Setelah makan siang selesai, Dafa dan Aditya harus menemui seseorang untuk urusan bisnis. Mereka mengatakan tak akan lama, sehingga baik Nadira ataupun Shahnaz, menetap di rumah Mega. “Nana, kamu liat deh, ini bagus buat kamu.” Mega memperlihatkan sebuah majalah gaun pengantin pada Shahnaz. Dengan ragu-ragu dan lemah lembut Shahnaz menjawab, “Bunda jangan kasih saran aku. Baiknya Kak Nadira dulu.” “Iya. Kamu juga sama, harus mulai cari referensi gaun yang bagus, biar kita pesan dari jauh-jauh hari,” ujar Mega tak mau tahu. Pandangannya beralih pada Nadira, lalu berkata, “kamu juga. Terserah kamu kapan siapnya buat nikah. Yang penting, kamu cari referensi aja dulu.” “Iya, Bunda.” Nadira hanya bisa mengangguk tanpa alasan pasti. Sampai kapan ia dapat bertahan menahan perasaan ini? Sia

