Sebuah Kebetulan

1350 Kata
Sudah 1 minggu Tasya melahirkan. Ibunya pun sudah pulang kemarin Sore. Farel belum bekerja lagi dikarenakan Dafa melarangnya semata-mata agar menemani Tasya dulu. Namun, pria yang merupakan bos sekaligus sahabatnya itu tetap menggajinya setiap minggu. Nadira yang menumpang pada kakaknya pun ikut andil dalam pekerjaan rumah. Wanita yang berprofesi sebagai model itu tak keberatan saat membersihkan apartemen. Bahkan, ia sudah beberapa kali membantu Tasya memandikan bayinya karena Tasya sendiri belum berani dan justru Nadira yang berani memandikan keponakannya itu. Bukan hanya soal membersihkan rumah, Nadira juga kerap ikut memasak bersama ibu Tasya. Melihat bahan-bahan makanan serta bumbu wajib yang selalu ada di dapur habis, Nadira tak berpikir panjang untuk berbelanja di supermarket terdekat. Nadira tak pernah melakukannya, tetapi hari ini ia terpaksa harus keluar dari apartemen sendiran karena Farel sedang tertidur. Sebagai seorang wanita, Nadira harus bisa berbelanja sendiri. Selain ia juga mandiri dan tak manja, ia juga ingin merawat kakak iparnya disaat seperti ini, disaat wanita itu tak dapat melakukan banyak hal karena harus menjaga bayi. Tak butuh waktu banyak, Nadira sudah siap untuk pergi dengan pakaian sederhana seperti kaos polos berwarna putih dan jeans yang sedikit urakan alias sedikit robek di bagian lututnya. “Mau ke mana?” tanya Tasya saat keluar dari kamarnya dan melihat Nadira yang sedang memakai sepatunya. “Supermarket. Udah pada abis 'kan bahan-bahan di dapur? Udah gak ada apa-apa,” jawab Nadira seadanya. “Lo bisa belanja? Gak usah deh. Biar Gara aja.” Tasya tak yakin jika Nadira bisa berbelanja seorang diri. Bukan hanya itu, rasa-rasanya tak pantas Nadira pergi seorang diri. Mengingat adik iparnya itu seorang model yang cukup terkenal di Australia, wajah cantiknya seolah tak pantas jika harus membawa kantong-kantong besar berisi bahan masakan. “Gue cewek, Kak. Masa belanja aja gak bisa.” Nadira tak merasa keberatan melakukan itu. “Yakin?” Tasya ingin memastikan lagi dan Nadira mengangguk satu kali. Tasya masuk ke kamarnya, membawa dompetnya yang berada di dalam lemari, kemudian kembali menghampiri Nadira yang saat itu sudah berjalan ke arah pintu utama. “Dek? Lo bawa nih.” Tasya menghentikan langkah Nadira dan menyodorkan kartu debitnya kepada sang adik ipar. “Ck! Gue masih ada simpanan kok.” Nadira tak berniat untuk mengambil kartu tersebut dan memutuskan untuk memutar badannya hendak melanjutkan langkahnya. “Udah deh. Tinggal pake aja. Lo 'kan gak kerja, Dek. Irit-irit kalo punya duit,” cegah Tasya sambil memberi nasehat. “Kalo duit gue abis, ya tinggal balik ke Australia,” celetuk Nadira seenaknya. “Jangan mulai deh. Gue lagi males berantem,” ketus Tasya tetap memaksa Nadira untuk menerima kartu darinya. “Siapa juga yang ngajakin berantem? Mau titip apa nih? Gue mau berangkat sekarang.” Terpaksa Nadira mengambil kartu yang diberikan Tasya karena tak ingin berlama lagi. “Banyak beli buah-buahan aja.” “Oke, siap.” Nadira manggut-manggut. Dikarenakan tidak memiliki kendaraan, Nadira memutuskan untuk memesan ojek online di ponselnya. Tasya sudah memintanya untuk memakai mobil Farel saja untuk berbelanja, akan tetapi Nadira sedang tak ingin mengendarai mobil dan lebih memilih untuk memesan ojek online. Hanya menunggu sekitar 5 menit, ojek online pun datang. Di tengah perjalanan, sebuah kecelakaan terjadi tepat di hadapan motor yang ditumpangi Nadira saat motor itu berhenti di lampu merah. Seorang pemuda yang mengendarai motor besar, menabrak sebuah mobil yang hendak berbelok. Pemuda itu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi dan ia terpental cukup jauh setelah motornya menabrak mobil. Tampak semua orang berhamburan memeriksa keadaan pemuda itu, termasuk Nadira yang juga penasaran. Ia berlari kecil meninggalkan ojek online-nya dan mendekati tempat dimana pemuda itu tergeletak. Seseorang membukakan helm yang dipakai pemuda itu guna mengetahui kondisinya. Seketika Nadira mengingat sesuatu, ia pernah bertemu dengan pria itu. Nadira terus berusaha mengingat siapa pemuda itu. Sepermenit ia baru sadar bahwa ia pernah bertemu dengan pemuda itu di rumah Mega. Adik Dafa dan Aditya? Ya, Nadira baru ingat bahwa pemuda itu adalah putra bungsu Mega. “Ya ampun. Pak, tolong bawa ke rumah sakit sekarang juga!” teriak Nadira histeris. “Iya, Mbak,” jawab salah satu pria yang juga sedang memeriksa keadaan pemuda itu. “berhentiin satu mobil. Minta bantuan,” sambung pria itu meminta orang lain untuk mencari bantuan berupa mobil yang bersedia mengantarkan pemuda itu ke rumah sakit. Tak lama dari itu, salah satu mobil yang diminta bantuan mau membantunya. Orang-orang segera mengangkat tubuh pemuda itu untuk mereka masukkan ke dalam mobil. “Saya ikut ke rumah sakit. Kebetulan saya tau keluarganya,” ujar Nadira di tengah langkah orang-orang yang sedang menggotong tubuh pemuda itu. “Oh, iya bagus kalau begitu. Mbak ikut aja,” sahut salah satu pria. Nadira segera ikut masuk ke dalam mobil setelah membayar ojeknya terlebih dahulu. Pemuda itu tak sadarkan diri membuat Nadira sangat cemas. Tampak ia mengalami luka-luka di beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian kaki yang terlihat jelas hingga celana jeans yang dipakainya robek di bagian lutut. Di tengah perjalanan, pemuda itu sadarkan diri. Ia menatap Nadira yang berada di sampingnya, bahkan bahunya ia jadikan sandaran saat itu. Pemuda itu ingat dengan wajah Nadira. Yang ia ingat Nadira adalah kekasih Dafa seperti yang Dafa kenalkan saat di pesta ulang tahun Mega di rumahnya. “Kak, tolong hubungi Bunda, Bang Dafa atau Bang Adit,” ujar pemuda itu dengan nada lemah. “Gak punya nomornya,” jawab Nadira tanpa berpikir. “Lah? Kakak pacaran sama Bang Dafa main surat-suratan gitu?” Pemuda itu jelas bingung. Baru setelah itu, Nadira teringat akan sandiwaranya yang pernah ia lakukan dengan Dafa. Bingung untuk menjawab, lagi-lagi Nadira menjawab asal, “Ma—maksudnya … hp punyaku lagi di service.” “Di service?” Pemuda itu semakin bingung. “Bang Dafa pelit emang? Kenapa gak beliin yang baru?” protesnya tak mengerti. Bukan rahasia lagi bahwa Dafa dikenal banyak orang karena kesuksesannya di usia muda. Untuk membelikan kekasihnya sebuah ponsel baru harusnya bukan hal yang sulit, bukan? Nadira diam, takut salah bicara lagi. Pemuda itu juga tampak tak ingin melanjutkan lagi pembicaraan tentang sebuah nomor yang tak dimiliki Nadira. “Kakak telepon Bunda aja, bilang aku kecelakaan.” Pria berusia 17 tahun yang terlihat modis itu menyodorkan ponselnya kepada Nadira Nadira menatap pemuda itu dan ponselnya dengan konyol. “Kenapa gak kamu aja yang telepon? 'Kan bisa ngomong,” desisnya tak mengerti. “Biar elegan kecelakaanya, Kak. Masa yang kecelakaannya yang telepon.” Pemuda tersenyum malu, tetap menyodorkan ponselnya kepada Nadira. Namun saat itu, mobil yang mereka tumpangi berhenti. Mereka sudah sampai di rumah sakit. Pemilik mobil tersebut segera keluar dari mobilnya, lalu membuka pintu bagian belakang berniat untuk membawa pemuda itu ke dalam rumah sakit. Nadira segera ikut turun dan meminta bantuan seseorang untuk membawakan brankar. Beberapa perawat bergegas memeriksa pemuda itu setelah ia masuk ke dalam ruangan UGD. Ponsel pemuda itu ada di tangan Nadira, tentu ia segera menghubungi Mega sesuai yang diinginkan pemuda yang tak Nadira ketahui namanya. “Assalamu'alaikum, Ibu Mega?” Nadira memberikan salam. “Ini siapa?” Bukannya menjawab salam, Mega malah bingung saat mendengar suara wanita yang menghubunginya menggunakan nomor putra bungsunya. “Saya Nadira. Anak Ibu mengalami kecelakaan,” jawab Nadira ragu-ragu. “Apa?! Randy? Kenapa Randy? Di mana dia sekarang?” pekik Mega mencecari pertanyaan. “Rumah sakit—” “Rumah sakit mana? Biar saya ke sana sekarang juga,” sela Mega yang terdengar sangat khawatir dan tak sabar mengetahui keberadaan putranya. Nadira dengan cepat menjawab, “Sejahtera Abadi, Bu.” “Tunggu … apa kamu Nadira pacarnya Dafa? Kok bisa sama Randy?” tebak Mega terdengar tak tenang. “Em ... Itu .... ” Demi apapun, Nadira sangat gugup untuk menjawab. “Nanti saja ceritanya. Sekarang saya mau siap-siap. Tolong kamu jagain Randy sampai saya datang, ya? Bisa?” pinta Mega sekaligus memohon. “Boleh, Bu. Saya tunggu.” Tak ada pilihan, Nadira tak mungkin meninggalkan pemuda yang baru saja Nadira ketahui bernama Randy. Belum lagi Mega memberi amanat agar tetap di rumah sakit hingga dirinya datang. Tapi tunggu! Mega menanyakan tentang dirinya yang ia sebut kekasih Dafa? Apakah pria itu tak memberitahu yang sebenarnya? Bahwa ia hanya bersandiwara dan memaksa Nadira untuk ikut ke dalam sandiwaranya sebagai pasangan kekasih. Batin Nadira curiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN