Harusnya hari ini dia tidak pulang telat. Tapi sialnya dia dibutuhkan saat ini. Mau tidak mau, itu sudah menjadi kewajiban baginya. "Ra," Rara merasa namanya terpanggil sontak mendongakkan kepalanya. "Eh elu Yo. Udah selesai latihannya?" tanya Rara. Dio menarik salah satu kursi dan duduk disamping Rara. "Alhamdulillah udah Ra." Dio melirik, melihat apa yang Rara baca, "Apaan itu Ra?" tanyanya. "Oh iya gue lupa." Rara, mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya, "Lu disuruh MC." Dio mengernyitkan dahinya bingung, "Tapi sama lu kan?" tanyanya. "Heeh." jawab Rara malas. Dia tahu, Dio tidak mau jika partner MCnya bukan dirinya. Dio pernah cerita, sewaktu dia menjadi MC dan partnernya itu tidak bisa diajak kompromi sama sekali. Dan itu membuatnya darah tinggi mendadak. "Siipp

