Kemungkinan besar perasaan resah Synta sekarang adalah karena meninggalkan Flo tanpa pengawasannya selama lebih dari delapan jam. Ya. Synta hampir tidak pernah meninggalkan Flo pada Amber dan Roy lebih dari jam kerja pegawai yang dia tahu. Rasa campur aduk yang tengah menaungi hatinya kini tidak juga bisa hilang, meski Synta sudah menelepon Amber dan menanyakan putrinya.
Keadaan Flo baik-baik saja, tidak merepotkan––seperti biasa, sangat aktif bertanya, dan senang karena memiliki teman baru yang membuatnya betah bersama Amber serta Roy.
"Ih! Kebiasaan, deh, lo. Nggak fokus kalau udah jam segini."
Bicara jam. Ini sudah sangat malam, bahkan sebentar lagi akan menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
"Pulang, yuk!" ajak Synta tiba-tiba.
"Hiiiih! Makin aneh aja, sih?! Kita, kan emang mau pulang." Jenay membetulkan rambut sebahunya, mengambil jepit rambut dan menguncir setengah.
Diliriknya Synta yang kentara sekali tidak fokus. "Kenapa, sih? Mikir apa lo?"
Synta menggeleng pelan. Tidak yakin dengan apa yang ingin dia jawab.
Jenay yang gemas langsung menepuk paha Synta guna membangunkan perempuan itu dari lamunannya.
"Stres lo makin tinggi, ya? Aneh banget hari ini," tegur Jenay.
Lagi-lagi Synta menggeleng lemah. Dia benar-benar ragu, entah apa yang melanda dirinya hingga aneh sekali, melakukan apa pun tidak bisa sinkron.
"Gue nggak ngerti aja, Jen. Rasanya... khawatir banget sama Flo."
"Khawatir kenapa? Anak lo yang pintar itu, kan aman sama mama papanya."
"Gue juga mikir gitu, tapi... nggak tau, deh, Jen. Ada yang salah sama gue kayaknya. Cemas banget sama baby Flo." Synta menekan kepalanya dengan kedua tangan. Dia pusing, karena tidak berhenti memikirkan Flo, padahal rindu pada anaknya itu biasanya tidak segila ini. Synta benar-benar ingin bertemu, memeluk, dan menjaga putrinya itu.
Menyadari mobil yang belum berrgerak sama sekali, Synta menyalak, "KAPAN PULANGNYA?!! MALAH BENGONG!"
"Iya, iya... judes amat, sih!"
Selama perjalanan untuk menjemput Flo di rumah sakit, perasaan Synta malah semakin tidak karuan.
Kenapa ini? Kenapa sama Flo anakku?
*
Begitu diizinkan masuk ke ruangan Amber, tidak ada yang Synta temui di sana. Hanya ada Amber yang terpejam dan bayinya di box dekat dengan Amber.
Niatnya Synta tidak mau mengganggu tidur Amber, tapi dia ingin tahu keberadaan putrinya yang tidak ada di kamar tersebut.
"Mana baby––"
Jenay membekap mulutnya yang sering sekali keceplosan. Tidak menyesuaikan jam sekali Si Jenay itu.
"Udah tahu jam malam!" tegur Synta dengan berbisik.
"Eh, Synta, Jenay... kok ke sini?" Amber mengusap wajahnya menyadari kedatangan kedua sahabatnya.
"Baby ucul mana, Ber?" Jenay mewakili.
"Baby ucul? Emangnya Roy nggak bilang nganterin Flo balik ke rumah langsung?"
Kerutan di dahi mereka semakin dalam jika saja Synta tidak segera memotong, "Oh. Roy udah bawa pulang? Nangis, ya?"
"Nggak, sih. Memang Flo aja yang mau pulang katanya. Apalagi ada teman baru dia," kata Amber.
"Teman baru?" Synta kebingungan. Begitu juga Jenay. Yang keduanya pikir, Roy adalah laki-laki yang begitu dianggap sebagai papa oleh Flo, juga bukan teman baru lagi. "Baby G-nya aja ada di sini, Ber."
Sungguh, Synta tidak mau mengira-ngira dengan perkiraannya sendiri. Di kepalanya ada nama yang sungguh tidak dia harapkan muncul dengan beraninya––
"Kan kakak lo dateng, Syn. Baby Flo seneng––"
"Synta!" panggil Jenay yang ikut bingung dengan sikap perempuan itu.
"Gue kejar Synta, ya. Sorry gue tinggalin. Nanti gue sampein ke Roy supaya cepet balik ke sini. Byeee!"
Amber sebenarnya tidak begitu memusingkan dirinya yang sendirian, melainkan sikap Synta yang begitu... aneh.
*
Debar jantung Synta semakin cepat seiring langkahnya semakin menjauh. Meskipun mendengar teriakan Jenay di belakang, dia tetap menulikan telinga. Bagian dalam dirinya mulai meyakini bahwa Yongka pasti siap menghancurkan hidupnya dengan datang kembali ke hidupnya.
"Flo... baby Flo...."
Bibir Synta tidak berhenti merapalkan nama itu. Nama anaknya yang sangat dia sayang serta cintai. Baby Flowers. Bayi yang dia nantikan, dan demi mendapatkannya Synta harus menurunkan harga diri untuk berpisah dari Yongka selamanya. Namun, jika begini jadinya....
"YESSYNTA!!!" teriak Jenay begitu bisa mendapatkan perempuan itu.
Tidak berkata apa-apa, Jenay yang sudah kesal akhirnya menarik kencang Synta untuk mengikutinya menuju parkiran. Tahu jika keadaan sahabatnya tidak bisa dikatakan baik, Jenay tidak meminta penjelasan apa pun, dia juga sudah lelah. Jadi, satu-satunya keputusan yang masuk akal menurut Jenay adalah mengantar Synta sampai ke rumah perempuan itu dengan selamat dan cepat.
Menggigiti kuku adalah salah satu contoh yang membuat Jenay sebal. Synta kalau sudah kebingungan dan stres jadi menyukai kebiasaan menggigit kuku yang jelas-jelas jorok. Begitu ada Flo, Synta tidak akan berani melakukannya. Sebab sama saja memberikan contoh yang tidak baik pada Flo.
"Gue capek kalau harus minta penjelasan dari lo terus, Syn. Jadi, nggak akan gue ganggu lo selama lo nggak mau cerita apa-apa."
Memang betul. Amber dan Jenay terlalu baik untuk menahan diri atas apa yang Synta lakukan selama ini. Menyembunyikan fakta siapa ayah kandung Flo, membuat Jenay dan Amber bertanya-tanya mengapa Synta seolah diuntit keluarganya sendiri dan tetap tidak mau pulang.
"Maaf, ya. Gue belum bisa cerita sekarang. Kalau sudah yakin, gue pasti bilang sama kalian yang sebenarnya."
Jenay mendecak. "Terserah lo, deh!"
Mobil pun melaju lancar karena kendaraan yang memang sepi malam itu.
*
Synta memang buru-buru untuk melihat keadaan Flo serta kebenaran apakah Yongka serius dengan gertakannya. Namun, dalam hati yang terdalam Synta takut menghadapi Yongka lagi.
"Om Yoyo suka permen? Candy? Sama kayak Flo?"
"Om nggak suka, baby Flo."
"Hmmm. Kok gitu?"
"Soalnya om sudah besar. Om nggak boleh kebanyakan makan yang manis-manis. Baby Flo saja yang maniiiiisss ini om punya––"
Suara samar-samar itu kini berhenti karena memandang kedatangan Synta yang malah merasakan lemas dan begitu pelan mendekati mereka. Betul. Mereka. Baby Flowers berada dipangkuan Yongka, sedangkan Roy menikmati sesi perbincangan itu dengan minuman serta camilan ringan di atas meja ruang tamu rumahnya.
Yongka terpaku. Sedangkan Flo langsung turun dan berlari merangsek masuk dalam pelukan Synta. "Ibuuuuu! Aku kangeeeeeennn bangeeeettt!" Senyuman cantik baby Flo tersungging, Synta tidak bisa tidak membalas senyuman itu.
Ya Tuhan. Yongka sudah menyentuh putrinya. Anaknya. Anak yang... entah diakui laki-laki itu atau tidak.
"Kamu nggak nakal, kan, Sayang?" tanya Synta.
Sebisa mungkin, Yessynta mengalihkan pandangan serta pembicaraan menuju Yongka. Meski dari sudut matanya dapat ia lihat seberapa tajamnya sorot yang laki-laki itu layangkan.
Gadis mungil itu menggeleng semangat. "Nggak, kok, Ibu. Aku jadi anak pintaaaaar sekaliiii!"
Roy menanggapinya dengan tawa.
"Roy, dicari Amber!" seru Jenay menggunakan bahasa Indonesia.
"Oh. Ya ampun! Amber, baby G. Kau tinggalkan mereka?!" tanya Roy panik.
"Udah sana! Berisik lo bule Jepun!" Lalu Jenay mengalihkan atensi. "Hai, kakaknya Synta. Sorry, ya nggak bisa kenalan lebih jauh. Saya harus pulang. Lelah habis job nemenin adik tersayangmu."
Synta berusaha menahan Jenay. "Nggak nginep sini aja, Jen? Udah malam."
"Nggak bisa. Gue besok ada tamu. Bye! Gue balik! Ttatta baby Flo...."
Kepergian Jenay malah membuat segalanya canggung.
"Ibu! Om Yoyo kasih aku bunga tadi."
Sekarang Synta berada di posisi paling menyedihkan.
*
Baby Flowers menguap lebar. Tentu saja menguap lebar, dini hari anak itu malah bangun dan memutuskan berbincang dengan Yongka dan Roy.
"Ayo, tidur!" Synta tidak mengeluarkan suara sama sekali selama Flo dan Yongka saling bertukar cerita.
Dia berdiri dengan cepat, membawa Baby Flowers menuju kamarnya yang memiliki pintu penghubung dengan kamar Synta. Anak itu tidak banyak membantah, bahkan saat akan digantikan pakaian oleh Synta, gadis mungil itu sudah memejamkan mata tidak tertolong lagi.
Synta hanya berharap Yongka tahu diri dengan pergi dari kediamannya dan tidak mencari masalah. Tubuhnya lelah, tapi dengan keberadaan Yongka disekitarannya, rasa lelah Synta tertumpuk tidak terlihat.
Dia memutuskan untuk ke kamar mandi, membasuh tubuh Flo lebih dulu dan menggantikannya baju tidur yang nyaman. Setelahnya, dia yang bersih-bersih. Synta memang teryakinkan untuk membasuh diri karena mendengar suara deru mobil yang keluar dari pelataran kecil rumahnya.
Synta tahu Yongka pasti enggan menunggu. Lagi pula, untuk apa dia menunggu Synta? Kedatangannya ke sini hanya untuk memikirkan cara mengambil Flo saja, kan?
Selesai dengan segala ritualnya, Synta sudah hampir berbaring, tapi tersadar di nakas belum ada air putih. Kebiasaannya jika sebelum tidur dan sebangun tidur.
Tersadar lampu ruang tengah belum mati, dia padamkan lebih dulu. Karena penerangan sudah didapat dari dapur.
Langkah pertama Synta memasuki wilayah dapur dia dikejutkan dengan berdirinya seorang lelaki. Tentu saja Yongka. Meski terkejut, Synta tidak ingin terlihat tidak siap dan tertekan berada di hadapan Yongka.
"Belum pergi ternyata," gumam Synta.
"Kenapa saya harus pergi, Synta? Kamu takut? Selama saya di sini, rencana yang sudah kamu buat hancur?"
Synta teguk segelas air putih yang dia tuang, lalu menuang kembali ketika sudah kosong.
"Itu yang dilakukan oleh kamu? Yessynta? Memelihara anak––"
"Tolong jaga bicara kamu, Ka! Baby Flowers bukan peliharaan. Dia anakku. Darah dagingku!" tekan Synta kesal.
Lelaki itu santai saja menanggapi. Wajahnya berpendar cahaya kuning dari lampu dapur.
"Kalau hasil tes-nya segera keluar, maka kamu nggak akan aman, Syn."
Rahang Yongka mengeras, itu pertanda ada yang tidak baik sedang mengelilingi Synta.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Yongka terkekeh. "Saya baru sadar, kamu bisa lebih sopan. Gaya bicaramu berubah, heh? Takut baby Flo meniru... atau kamu bertaubat...?"
"Terserah kamu beranggapan apa. Aku nggak peduli! Apa pun yang kamu lakukan, nggak akan pernah mampu mengancam aku. Tes apa pun yang kamu lakuin, itu hanya akan menyakiti kamu dan Flo kalau sampai kamu gegabah mengumumkannya. Ingat baik-baik, Ka. Reputasi kamu dan keluargamu nggak akan pernah sama lagi kalau kamu gegabah."
Yongka yang bisa membaca arah pembicaraan tersebut merasa semakin meradang. Dia dorong tubuh Synta hingga membentur kulkas serta gelas dalam genggaman Synta jatuh terpecah. Pekikan perempuan itu tertahan dengan gerakan cepat kuluman keras Yongka.
Synta kaku. Memang tidak memberontak banyak, dia tidak mau gerakan berisik malah memicu Flo terbangun karena terusik.
Ini, kan yang kamu mau, Ka. Ini yang kamu cari dariku... merendahkanku.
"s****n sekali kamu, Syn. Beraninya kamu memanfaatkan saya untuk melahirkan Flo! Picik sekali kamu, Yessynta!" geram Yongka.
Orang awam pun pasti tahu, ketika Flo berada di satu ruangan yang sama, kemiripan itu tidak terbantahkan. Mungkin orang-orang itu akan berpikir bahwa rekanan status kakak adik adalah pemicu kenapa Flo mirip dengan Yongka, tapi lelaki itu tidak bebal menyadari bahwa lahirnya Flo adalah rencana dari Synta.
Synta tidak akan menangis. Setidaknya bukan dihadapan Yongka.
"Flowers... bukan anak b******n seperti kamu––ekhhh."
Yessynta kesulitan bernapas karena cengkeraman Yongka di lehernya. Yongka benar-benar tega mencekiknya.
"Jangan berani kamu mengumpati saya, Jalang!"
"Lep––aaasss...!" berontak Synta.
Yongka sedikit menambah cengkeramannya, lalu membiarkan Synta terbatuk-batuk akibat ulahnya.
"Jangan harap kamu tenang setelah ini, Synta. Flo tidak akan mau lepas dari saya, dan hal itu akan membuat kamu menyesal!"
Synta dengan berani menyeringai pada Yongka. "Kita lihat, Ka. Penyesalan itu sejatinya milik siapa!"
*
Kekuatan Synta tidak sehebat itu. Betul. Dia hanya manusia yang sulit untuk beradaptasi dengan yang namanya cinta. Seolah, pengalaman pertamanya bersama Yongka adalah kartu mati cintanya. Dia yakin, Yongka membencinya karena alasan yang sama seperti keluarganya. Dia terlahir dari seorang wanita yang sudah tega memporak-porandakan keluarga Tedjoekusuma.
Synta terlahir dipergunakan untuk memeras keluarga Tedjoekusuma, tapi bodohnya mereka malah menghakimi Synta. Kebencian dari keluarga itu malah membuatnya mengeraskan hati untuk tidak terlihat seperti perempuan baik-baik. Dia menjelma menjadi sosok yang selama ini digadang-gadang oleh Armando dan keluarganya.
Sekarang. Bukan hanya demi dirinya lagi. Melainkan Flo. Dia akan menjadi sangat kuat, walau dalam dirinya sakit, untuk melindungi Baby Flowers.
"Ibuuu...." panggil Flo dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Kenapa, Sayang?"
Bibir monyong Flo terlihat begitu menggemaskan. Apalagi, ditambahi dengan kerut di wajah bocah itu bekas tertidur.
"Aku nggak dibangunin sekolah, Ibu?"
Yessynta bergerak cepat menuju putrinya yang duduk santai di kursi makan dengan gurat masih belum puas tidur. "Jangan dikucek gitu, baby Flo!" peringatan keras agar gadis mungil itu paham dan tidak mengulanginya lagi.
Sigap, Flo menuruti larangan ibunya. Mengerjap cepat dia memandang Synta. Ekspresi Flo berubah, tidak sama seperti sebelumnya. Dia mengernyit seakan memiliki banyak stres beban pikiran.
"Leher ibu kenapa itu?"
Yang ditanya, tergagap dengan mode mengalihkan pandangan.
"Hm? Kenapa?" pura-pura tidak tahu adalah penyamaran paling oke untuk Synta lakukan.
"Itu, tuh! Leher ibu biru," ucap Flo menjelaskan.
Bocah itu sedapatnya saja mengucapkan apa yang ada dipikirannya. Bahkan warna samar di leher Synta, yang tidak begitu perempuan itu pusingkan saja, Flo menyadarinya.
"Nggak apa-apa, ah! Ayo, sarapan." Synta meletakkan hidangan di masing-masing piring yang sudah dia tata untuk sarapan pagi ini.
Tak suka diperpanjang perdebatan antara ibu dan anak itu, Flo cemberut. Dia-pun bisa sama tak terimanya karena sang ibu terlalu memikirkan diri sendiri. Padahal, Synta selalu mengatakan pada Flo agar tidak menyembunyikan apa pun darinya.
Jadi, sekarang salah siapa?
"Ayo, dong, dimakan. Jangan malah cemberut gitu, Flo."
Synta lebih dulu menyendokkan masakannya ke mulut, dia biarkan rajukan sang putri.
"Aku nggak mau makan kalau nggak ada Om Yoyo!" ucap Flo dengan kuat.
Synta tersedak hingga rasanya hidung, pangkal hidung, mata, dan tenggorokannya terasa sangat perih. Tidak dia sangka, putrinya yang begitu lembut dan menggemaskan, tiba-tiba saja menghempaskan kalimat yang jelas Synta benci.
"Flo... kamu... ngomong apa?"
"Aku mau makan kalau ada om Yoyo!"
"Om Yoyo itu siapa?" Synta sengaja bertanya. Dia ingin tahu sampai mana tingkat keakraban anaknya dengan Yongka.
"Om aku!"
"Om?"
Flo mengangguk. "Kata papa, om Yoyo itu om aku. Mama, kan adiknya om Yoyo, kan?"
Synta jelas tidak menyukai situasi ini. Gila! Dia benar-benar sudah gila kalau sampai menimpali Baby Flo dengan nada kecam dan mengungkap fakta bahwa Yongka tidak patut dibanggakan. Namun, Synta kembali berpikir, dia tidak boleh seegois itu. Flo tidak boleh tumbuh dengan perkembangan mental yang sama dengan dirinya. Biarkan baby Flo menyayangi Yongka sebagai pamannya. Di sisi lain itu, dia tidak perlu membahas Yongka sebagai ayah kandung baby Flo.
"Kamu senang sama Om Yoyo?"
"Senang!"
"Suka dia nemenin kamu?"
"Suka!"
"Mau makan kalau ada om Yoyo?"
"Mau!"
"Tapi sayangnya om Yoyo kamu itu nggak ada di sini. Kalau kamu mau kelaparan, ibu nggak peduli."
'Ting tong'
Synta berhenti menggerakan tangannya karena bunyi bel rumahnya bertepatan dengan posisi tangannya yang siap menyuap.
"Siapa, Ibu?" tanya Flo antusias. "Pasti om Yoyo!" lanjutnya tanpa peduli siapa yang datang.
Flo segera turun dari kursi dan berlari menuju pintu. Synta mengikuti dan mengatakan bahwa yang datang pasti Jenay kalau tidak Roy, tapi Flo tidak peduli, dia optimis bertemu om Yoyo-nya.
"Nggak ada om yo––"
"Hai, baby Flo."
Synta bungkam.
"Om Yoyo!!!"
Is it possible to meet him now?
*
Rasanya seperti kekuatan magis. Synta tidak berpikir sejauh ini. Bagaimana bisa, kebetulan layaknya drama televisi terjadi padanya? Putri kecilnya hanya menyebut, sama sekali tidak menyinggung bahwa Yongka akan datang pagi ini. Sepertinya memang ikatan keduanya mulai berkembang pesat.
"Mau apa kam––" Synta menghentikan ucapannya sendiri. Dia lupa, bahwa ada Flo yang akan menuntut jawaban jika dia ketus pada om Yoyo-nya Flowers itu.
Menarik napas perlahan, Synta akhirnya bertanya dengan nada normal. "Kok pagi-pagi gini udah datang, Kak?"
Kakak? Yongka tidak terlalu memedulikan itu, tapi dia merasa sangat aneh saat gendang telinga diraba oleh bunyi suara manusia memanggilnya kakak, dan itu keluar dari mulut Synta.
Dari banyaknya kemungkinan, tidak ada yang bisa menentukan keputusan akhir. Synta memikirkan hal itu saja, tidak perlu repot lagi memikirkan kemungkinan Yongka akan mencekiknya kembali dengan mengajak laki-laki itu berkelahi. Jadi, cukup bayangkan saja jika sekarang yang Synta hadapi adalah kakaknya. Tidak perlu memikirkan sisi fakta lainnya yang hanya membuat pening kepala.
"Baby Flo sudah makan, Sayang?" Yongka tidak membalas pertanyaan Synta.
Pria itu jelas menunjukkan keengganannya bicara banyak pada Synta. Sudah biasa sebetulnya, tanpa harus dipikirkan, toh Synta juga tahu bahwa Yongka memang tidak menghargainya dalam sisi manapun.
"Belum, Om Yoyo. Flo mau makan kalau ada om. Yuk, ikut makan, Om."
"Ibu cuma bikin porsi sedikit, loh, Flo. Om Yoyo kamu ini mau dikasih makan apa?"
Flo memajukan bibirnya, lagi-lagi merajuk karena ucapan ibunya yang seolah tidak suka dengan kehadiran Om Yoyo-nya. Walau sebenarnya, pikiran polos Baby Flowers itu benar adanya, bocah itu juga tidak akan mengerti.
"Ibu, kok gitu, sih ngomongnya? Om Yoyo aku, kan kakaknya Ibu!"
Hah! Synta ingin tertawa sarkas rasanya. Ternyata muak juga menghadapi situasi penuh kebohongan seperti ini. Sayangnya, Synta baru merasakannya sekarang ini, disaat ada baby Flo yang mulai mengikatkan diri pada Yongka.
"Ibu memang cuma masak untuk kita berdua, Flo. Bukan maksud ibu ngomong begitu seperti yang kamu sebutkan. Ibu tahu kalau Om Yoyo kamu itu kakaknya ibu, tapi menu sarapan kita berdua terbatas, baby."
Flo bukan tipikal anak yang keras kepala tinggi. Tidak adanya sosok ayah kandung bukan menjadi alasan untuk begitu keras. Didikan Synta memang berhasil pada gadis mungil bermata biru itu.
Memandang bersalah pada Yongka, si kecil berusaha mengamit telapak tangan Yongka dan mengucapkan permintaan maaf.
Begitu melihat manik serta wajah pelas Flo, Yongka tidak menyangka akan mendapatkannya. Lelaki itu berjongkok, dia sejajarkan pandangan dengan Flo. Usap lembut dari jemarinya untuk surai lebat Flo mengiris hati Synta.
Beraninya dia bersikap seperti layak untuk Baby Flowers. Gerutu, makian, u*****n, dan teriakan keras hanya dapat Synta wujudkan dalam bungkamnya. Gemuruh panas nan menyakitkan itu tidak bisa dia luapkan. Apa pun yang tidak diluapkan, sudah pasti sesak ketika terpendam, dan inilah––lagi-lagi––konsekuensi yang harus Synta terima serta nikmati.
"Nggak apa-apa, baby. Om Yoyo lebih suka makan di luar, kok. Nggak masalah nggak bisa makan di sini. Oke?"
Bibir Flo mengkriting. Mata yang biasanya penuh binar itu kandas terganti dengan rasa sedih yang pekat.
"Huhuhuhu... Om Yoyo makan sama Flo! Harus makan sama Flo!"
Tangisan Flo dibarengi dengan merangseknya gadis itu pada Yongka.
Hangat.
Alasan itu juga yang mendasari, bahwa Yongka sepertinya tidak akan bisa melepas baby Flo dalam hidupnya setelah ini.