Memasuki ruangan yang ditempati Randy, Mega bergegas mendekati putranya itu dan melupakan Nadira yang juga ada di dalam sana, “Randy, apa yang terluka? Di mana yang sakit? Bilang sama Bunda!”
Nadira yang saat itu sedang duduk, segera berdiri. Tersirat wanita yang baru saja datang itu sangat khawatir kepada putra bungsunya yang sangat ia manja. Seketika hati Nadira tersentuh. Saat melihat mimik Mega yang mencemaskan anaknya, ia mengingat ibunya yang telah tiada dan tentu Nadira sangat merindukan sosok ibu di dalam hidupnya.
“Aku gak kenapa-kepana, Bun. Cuma tangan aja,” jawab Randy dengan tenangnya.
“Selamat Sore.” Seorang Dokter tiba-tiba saja masuk setelah mendengar kegaduhan dari suara Mega yang sedikit berteriak menanyakan keadaan Randy.
“Sore Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Mega seraya berjalan mendekati Dokter tersebut.
“Anak Ibu baik-baik saja, hanya luka-luka ringan, tidak ada luka dalam. Tetapi jika ada yang dikeluhkan, tolong beritahu kami secepatnya agar langsung kami tangani,” ungkap Dokter itu dengan sopan.
“Syukurlah.” Mega menghembuskan napasnya dengan lega.
“Kami sudah berikan resep obat untuk dibeli. Kami permisi.” Dokter itu mengangguk hormat sambil tersenyum kecil.
“Terima kasih, Dok.” Mega ikut mengangguk menghormati Dokter itu yang diikuti Nadira memberi senyuman tanda hormatnya kepada Dokter itu.
“Saya juga pamit pulang, Bu. Semoga Randy baik-baik saja,” ucap Nadira tak ingin berlama-lama lagi di sana.
“Tunggu, saya belum mengatakan terima kasih,” cegah Mega tak memberi izin Nadira untuk pulang.
“Tadi Ibu sudah mengatakannya di telepon.” Nadira mengingatkan.
“Temani saya sebentar saja. Kita belum mengenal banyak, 'kan? Lagipula, Dafa sama Adit mau menyusul ke sini,” pinta Mega tersenyum manis, berharap ‘kekasih putra sulungnya’ mau menemaninya dan menunggu kedatangan kedua putranya.
Namun, Nadira malah ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Dafa? Aditya? Mereka akan datang? Apa yang harus Nadira lakukan? Monolog Nadira dalam hati.
“Oh ... ta—tapi—”
“Terima kasih sudah membantu, Kak,” kata Randy kepada Nadira. Khawatir wanita itu akan pergi sebelum ia mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya bahkan menemaninya.
“Tidak masalah,” balas Nadira menatap Randy, lalu kembali menatap Mega. “tapi saya harus pulang. Kak Tasya pasti sudah menunggu. Saya mau belanja kebutuhan dapur di supermarket,” ujar Nadira kekeh ingin cepat pulang.
Bayangan Aditya begitu membuat hatinya benar-benar merasa tak karuan. Ditambah Dafa juga akan menyusul. Pria yang belum Nadira ketahui, apakah ia sudah menjelaskan sandiwaranya kepada keluarganya atau belum.
“Kalau begitu, kamu tunggu sebentar lagi. Dafa pasti segera sampai, biar nanti dibantu belanja sama orang-orangnya,” tutur Mega menasehati.
Yang dinasehati justru ogah-ogahan bertemu dengan Dafa apalagi Aditya. Namun, Mega mengisyaratkan agar Nadira ikut duduk dengannya yang sedang berjalan ke arah sofa di ruangan tersebut.
Firasat Nadira semakin kacau, ia takut Mega mempertanyakan hubungannya dengan Dafa. Demi menghormati Mega, Nadira berjalan mendekatinya lalu ikut duduk di sampingnya. Beberapa kali ia menahan gugup yang sebenarnya sudah ia perlihatkan sejak tadi. Mega tak menaruh curiga, hanya saja ia merasa aneh melihat gelagat Nadira. Mungkin karena wanita itu bertemu dengannya tanpa adanya Dafa, sehingga wanita itu terlihat gugup. Pikir Mega.
“Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Dafa?” tanya Mega.
Akhirnya, ia dapat mempertanyakan itu setelah ia menahannya saat pertama kali bertemu dengan Nadira. Pasalnya, Dafa tak pernah membawa atau memperkenalkan wanita manapun setelah tunangannya meninggal.
Tuh kan?! Nadira semakin kikuk mendengar pertanyaan yang ia cemaskan. Belum sempat menjawab apapun, seseorang membuka pintu ruangan tersebut.
“Assalamu'alaikum,” ucap Dafa sambil membuka pintu.
“Wa'alaikumsalam,” balas Mega. Sedangkan Nadira hanya diam, pikirannya begitu rumit membayangkan apa yang akan terjadi padanya saat ini.
“Nadira?” Dafa terheran-heran melihat Nadira bersama ibunya.
“Dafa, coba lihat adik kamu!” seru Mega yang sudah berdiri, lalu mendekati Randy yang sedang berbaring lemah tanpa menghiraukan kebingungan Dafa perihal Nadira.
“Bunda gak perlu panik. Anak itu sudah terbiasa,” jawab Dafa enteng. Wajahnya terlihat biasa saja seolah kecelakaan yang dialami Randy itu hal yang biasa.
“Dafa!” Mega memperingati dengan raut kesal.
Baik Dafa ataupun Aditya, mereka sudah bosan mendengar kabar Randy kecelakaan. Adik bungsunya itu ingin menjadi seorang pembalap motor, tak heran jika ia akan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Sering kali pria itu mengalami kecelakaan ringan. Anehnya, Randy tak pernah jera. Ia akan tetap mengendarai motornya dengan cepat, seperti sudah terbiasa akan hal itu.
“Saya permisi pulang, Bu.” Akhirnya kata-kata itu terucap lagi dari bibir Nadira yang sempat kelu.
“Kita belum banyak bicara, Nadira. Sebaiknya kamu disini, temani Bunda, Ya?” pinta Mega lemah lembut. Ia memang ingin mengenal banyak dengan wanita-wanita yang memiliki hubungan dengan anak-anaknya.
“Ma—maaf, tapi Kak Tasya sudah menunggu Bu. Saya mau belanja kebutuhan dapur,” tolak Nadira susah payah.
Sebenarnya ia tak kuasa melihat aura lembut yang dipancarkan Mega, akan tetapi ia tak dapat membuat dirinya nyaman dengan kehadiran Dafa dan Aditya di sana.
“Kalau begitu, biar orang-orang Dafa yang membantu. Setelah itu, kamu ke sini lagi.” Mega memberikan keputusan akhir dan sungguh ia tak ingin Nadira membantah keinginannya.
“Tidak perlu, Bu. Saya—” Nadira tetap ingin menolak, tetapi kali ini Mega seperti kehabisan kesabarannya.
“Dafa? Apa kamu gak denger? Pacar kamu ini yang gak mau kenal Bunda, bukan Bunda yang gak mau kenal dirinya. Lantas bagaimana Bunda mau merestui kalian?” cecar Mega dengan nada kesal kepada Dafa.
Mega seakan-akan sedang mengadu bahwa Nadira lah yang sulit untuk diajak bicara dan bukan dirinya. Mengingat kejadian itu, dimana saat Nadira merasa enggan kepada Mega di pesta ulang tahunnya. Ia hanya tidak tahu bahwa Nadira terpaksa bersandiwara sebagai kekasih Dafa, dan hari ini Nadira dibuat bingung dengan keadaannya.
Sekian detik hening, Mega membuang pandangannya ke arah lain sementara Dafa menatap Nadira dengan raut bingung. Tidak dengan Aditya yang memilih bungkam sejak ia datang, hatinya mendadak kosong dan bibirnya terasa kelu ketika melihat Nadira ada di ruangan Randy bersama ibunya.
“Aku akan mengantarnya dan aku sendiri yang akan membawanya kembali ke sini,” jawab Dafa tak peduli dengan respon Nadira nantinya.
“Bagus. Bunda udah kenal Nana sangat dekat dan hari ini Bunda mau banyak bicara sama Nadira.” Mega akhirnya dapat tersenyum ke arah Nadira dan mengusap dagunya dengan lembut.
Nadira hanya diam, meski ia ingin sekali mengutuk Dafa yang memutuskan sesuatu tanpa persetujuan dirinya. Nana yang dimaksud Mega adalah kekasih Aditya, Shahnaz. Wanita itu sering datang ke rumahnya sehingga Mega sudah mengenalnya sangat dekat.
“Tentu. Kami permisi.” Dafa mengangguk patuh atas permintaan sang ibu. Ia lalu menggenggam tangan Nadira, kemudian menyeretnya keluar dari ruangan tersebut.
“Pak, tidak perlu. Saya bisa sendiri.” Nadira melepaskan genggaman Dafa setelah cukup jauh dari ruangan tadi.
“Kamu ... bilang soal hubungan kita?” tanya Dafa penasaran. Sepertinya wanita itu tidak mengatakan apapun kepada Mega, akan tetapi Dafa ingin memastikannya.
“Maaf, hubungan apa yang Bapak maksud? Jangan bilang Pak Dafa belum memberitahu yang sebenarnya?!” tembak Nadira menatap intens mata Dafa.
“Nadira—” Dafa menghembuskan napas berat seraya menggeleng pelan.
“Belum? Seriously? Kalau gitu, biar saya aja.” Nadira hendak kembali masuk ke ruangan Randy dan ia akan menjelaskan tentang sandiwaranya yang dipaksa oleh Dafa.
Sungguh, ia merasa tak nyaman ketika Mega memperlakukannya sebagai kekasih Dafa. Namun saat Nadira melangkah untuk kembali ke ruangan tadi, dengan cepat Dafa mencekal lengannya sehingga wanita itu berhenti melangkah dan menatap Dafa bingung.
“Jangan menantang saya di sini, Nadira,” ancam Dafa mendekatkan wajahnya ke wajah Nadira.
“Apa itu sebuah ancaman? Saya yakin, Anda masih memiliki sisa otak yang masih sehat.” Nadira tersenyum miring, tak percaya dengan ancaman Dafa. Ia yakin, pria itu hanya menggertaknya.
“Jangan uji kesabaran saya,” ulang Dafa memperingati.
“Kenapa? Saya hanya mau keluarga Pak—” Belum selesai bicara, suara Nadira terhenti saat Dafa menyumpal mulutnya dengan bibirnya.
Suasana di koridor itu sedang sepi. Mendengar ocehan Nadira membuat Dafa tertantang untuk melakukan itu. Nadira mengerang, ia benar-benar tak habis pikir Dafa akan melakukannya. Ia ingin sekali melepaskan ciuman itu, tetapi Dafa mendekap tubuhnya dan melingkari pinggangnya seolah pengunci pergerakan Nadira. Sementara tangan Dafa yang satunya, mengunci pergelangan tangan Nadira sehingga wanita itu benar-benar tak dapat melawan selain suara erangan yang tertutup mulut Dafa.
Suara sepatu yang diinjakkan ke lantai tiba-tiba saja terdengar samar, tanda seseorang sedang berjalan ke arahnya.