BAGIAN 4 ; TERKUAK

2723 Kata
Tidak ada yang menyangka, jika selama ini yang menahan Yongka tidak berjalan sendiri menuju Yessynta adalah sesuatu yang perlu dia pastikan sendiri. Sesuatu dengan tingkat ketidakpercayaan Yongka mengetahuinya dari media. Tentu saja Yongka tidak mempercayai apa yang baru-baru ini saja dia dapatkan faktanya. Yessynta memiliki anak. Seorang putri yang pastinya mewarisi kecantikan wanita itu. Kecantikan yang membuat Yongka gila hingga berani membayar mahal beberapa pihak guna mencari tahu keberadaan wanita itu diam-diam. "Lucu, ya, Hon. Nanti kalau anak kita perempuan, aku mau pakaiannya kayak gini, deh. Apalagi ini modelnya cantik banget. Masih kecil udah cantik begini, orangtuanya tahu aja kesempatan dapat uang, ya." Ucapan Eva pada sosok di majalah elektronik keluaran Jepang itu menekan Yongka untuk tidak berteriak ITU ANAKKU! pada istrinya sendiri. "Cantik," ucap Yongka. "Tapi kalau dilihat... uhm... mirip sama adik kamu––" "Memang anak itu anaknya Yessynta," lanjut Yongka memotong ucapan sang istri. Ganeva melongo. Tidak bisa dia cerna dengan baik informasi ini. Adik Yongka sudah memiliki anak? "Kok bisa?" "Dia model, Eva. Synta jelas cantik, dia punya modal dan kesempatan buat godain petinggi di sana buat jual anaknya begini." Yongka berucap tanpa menoleh pada Eva. Meski Yongka tahu kebenarannya, dia masih saja menjatuhkan harga diri Synta di depan Ganeva. "Kamu ini ngomong apa, sih, Hon? Yessynta itu adik kamu, lho. Kok kamu tuduh jadi perempuan nggak bener, sih?!" Eva membalas. Dia pukul d**a suaminya agak keras. Tidak Yongka lanjutkan kembali. Dia sendiri bingung kenapa selalu merendahkan Synta. Padahal, di lubuk hati terdalam, dia selalu menginginkan Synta. Apa karena gengsi? Yongka hilang kendali mengatai wanita itu seolah Yessynta adalah pelaku hancurnya keluarga Yongka, dulu. "Kamu nggak mau jenguk adik kamu? Sama ponakan kamu?" Ganeva sepertinya terlalu polos untuk menyadari bahwa anak yang disebut sebagai keponakan Yongka adalah darah daging dari suaminya sendiri. Yongka sendiri, dia belum memiliki jiwa kepemilikan terhadap anak yang wajahnya mentereng di majalah tersebut. Dia belum terlalu tersentuh, sebab wajah anak itu terlalu mirip Yessynta. "Kamu kok kayaknya jahat banget, sih sama adek sendiri." "Kenapa kamu malah nuduh aku begitu, Eva?" Eva mendecak keras. "Bukan nuduh. Gaya kamu itu, lho... siapa pun tahu kamu nggak mau peduli sama adek kamu sendiri." "Kalau aku nggak peduli, buat apa aku nyuruh banyak orang buat nyari tahu keadaan mereka, hm? Aku bayar mahal buat semua itu," balas Yongka menutupi rasa bangganya karena bisa menemukan Synta juga... anaknya. "Terserah kamu, deh. Aku capek. Mau tidur!" Ganeva berdiri dari sofa tempatnya duduk semula. Membiarkan Yongka sendiri bersama gadget yang masih menampilkan wajah si kecil lucu. Baby Flowers. Yongka mendengkus. "Kamu namain dia Baby Flowers? Sejak kapan kamu norak tentang nama, Syn?" Bisanya mencibir. Apa saja yang dilakukan Synta selalu Yongka cibir. Padahal, semakin dia mencari celah keburukan Synta dia hanya akan menjadi orang yang begitu mengamati dan peduli terhadap Synta. Yongka sentuh permukaan layar dengan wajah baby Flo. Sudah begitu besar. Yongka terlalu banyak kehilangan waktu menyadari bahwa Yessynta berhasil mencuri satu nyawa berasal darinya. Rasa tidak terima itu muncul, tapi Yongka mencoba menekan sekuat mungkin. Dia tidak mau terjerumus menjadi laki-laki dengan rasa bersalah menggunung pada Yessynta. Wanita itu pantas untuk direndahkan. Begitulah pikiran Yongka. * Melepas Synta bukan hal yang sepenuhnya Yongka inginkan. Dia senang menjadi kakak laki-laki di mata banyak orang, tetapi aslinya, dia menikmati tubuh dari perempuan yang berstatus sebagai adiknya. Hanya status. Yongka tidak merasa perlu menambah ketakutan akan rasa bersalahnya pada Yessynta. Toh, Yessynta pun memang urakan. Yongka tahu bahwa Synta sempat menjadi perempuan perusak rumah tangga orang, apa namanya kalau bukan jalang? "Pak. Nona Yessynta tidak mau pulang, justru beliau pindah rumah, Pak." Yongka sekarang sudah mulai aktif menjadi pemimpin rumah sakit. Dia masih membuka jam praktik, tapi tidak sepadat dulu. Jika dulu saja Yongka sangat sulit ditemui para pasien ibu-ibu hamil yang mempercayainya, maka sudah tiga tahun belakangan dia semakin eksklusif membuka praktik. "Alamatnya kamu tahu?" Yongka tidak menunggu penjelasan panjang Targa lagi. Dia ingin secepatnya mendapat kabar mengenai Yessynta dan anaknya. "Belum ada, Pak." "Cari," balas Yongka. "Kamu dan teman-temanmu saya bayar untuk mencari keberadaan Synta dan bawa kembali dia ke sini." Jelas-jelas Yessynta tidak mau kembali ke Indonesia. Targa sampai lelah meyakinkan Yongka bahwa perempuan yang dia cari––adiknya––tidak mau dibujuk dan bahkan memilih mencari tempat yang lagi-lagi sulit dilacak. "Pak, maaf sebelumnya. Saya pikir, lebih baik bapak yang langsung datang. Karena berkali-kali saya bertemu dengan nona Yessynta, yang ada malah saya diusir beliau, Pak." Yongka juga memiliki pemikiran yang sama. Dia ingin menyusul wanita itu dan memaksa Synta pulang ke Indonesia. Jika dengan mendatangi Synta secara langsung mampu membuat wanita itu luluh, maka Yongka akan lakukan segala cara. "Oh, iya, Pak. Kalau boleh saya tahu, apa alasan tepatnya meminta nona Yessynta kembali––" "Bukan urusan kamu, Targa. Sana. Saya kasih kamu waktu untuk istirahat sebelum berangkat ke Jepang lagi untuk mencari Yessynta." Kepergian Targa dari sana membuat Yongka berpikir kembali, haruskah dia menghampiri Synta langsung ke Jepang? * "Kamu mau ke mana, Hon?" "Jepang, Va." "Ngapain?" Gerakan Yongka mengangkat cangkir kopinya berakhir dengan mengambanh di tengah-tengah. Dia tidak jadi melanjutkan dan tetap diam memerhatikan istrinya. "Kenapa? Kamu nggak izinin?" tanya balik Yongka. Ganeva memiringkan tubuhnya dan merapat pada Yongka. Tidak ingin ada jarak, dan mencoba bicara intim. "Aku nggak maksud gitu, Hon." Eva membuat gerakan memutar di d**a suaminya. "Aku pengin bareng sama kamu terus, tapi kamunya sibuk melulu." Lalu bibir mengerucut Eva kumat. "Kamu manja, ya, Va." Yongka mengecup bibir perempuan itu hingga Ganeva memekik senang dan malah membalas kecupan Yongka lebih dalam. "Ehm... Syn...." Eva menghentikan ciuman mereka, menatap Yongka penuh tanya. "Syn?" Yongka mengerjap, berdeham sebentar untuk melancarkan aksi bohongnya. "s**t. Sorry, tadi aku ngomong kasar. Kamu makin jago, sih nyiumnya." Untungnya Ganeva bukan tipikal yang melebih-lebihkan masalah. Perempuan itu sudah melupakan ucapan spontan Yongka dan kembali merangsek dalam rengkuhan suaminya. "Hon." "Hm?" "Quicky, yuk! Biar nanti aku nggak kelamaan kangen kamu." Yongka dibuat tertawa. Dia merasa bersalah pada Ganeva, karena terkadang, yang dia bayangkan ketika menyentuh atau b******a dengan Eva bayangan Synta menyeruak begitu saja. Dia hampir selalu keceplosan saja menyebut nama Synta seperti yang tadi. "Mengobati seminggu ke depan, kamu yakin bisa nunggu?" Kikik manja Eva terdengar. "Kasih aku kejutan, supaya bisa nahan kangen sama kamu." Jika itu Yessynta. Tanpa perlu dirayu, Yongka akan siap menerkamnya di mana saja tidak seperti ini... berlama-lama untuk membuatnya berdiri. * Pergi adalah satu-satunya cara yang dapat Yessynta lakukan. Dia tidak menginginkan hal lain. Perlu digaris bawahi, bahwa keputusannya menjauhi Yongka adalah untuk mengamankan putrinya. Anaknya. Separuh jiwanya. "Papa, mama Amber nggak datang hari ini?" "Oh. Tidak bisa, Flo. Mama Amber sedang di rumah sakit. Perutnya kontraksi." "Ap––" "Sudah akan melahirkan?" Roy mengelus rambut Flo dengan sayang, perasaan tulusnya sebagai seorang ayah merekah begitu saja pada Flo semenjak anak itu mendekat padanya, memanggilnya papa, terus menempel dan menarik perhatian Roy hingga sampai sekarang malah selalu datang pada Flo. Synta sampai kesal karena Roy malah tidak ada hentinya menemui Flo dan berusaha membawa Flo untuk menginap di kediamannya serta Amber. "Baby Flo ingin melihat baby G?" Ini dia salah satu bentuk kekesalan Synta. Jika Flo dipertemukan dengan Roy, semua terabaikan. "Yes, papa! Flo mau lihat baby G." Jenay hanya menertawakan kecemburuan Synta pada kedekatan Flo dan Roy. Sedangkan yang ditertawakan sedang mendengkus dan menggeram marah. "Oh, astaga!Terus saja bicara seolah tidak ada ibunya di sini!" gumam Synta dengan nada menggeram. Jenay, Flo, dan Roy justru menertawakan kekesalan yang Yessynta sedang alami. Melihat ibu dari satu anak itu hampir menangis karena diacuhkan oleh putrinya sendiri, Roy membisikkan sesuatu pada Flo. Anak berusia lima tahun yang masih begitu menggemaskan itu menghampiri sang ibu ketika usai diberi bisikkan dari Roy. Dia peluk Synta dari belakang, dan mengelus perut ibunya. Kebiasaan memang, baby Flo senang sekali mengelus bagian tubuh Synta. Apalagi jika akan tertidur, kadar rewelnya masih sama layaknya anak bayi. "Ibu. Love you. Jangan marah, ya?" Oh, ya. Pastinya. Synta mana bisa marah pada putri kecil nan cantiknya? Jika marah karena tingkah agak susah diatur Flo, itu pun pasti cepat hilang karena tidak benar-benar marah. Menyudahi drama antara anak dan ibu tersebut, Roy mengajak sahabat-sahabat Amber itu untuk segera ke rumah sakit untuk menengok Amber yang mengeluh sakit perut. "Papa, nanti beli s**u, ya." Baby Flo yang selalu dapat jatah duduk di kursi depan. Bahkan Amber akan kalah saing dengan Flo. "Untuk apa, Flo?" timpal Roy. "Untuk baby G. Kata ibu, bayi harus minum s**u. Baby G juga harus minum s**u, Papa." Semua yang ada di mobil pun tertawa. Celoteh Flo memang mampu menetralkan suasana yang semestinya lelah, apalagi usai bekerja. Untungnya saja, Jenay memahami pola kerja yang Synta mau. Tidak ada pekerjaan yang full dari pagi hingga pagi lagi seperti pola kerja Synta dulu. Semenjak baby Flo juga semakin banyak mendapat tawaran, semua jadwal dibentuk asik oleh Jenay. Awalnya Synta pikir putrinya tidak akan mau, ternyata malah mengira sesi pemotretan, iklan, dan modelling adalah ajang bermain. Anak itu suka tampil di depan kamera. Sudah tercetak jelas bakatnya menjadi bintang, tapi Synta yang akan menuntun Flo agar tidak menjadi seperti dirinya dulu. Paling tidak, Flo harus mempunyai citra yang baik agar tidak dinilai sebelah mata nantinya. "Papa, papa, papaaaa..." Celotehan Flo terus menggema di dalam mobil, mengisi kekosongan dan menggantikan siaran radio dengan suara melengking nan menggemaskannya. Yessynta jadi memikirkan sesuatu. Bicara dinilai sebelah mata, dia jadi takut dengan ancaman Yongka. Dari email terakhir yang laki-laki itu kirimkan, Yongka sendiri yang akan datang. Synta berpikir keras, bagaimana caranya agar Flo tidak terpedaya oleh Yongka. Tuhan, bantu aku. * Wajah semringah Amber langsung didapati oleh Synta, Jenay, dan Roy. Kehadiran baby Flo adalah kebahagiaan bagi Amber. "Haiiiii, Baby Flo!" Flowers mendekati Amber, menaiki tangga mini yang disediakan hingga setara dengan wajah Amber. Putri dari Yessynta itu tidak berkata apa pun, hanya memandangi Amber dengan sorot mata sedih. Tangan mungilnya membantu peluh di wajah Amber untuk diusap habis. "Kok sedih, Sayang?" Synta mendekati putrinya, melihat apa yang terjadi hingga Amber menyebut kata sedih. "Baby Flo lapar?" Amber mencoba bertanya kembali. Yessynta tidak ikut bertanya, karena menyadari mood Flo akan semakin hancur jika terus ditanya-tanya dan tidak mau memberikan jawaban. "Mama... Flo nggak suka mama di sini." Bibir Flo mengkeriting siap menangis. Synta sungguh ingin tertawa. Sikap putrinya yang terlalu mencemaskan orang lain adalah salah satu bagian yang sangat Synta syukuri. "Kenapa? Mama nggak suka, deh baby Flo nangis." Beberapa tetes airmata Flo jatuh. Gadis mungil itu mencoba menahan agar tidak menangis dan membuat Amber tidak suka. "Flo... nggak suka lihat mama sakiiiiitt." Flo merangsek masuk dalam pelukan Amber. Kontraksinya memang terkadang terasa, tapi Flo membuat rasa kontraksi tersebut mereda. Semuanya terasa lebih ringan ketika Flo ada bersama mereka. "Hsssssttt. Jangan nangis, Baby. Mama nggak apa-apa. Jangan nangis anak manis," ucap Amber mencoba menenangkan Flo. Tidak ada yang memisahkan. Sebab mengerti, perhatian Flo ini bentuk rasa sayang yang luar biasa untuk Amber. Roy malah semakin jatuh cinta pada gadis mungil itu. Memang, melihat sekali tidak akan memberi kesan apa pun, tapi mengenal baby Flo yang menggemaskan pasti membuat siapa saja tidak mau berpisah dari anak itu. Roy memandang Synta sekilas dan kembali pada baby Flo. Dia membatin, betapa ruginya ayah sekaligus lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas Synta serta Flo, dengan tiada di sisi keduanya. "Jen. Kau tahu siapa ayah baby Flo?" iseng Roy bertanya dengan berbisik. "Jangan bertanya itu lagi. Aku akan sangat marah jika saja tahu siapa laki-laki s****n itu!" ketus Jenay. Roy menyandarkan punggungnya di sofa. "Hmmm. Sepertinya, laki-laki itu akan sangat sulit bersama Flo." "Tidak akan ada laki-laki yang berani menemui Flo! Jangankan menemui, mengakui gadis cantik itu saja tidak ada." "Kita semua tahu, bukan hanya Synta yang melindungi Flo. Jika sesuatu terjadi, aku sebagai papanya yang siap di posisi paling depan setelah Synta." "Itu di belakang, bodoh!" Roy mengangkat bahu tidak peduli pada protes Jenay. "Aku tetap menyebutnya paling depan." "Dasar sinting!" "HEH!! NGAPAIN LO NGATAIN SUAMI GUE SINTING!!" sambar Amber. Kedua laki-laki tersebut tidak menyadari jika Flo sudah reda tangisannya. "Suami lo emang sin––" "Sinting itu apa, sih?" Semuanya bungkam sekejap. Tidak ada yang mau mengambil risiko menjawab, tapi tiba-tiba saja Amber memekik kesakitan. Kontraksi hebat kembali terjadi. Roy dengan kepanikannya memanggil dokter. Semuanya siap. Amber akan melahirkan bayinya. Bayi yang lagi-lagi, harus lahir tanpa perkawinan orangtuanya. Ya, Roy dan Amber memang belum menikah. Sebagian besar adalah alasan klasik Amber yang takut untuk membina rumah tangga, karena masa lalu keluarga. "Ibu, baby G mau keluar?" tanya Flo. "Iya, Sayang." "Dulu aku juga begitu? Ibu kesakitan karena aku? Kayak mama Amber?" Synta memberikan senyuman. "Memang sakit, tapi bahagia karena kamu selucu ini, baby Flo." Dicubitnya pipi Flo. "Dulu, ayah juga nemenin ibu? Kayak papa Roy nemenin mama Amber nunggu baby G keluar?" * Pertanyaan dari baby Flo memang menjerumuskan Synta. Terdengar lucu sekali, sebab yang mempertanyakan kalimat itu adalah baby Flo. Coba saja, Jenay, Amber, atau bahkan Roy yang mencoba bertanya seperti itu... Synta tidak akan segan-segan menunjukkan sisi brutalnya. Mengelus rambut Flo penuh kasih sayang, dilihatnya manik gadis kecil itu dan mencari ketenangan sendiri agar tidak mengeluarkan kalimat j*****m yang bisa saja melukai baby Flo di masa depan. "Ayah... nggak pernah tahu kamu ada, baby. Kamu harus paham, bahwa hidup orang dewasa itu terlalu susah dijalani, juga dipahami." Synta menarik napas sejenak, sebelum melanjutkan. "Jangan membenci siapa pun, ya? Suatu saat kamu akan ngerti, bagimana hubungan ibu dan ayah kandung kamu, baby Flo." Namun, sepertinya ucapan penjelasan Synta terlalu rumit untuk baby Flo angguki. Bocah itu melihat ibunya dengan tampang melongo. Benar-benar tidak paham adalah kalimat yang bisa terlihat jelas dari ekspresi gadis kecil itu. Synta terkekeh, wajah putrinya begitu mampu menghipnotis siapa saja untuk merasa gemas, apalagi jika berinteraksi secara langsung... semua akan ikut terbawa untuk menyukai baby Flo. "Nggak pa-pa. Baby Flo nggak perlu cepat-cepat mengerti ucapan ibu yang itu, ya?" Sebuah anggukan kecil diberikan. Synta mengambil ponselnya, dan meminta tolong pada Jenay agar membawakan jaket milik Flo di mobil. "Bobo di sini atau mau pulang?" tanya Synta. "Aku mau nungguin adik, Ibu." Lihatlah. Betapa baby Flo menyayangi Amber dan Roy hingga membuatnya mau menunggui proses kelahiran pasangan itu. Walau sejujurnya, Synta tetap merasa menjadi pihak bersalah juga. Sebab, pemikiran Amber untuk tinggal bersama dengan Roy dan berhubungan layaknya suami istri tanpa ikatan adalah karena ada Synta yang menjadi contoh. Synta bisa membesarkan Flo tanpa harus ada status, dan meski tahu itu salah, Amber tetap mengikutinya. Dan akhirnya, Roy sempat tidak menyukai keberadaan Synta sebagai sahabat Amber. Karena kehadiran baby Flo yang menganggapnya seperti papa sendirilah semuanya mulai kembali cair. "Yaudah, kalau mau nungguin bobo di sini aja, ya. Ibu pesenin satu kamar buat kamu." * "Nitip, ya, Ber. Sorry, bukannya ikut bantuin jaga baby G, malah nambahin kerjaan." Disela-sela menyusui bayinya, Amber memaklumi wajah tidak enak Synta karena harus meninggalkan baby Flo di rumah sakit bersama Amber dan Roy. "Santai, Syn. Lagian, kasihan baby Flo kalau diforsir ikut lo kerja. Biarin aja dia istirahat di sini." Memberikan senyum pada Amber, lalu diliriknya Roy yang duduk di pinggir ranjang perawatan Amber. "Thank you, Roy. Sudah mau direpoti baby Flo." "Oh. It's okay." "Padahal laki lo pengen quality time sama baby G, ya. Malah nanti digangguin sama Flo." Kedua wanita itu tertawa, dan mendapat pandangan tidak suka dari Roy. "Aku tidak pernah paham kenapa kalian selalu berbisik menggunakan bahasa itu." Roy merajuk. Bahasa yang Roy pahami memang masih minim betul, meski sudah lima tahun berjalan. "Synta, udah?" suara Jenay. "Udah, Jen. Mobil udah siap, ya?" Diangguki oleh Jenay. Mereka berdua pamit untuk mengisi salah satu acara tanpa Flo. Itu bagian dari kesepakatan Jenay sebagai manajer yang mengurus Synta dan juga putrinya. Ditinggal oleh Synta dan Jenay, Roy mengecek baby Flo yang tidur membelakangi mereka. Dirasa baik-baik saja, tidak demam atau keluhan apa pun, Roy menggendong baby G. "Anak kita lucu sekali––" "Maaf. Nyonya dan Tuan, ada tamu yang ingin bertemu." Salah seorang perawat datang dan diizinkan oleh Roy dalam bahasa Jepang juga. Tak lama tamu yang disebut itu masuk. Wajah Amber dan Roy jelas kebingungan, mereka tidak merasa kenal pada pria yang wajahnya kental darah Indonesia sekali. "Kamu Amber? Temannya Yessynta?" "I–iya. Anda ini..." "Yongka," sebut pria itu. Amber langsung terbangun dari kebingungannya. "Oh! Kakaknya Yessynta. Maaf, saya baru sadar. Sudah lama sekali lagi pula. " "Tidak masalah. Saya ke sini mau mencari Syn––" "Papa...." Yongka terhenti. Jantungnya berdebar kencang ketika suara kecil itu menyebut kata... Papa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN