Dario mendekati Viona yang masih duduk di sofa dengan wajah sedih, mencoba menyembunyikan perasaannya. Meski ia tahu alasan di balik air mata Viona, ia memutuskan untuk tidak membahasnya. Dario menarik napas panjang, menenangkan diri sebelum berbicara. "Kenapa kau masih menangisi dia?" tanya Dario dengan nada lembut, yang sangat jarang ia gunakan. Tatapan Viona tetap tertunduk, enggan membalas pertanyaannya. Viona tidak menjawab, hanya menatap kosong ke lantai. Dario merasa semakin frustrasi melihat Viona terpuruk seperti itu. Dia tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat Viona merasa lebih baik, meskipun Viona tidak terbuka padanya. Dario mendekat, tanpa berkata apa-apa lagi, ia menunduk dan mengangkat tubuh Viona dalam gendongannya. "Dario! Apa yang kau lakukan?" seru Viona, terkej

