berbicara sendiri bahwa diriku ini tidak bisa menjadi pahlawan untuknya. Dan bahkan, secara terang-terangan pria itu mengatakan langsung kepadaku bahwa ia tidaklah membutuhkan pertolonganku. Kenyataan yang miris itu harus aku hadapi di saat aku sudah mengorbankan diriku hingga nyawaku yang hampir menjadi taruhannya, namun semua itu harus dibalas dengan dipandang sebelah mata oleh pria yang kini masih berstatus sebagai kekasihku. Sedikit b******n, tetapi berapa bodohnya aku yang begitu mencintai dirinya itu. Apa yang sebenarnya sedang menimpa diriku belakang ini? Dari perihal akan diriku yang mendapatkan kenyataan bahwa Grey menderita penyakit hati, kehidupanku dan pria itu yang mulai mengalami kesulitan mengenai uang, aku yang mendapatkan pekerjaan tambahan tetapi rupanya sangatlah jauh dari kata aman dan begitu banyak resiko yang harus aku tanggung sendiri, hingga dua hari yang lalu aku hampir kehilangan nyawaku, sampai yang saat ini dengan aku yang mendapatkan surat peringatan dari tempatku bekerja seperti hiasan yang manis di atas segala permasalahan hidup yang sedang aku hadapi dan sudah berada tepat di depan mataku. Dengan semua itu, aku menjadi berpikir bahwa takdir hidupku memang sudah seperti ini. Tidak beruntung dan jauh dari kebahagiaan. Tidak hanya masalah di apartemen bersama dengan kekasihku saja, tetapi rupanya aku juga memiliki permasalahan di tempat kerjaku ini karena performa kinerjaku yang memang aku sadari sudah menurun semenjak kenyataan mengenai penyakit yang Grey derita itu. Dan jika takdir memang benar-benar tidak mengizinkanku untuk bisa mendapatkan kebahagiaan, apakah setelah ini aku akan dihadapi sebuah permasalahan baru dan lain halnya yang lain lagi di beberapa waktu ke depan nanti? Aku yang melangkahkan kedua kakiku dengan lemah ini, membawaku menuju lokerku dimana ruang pegawai berada. Setelah menyimpan surat peringatan di dalam tas milikku yang berada di dalam loker, aku pun mendudukkan diri di sebuah kursi panjang yang memang disediakan di ruangan tersebut. Bersamaan dengan aku yang sedang mengatur nafas, aku pun menenangkan diri sejenak sebelum nantinya aku yang benar-benar akan memulai pekerjaanku. Waktu sendiri dalam situasi yang tenang adalah hal yang sangat aku perlukan saat ini. Namun di saat aku yang baru saja merasakan ketenangan sejenak, aku pun mendengar suara pintu ruang pegawai ini yang terbuka dan munculah Kimmy di sana bersamaan denganku yang menolehkan pandangan menuju asal suara tersebut. Tatapan mataku yang mengikuti langkah Kimmy, kini berhenti pada saat temanku itu sudah mendudukkan diri di sampingku. "Kau dari mana saja? Aku sudah mencari-carimu sejak tadi. Aku sudah melihat namamu di mesin absen, tetapi aku tidak kunjung juga menemukan keberadaanmu." Tanya Kimmy kepadaku yang rupanya sudah sejak tadi katanya ia mencari-cari keberadaanku. "Dari atas, aku baru saja dipanggil dan menghadap." "Ada apa?" "Aku diberi surat peringatan atas kinerjaku yang belakangan ini menurun." "Oh, tidak. Itu sangatlah buruk." "Ya, memang. Tetapi aku baik-baik saja. Aku sedang menenangkan diriku di sini sejenak. Jika sudah lebih baik, aku akan langsung bergegas untuk bekerja." "Kenapa kau tidak mengambil libur saja? Aku bisa melihat jika saat ini kau sedang benar-benar tidak baik-baik saja, Estee. Aku bisa melihat dari wajahmu yang terlihat sangat lelah dan jauh dari wajah Estee yang biasanya selalu aku lihat ceria." "Oh, tidak. Jika aku mengambil libur, aku bisa saja akan langsung dipecat, Kim." "Jika kau tidak ingin mengambil libur, mungkin kau bisa membagi beban yang saat ini sedang kau hadapi. Setidaknya, itu bisa sedikit membantu untuk menenangkan perasaanmu itu, Estee." "Tidak, Kim. Aku tidak apa-apa." "Kau sedang berbohong, kau tahu?" Aku pun hanya tersenyum dan terdiam menanggapi ucapan Kimmy yang tanpa aku beritahu, ia sudah mengetahuinya sendiri bahwa kini aku memang sedang benar-benar terbebani banyak masalah. "Estee, sebenarnya ada suatu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Tetapi, melihat kau yang saat ini sedang memiliki banyak masalah seperti ini, sebaiknya aku membicarakannya nanti saja." "Memangnya ada apa? Katakan saja, Kimmy. Aku baik-baik saja." "Kau yakin?" "Ya, katakan saja kau ingin membicarakan hal apa." "Sejak kemarin Dave mencari-carimu. Katanya, ini berhubungan dengan pekerjaan yang diberikan olehnya itu." Mendengar hal seperti itu, aku pun langsung memiliki perasaan bahwa sebentar lagi aku akan menghadapi masalah baru lagi. Masalah yang pastinya dengan aku yang tidak kunjung juga kembali kepada tempat yang sudah memberikanku pekerjaan itu, untuk memberikan seluruh uang penjualan barang beberapa hari yang lalu. "Dave mengatakan urusannya cukup rumit. Memangnya bagaimana dengan pekerjaanmu itu, Estee? Semuanya baik-baik saja, bukan?" "Ya, semuanya baik-baik saja, Kimmy." "Apakah karena masalah itu yang membuatmu sampai terlihat tidak seperti biasanya ini? Aku memang tidak tahu pekerjaan apa yang kau dapatkan dari Dave, tetapi aku bisa melihat bahwa pekerjaan yang ia berikan kepadamu itu tidak baik, Estee. Kau tahu Dave memiliki pergaulan yang tidak baik, bukan?" "Tidak, aku baik-baik saja. Jadi kau tidak perlu khawatir denganku, okay?". "Hei, dimana sekarang Dave berada? Aku ingin menemuinya." "Sebenarnya, sudah sejak tadi ia berada di belakang. Ia menunggumu di sana hanya untuk bertemu denganmu, Estee. Dan dengan begitu aku pun semakin menjadi yakin bahwa saat ini kau memang sedang menghadapi sebuah masalah yang tidaklah kecil." "Aku tidak ingin membuatmu menjadi merasa ikut terbeban dengan masalahku yang tidak ada hubungannya dengamu, Kim. Aku tidak ingin kau merasakan hal seperti itu." "Tetapi aku tidak keberatan jika kau ingin membaginya denganku. Mungkin aku bisa mencari jalan keluarnya juga untukmu." "Hmm..., mungkin nanti. Bukannya aku tidak ingin membaginya denganmu, Kim. Tetapi, aku yakin jika aku masih bisa menyelesaikan masalahku ini sendirian." "Tetapi jika kau sudah tidak bisa menyelesaikannya sendiri, jangan takut untuk membaginya denganku, okay? Aku selalu siap untuk menjadi pendengarmu." "Ya, terima kasih kau sudah selalu ingin membantuku, Kim." "Tentu. Dan sekarang, apa kau ingin menemui Dave terlebih dahulu?" "Ya. Dan bisakah kau melakukan pekerjaanku terlebih dahulu? Aku tidak akan lama, dan akan segera kembali." "Ya, tentu. Pergilah." "Sekali lagi terima kasih kau sudah ingin membantuku." Setelah melihat Kimmy yang tersenyum dan menganggukan kepalanya, aku pun beranjak dari duduk untuk bergegas melangkah menuju pintu belakang dimana Dave sudah berada di sana dan menunggu di tempat biasa pria itu berada. "Aku habis mengalami hal yang tidak menyenangkan," ucapku setelah berada tepat di hadapan Dave yang sudah mengalihkan pandangan dari layar ponselnya dan langsung menatapku. "Maka setelah ini kau akan mengalami untuk yang kedua kalinya." "Aku bisa menjelaskan semuanya, Dave. Aku tidak akan seperti ini jika kemarin aku tidak mengalami hal yang buruk yang sudah menimpa diriku itu." "Mereka tidak pernah mengenal dengan kata alasan yang akan keluar dari mulutmu. Mereka tidak pernah mentolerir hal itu. Darimana saja kau, Estee? Dua hari, bayangkan dua hari kau tidak bisa dihubungi, dan sekarang mereka sudah mengancamku karena akulah yang sudah membawamu kepada mereka. Mereka akan membunuhku jika hari ini aku tidak bisa membawamu kepada mereka. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang kasar, jika aku sedang tidak diancam. Jadi, apa kau ingin aku yang sampai berbuat kasar kepadamu dengan memaksa agar kau bisa datang kepada mereka?" "Tidak, aku tidak bisa lagi datang ke sana, Dave. Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mereka." "Apa yang kau katakan, Estee?" "Aku tidak bisa lagi, Dave. Maaf." "Maka, sebelum mereka yang membunuhku, maka aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu." "Kau harus mendengar alasanku terlebih dahulu. Pekerjaan itu memberikanku rasa trauma, Dave." "Mereka tidak mengenal alasan, Estee. Dan begitu juga denganku. Aku tidak ingin mendengar alasan yang hanya akan membuat nyawaku menjadi jaminannya." "Aku dirampok. Semua uang hasil pengiriman barang beberapa hari yang lalu hilang karena aku mau tidak mau memberikan seluruh uang itu kepada orang-orang jahat itu. Mereka mengancam ingin membunuhku, Dave. Aku yang berada di kota yang sangat jauh dari tempat tinggalku, membuatku tidak memiliki pilihan lain selain memberikan seluruh uang itu." "Kau merasa takut karena diancam oleh orang-orang jahat itu? Tetapi kau justru mengambil keputusan yang salah, Estee. Kau akan mendapatkan hal yang lebih buruk dari pada perampok-perampok itu. Kau tahu berapa jumlah uang yang kau hilangkan itu? Seratus juta dolar! Seratus juta dolar, Estee. Kau menghilangkan uang itu dan kini tidak hanya dirimu saja, tetapi aku juga sudah terlibat di dalamnya. Kita berdua akan memiliki akhir yang sama, Estee. Kau ingat nyawa kita menjadi jaminan dalam surat kontrak itu?" "Aku tahu," balasku dengan lemah karena aku sudah tidak terkejut lagi jika Dave akan semarah ini kepadaku karena aku telah menghilangkan uang yang jumlahnya baru aku ketahui sebesar seratus juga dolar itu. "Lalu, apa sekarang kau sudah siap untuk menyerahkan nyawamu?" Aku tahu saat-saat seperti ini akan datang juga pada akhirnya. Aku yang tahu resiko yang akan aku dapatkan setelah malam menegangkan itu, kini sudah saatnya harus aku hadapi. Dan dengan begitu, aku pun didorong untuk bisa menyelesaikan masalah ini sendirian, tanpa bantuan dari orang lain yang tidak bersalah tetapi harus ikut menanggungnya juga. Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi pada Dave juga, yang semula hanya bersikap baik karena membantuku yang ingin mendapatkan pekerjaan tambahan itu. Karena memang sudah seharusnya juga aku sendiri bertanggung jawab untuk masalah yang sedang aku hadapi ini. "Kau tidak perlu ikut campur lagi. Biar aku yang menghadapi mereka, biar aku yang menyelesaikan permasalahan ini sendiri. Kau tidak perlu repot-repot memikirkanku lagi, Dave." "Kau siap dengan apapun itu resikonya?" "Aku sudah menandatangani kontrak itu, Dave. Jadi, aku pun juga harus siap. Walau sesungguhnya aku tidak siap dengan resikonya itu." "Kenapa kau begitu ingin berkorban seperti ini, Estee?" "Karena inilah yang memang seharusnya aku lakukan. Aku harus berkorban untuk orang yang aku cintai." "Kekasihmu itu sangat beruntung memilikimu." "Hmm..., mungkin saja tidak. Tetapi, ya. Aku memang harus bersikap seperti itu," balasku dengan miris setelah mengingat kembali bahwa Grey bukanlah tipe pria yang tidak ingin dibantu dan tidak pernah melihat pengorbanan yang sudah aku lakukan untuknya itu. "Jika sudah seperti ini, aku sudah tidak tahu harus berbuat apalagi. Sesungguhnya aku ingin membantumu untuk bisa keluar dari permasalahan ini, Estee. Tetapi, memiliki hubungan dengan mereka apalagi yang bermasalah seperti salah satunya yang sedang kau hadapi ini, semua itu adalah hal yang sangat tidak tepat. Mereka tidak akan membuang waktu untuk tidak langsung memberikan bayaran yang harus kau terima, karena sudah bermain-main dengan pekerjaan yang mereka berikan." "Ya, tidak masalah. Terima kasih karena kau juga sudah ingin peduli denganku, Dave. Tetapi kau sungguh tidak perlu membantuku dan tidak perlu memikirkanku lagi. Karena aku akan menyelesaikan semuanya sendiri seperti yang aku katakan tadi." "Jika kau membutuhkan sesuatu, bicara saja kepadaku." "Kau ingin membantuku? Karena sepertinya aku hanya membutuhkan satu hal saja darimu." "Tadi kau mengatakan tidak ingin dibantu." "Iya. Tetapi aku hanya ingin meminta bantuan kepadamu untuk bisa mengantarku bertemu dengan mereka saja." "Hanya itu?" "Ya. Setelah jam kerjaku sudah selesai nanti, aku akan langsung menghubungimu. Bagaimana, apakah kau ingin mengantarku?" "Ya, tentu saja. Jika hanya itu aku pasti bisa membantumu. "Baiklah, terima kasih sudah ingin membantuku, Dave." "Tentu." "Kalau begitu aku ingin bekerja dulu, sampai bertemu nanti sore." Setelah berpamitan, aku pun langsung bergegas meninggalkan Dave menuju pintu belakang restauran untuk segera memulai bekerja, sebelum aku diberi teguran untuk yang kedua kalinya oleh atasanku dan berujung pada diriku yang mungkin akan kehilangan pekerjaan utamaku juga. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN