"Masa lalu adalah, pembelajaran di masa depan untuk tidak terjadi lagi."
**
Selesai sesi belajar-mengajar, Elyas mengajak Reina untuk menuju parkiran mobil terlebih dahulu. Selama perjalanan dengan posesif tangan Reina memeluk lengan Elyas dengan manja, setiba di parkiran mereka sudah melihat Silvia sang istri ke-dua yang sudah menanti.
"Silvia, anda tidak apa-apa kan pulang sendirian memakai mobil saya?" Tanya Elyas sembari memberi kunci mobil kepadanya.
"Tidak apa-apa." Jawab Silvia sepatah lalu mengambil kunci mobil yang di sodorkan kepadanya.
"Kalian hati-hati ya, assalamualaikum." Pamit Silvia segera memasuki mobil Elyas.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Elyas dan Reina. Entah mereka sadar atau tidak, tapi mata para mahasiswa-mahasiswi dan beberapa dosen menatap Reina dengan sinis kecuali Arvam tentunya.
"Apa istri ke-dua mu itu akan baik-baik saja?" Tanya Reina dengan menatap wajah datar suaminya.
"Jikapun di tengah jalan nanti dia kenapa-kenapa, dia hanya cukup di larikan ke rumah sakit." Jawab Elyas tanpa beban.
"Dasar suami majnun!" Umpat Reina lalu berjalan menuju jalan raya.
"Hei Reina, menurut hadits riwayat Abdullah bin Mas'ud. Berkata kasar dan jelek kepada suami merupakan bentuk kefasikan. Tindakan itu semestinya dihindari oleh siapa pun, tak terkecuali istri kepada suami." Teriak Elyas yang membuat Reina menghentikan langkahnya.
"Taksi kita sudah ada di sebrang jalan, ayo." Ajak Elyas mencoba akur, sedang Reina sudah memasang bibir bebek.
**
Di tengah hamparan kendaraan berlalu lalang, mobil pajero berwarna Milo terparkir cantik di pinggir jalan. Silvia, perempuan itu hanya duduk di dalam kemudi dengan melihat pergerakan lalu lintas di kota Surabaya.
"Sejak awal kehadiran ku memang salah. Tidak seharusnya aku mau di masukkan ke dalam istana yang indah. Aku salah karena aku sudah menghancurkan kebahagiaan mereka, tapi kenapa? Kenapa sakit sekali di dalam sini?" Ucap Silvia yang sudah menitihkan air mata sambil memukul-mukul d**a.
**
Setiba di tempat tujuan Silvia langsung menutup mobil Elyas lalu berjalan ke tepian sungai. Air matanya masih menitih, bahkan nafasnya sudah terputus-putus.
"Selama hidup, aku tidak pernah bermimpi menjadi perusak rumah tangga orang. Selama hidup, aku hanya ingin di sayangi oleh suamiku. Selama hidup, aku tidak pernah memiliki cita-cita menjadi istri ke-dua. Tapi kenapa? Kenapa takdir bersikap tidak adil dengan semua keinginan ku! Apakah aku diciptakan untuk tidak bahagia? Lalu untuk apa aku hidup? Untuk apa aku bertahan di sakiti dan di lukai! Aku hanya boneka yang di manfaatkan mereka! Aku hanya suntikan dana yang mereka dapatkan selama ini! Bahkan selama tujuh tahun cara ku untuk mengambil hati suami ku, satupun tidak ada yang berhasil. Di hati Abang Elyas hanya terukir satu nama saja, "Reina" jikapun ada wanita lain di dalamnya itu pasti Mama, dan anak perempuan mereka kelak. Lalu untuk apa pernikahan ke-dua ini masih berlanjut? Masih sisa berapa tahun lagi aku terikat dengan hitam di atas putih ini, Ya Allah?" Silvia merasakan lemas di lututnya, untuk menopang tubuhnya saja sudah tidak sanggup lagi. Sedikit demi sedikit tubuh Silvia sudah duduk bersimpuh di atas batu tepi sungai.
"Aku ingin mengakhiri hidupku saja." Ucapnya yang sudah sangat putus asa. Hingga sebuah tarikan mampu menyelamatkan Silvia, saat perempuan itu bertekat ingin melangkah ke tengah sungai.
Satu tamparan cukup keras mendarat ke pipi halusnya. Tangan seorang wanita yang sudah menyelamatkan nyawanya, mengepal keras. Bahkan otot-otot tangannya terlihat keluar.
"Jangan pernah sekali-kali kamu mencoba ingin bunuh diri!Jika kamu mencoba bunuh diri, jangan harap "mereka" selamat!" Ancam orang yang sudah menyelamatkan nyawa Silvia. Setelah mengatakan itu, orang tersebut pergi meninggalkan Silvia yang masih tertunduk merasa panas di pipinya.
**
Setelah meninggalkan sungai, Silvia menuju ke area pemakaman. Dia duduk bersimpuh di depan gundukan tanah yang sudah mulai rata dengan tanah. Dia menatap papan bertuliskan nama sosok yang selalu dia rindukan siang, dan malam. Sosok yang selama ini menjadi benteng pelindungnya, makam mamanya.
"Kenapa? Kenapa saat itu tidak aku saja yang tiada? Seharusnya aku yang ada di dalam sini, bukan mama. Mama tahu kan, kalau aku tidak sekuat singa. Aku hanya sosok lemah yang tidak berdaya. Kenapa mama meninggalkanku dengan nasib yang tidak pernah memberiku celah untuk bahagia? Selama hidup mama selalu mengajariku untuk tidak merebut kebahagiaan orang lain, bukan? Selama hidup mama selalu mengajariku untuk tidak menjadi orang ke-dua, bukan? Lalu kenapa? Kenapa setelah dewasa mama menjadikan diriku korban atas apa yang tidak aku perbuat? Mengapa setelah dewasa mama menjadikan diriku, seolah aku adalah wanita hina yang kurang kasih sayang dari laki-laki hingga mengemis kepada suami orang untuk menikahiku! Kenapa setelah dewasa mama menjadikan diriku, seolah aku wanita paling buruk karena sudah menghancurkan rumah tangga orang! Kenapa setelah dewasa aku menjadi istri ke-dua, yang tidak pernah di harapkan kedatangannya! Apa mama pikir setelah aku melakukan semua itu aku akan bahagia? Jika pun aku tidak berhak untuk bahagia, didak semestinya takdir hidupku menjadikan diriku sebagai istri ke-dua. Apa yang harus aku lakukan?" Silvia menghapus air matanya dengan kasar lalu pergi, namun saat membalikkan tubuhnya seseorang yang tidak asing berdiri di depannya.
"Kembalilah ke rumah." Ucap lelaki itu memerintah Silvia.
"Kapan semua ini akan berakhir?" Tanya Silvia dengan mengalihkan pandangan, dia tidak ingin menatap wajah lelaki itu, meski lelaki itu adalah ayah kandungnya sendiri.
"Sesuai perjanjian hitam di atas putih, semua ini akan selesai setelah kamu memberikan keturunan kepada keluarga Panengsang."
"Apa ayah pikir, aku bisa hamil tanpa di sentuh? Apa ayah mengira aku adalah bunda Maryam? Selama menikah dengan Abang Elyas, apa ayah pikir dia memperlakukan ku selayaknya seorang istri? Bahkan selama tujuh tahun dia sama sekali tidak pernah menyentuh ku, seolah-olah aku adalah sesuatu yang haram dan, menjijikkan di hadapannya!" Ucapnya dengan berteriak. Dia hanya ingin lepas dari belenggu ini.
**
Setiba di rumah, Silvia langsung menuju kasurnya. Dia memilih mandi lalu sholat magrib. Dengan masih memakai mukena dia mengambil sebuah foto pernikahannya dengan Elyas tujuh tahun lalu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Silvia Angelin Leonita binti Pabuan Danendra dengan mas kawin satu genggam emas seberat dua puluh empat karat di bayar tunai!" Ucapan saat Elyas mengucapkan qobul masih tersimpan rapi di memorinya. Silvia meraih benda pipih yang tergeletak di atas kasur. Setelah mengetikkan pesan, dia bergegas mengganti baju bersiap keluar menemui temannya.
**
Jam tangan Silvia sudah menunjukkan pukul delapan malam, dia memilih untuk pulang setelah solat isya di cafe milik Sisca. Tujuannya kali ini tidak rumah, melainkan area pemakaman. Namun pemakaman yang dia kunjungi berbeda dengan makam yang tadi sore dia datangi.
"Assalamualaikum." Salamnya lalu duduk bersimpuh di sisi kanan kuburan dengan papan nama seseorang yang paling berarti dalam hidupnya, dia tiada hampir delapan tahun lalu.
"Bagaimana keadaanmu disana? Apa kau bahagia? Kenapa kamu hanya ingin bahagia sendiri saja? Kenapa tidak membawaku pergi denganmu? Apa kau tersiksa di sana? Apa kau sedih melihat diriku yang sekarang? Bagaimana kehidupan di alam baka? Kapan kau menjemputku dan membawaku ke dalam duniamu? Tolong beritahukan kepada Tuhan. Aku sudah lelah untuk semua ini, aku ingin beristirahat dengan tenang seperti dirimu. Tolong beritahukan kepada Tuhan untuk menjemput diriku."
"Sudah nona, jangan berputus asa akan hidup seperti ini. 'Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala ( dari kebajikan ) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari Kejahatan) yang dikerjakan'. Qur'an surat Al-Baqarah ayat dua ratus delapan puluh enam." Ucap juru kunci yang tiba-tiba datang dari arah belakang. Silvia berdiri dari duduknya sembari mengusap air mata.
"Terimakasih sudah mengingatkan saya pak, anda adalah orang asing yang serasa keluarga bagi saya." 'Sedangkan keluarga saya serasa orang asing dalam hidup saya.' Lanjutnya dalam hati.
Selesai.