"Bahagia itu cukup sederhana, cukup lakukan dengan orang yang kita cintai. Maka kita akan merasakan kebahagiaan."
Di bagian bumi yang lain Elyas dan Reina sudah sampai di hotel. Reina yang sudah merasa letih langsung beristirahat di kasur king size dengan seprai marun yang menambah kecantikan kamar tersebut.
"Kenapa Abang tidak bilang kalau kita akan tiba di hotel setelah isya?" Tanya Reina yang sibuk memainkan handphone dengan tengkurap.
"Agar Abang bisa memiliki banyak waktu dengan dirimu." Jawab Elyas. Ya, sedari tadi saat pulang dari kampus mereka berhenti di mall untuk sholat asar, sekaligus berbelanja banyak hal. Setelah magrib mereka baru makan malam lalu mandi di kamar mandi yang tersedia di mall yang mereka kunjungi, setelah itu pulang dan mampir di masjid untuk shalat isya.
"Setelah ini aku tidak mau lagi Abang ajak, Abang tadi terlalu boros!" Ucap Reina sambil membalikkan badannya. Elyas yang tadi sibuk mencari baju di dalam paper bag menghentikan aktivitasnya lalu berjalan, dan duduk di sebelah Reina.
"Selama tujuh tahun, selama itu Abang tidak memberikan dirimu nafkah. Baik nafkah lahir maupun batin. Tujuan Abang boros hari ini bukan semata-mata untuk menghambur-hamburkan harta, tapi untuk menebus tujuh tahunmu tanpa nafkah dari Abang." Ucap Elyas penuh kasih sayang dengan memegang kedua pipi Reina. Dengan hati-hati Elyas mencium kening Reina cukup lama, membuat Reina memejamkan kedua matanya.
"Hari ini Abang baru mampu memberimu nafkah lahir, untuk nafkah batinnya mungkin bukan di hari ini. Bukannya Abang tidak sudi menyentuh dirimu, bukannya Abang tidak mencintaimu. Abang bisa saja memaksamu untuk melakukan itu, tapi Abang tidak mau memaksa dirimu. Abang tidak mau menyakitimu, Abang sebenarnya bisa saja egois terhadap mu. Tapi Abang juga harus memiliki adap untuk melakukan itu. Abang akan meminta hak Abang sebagai suami kamu, jika di antara kita sudah sama-sama ikhlas dan ridho tanpa paksaan di dalamnya. Abang ingin melakukan itu bersama mu dengan penuh cinta kasih di dalamnya. Agar benih yang tertanam mampu tumbuh menjadi sosok yang tangguh, setangguh Mamanya." Reina menunduk, pipinya merona terharu atas setiap bulir kata yang di lontarkan Elyas kepadanya.
"Abang." Ucap Reina dengan mata memelas seperti seekor kucing yang meminta di elus-elus.
"Ada apa?" Jawab Elyas tanpa melunturkan senyumnya, tangannya masih di pipi sang istri dengan mengusap lembutnya. Dengan hati-hati Reina menyingkirkan ke-dua tangan Elyas di pipinya. Satu per satu jarum pentul yang di kerudung di ambil satu per satu, dengan satu tarikan jilbab biru langit sudah terlepas dari kepalanya. Tidak hanya itu, Reina juga melepas ciput ninja hitam beserta ikat rambut miliknya. Sesaat Elyas terpana akan rambut Reina yang sudah tujuh tahun tidak di pandangnya. Hitam pekat, lebat, panjang, serta lurus terhias di depan mata Elyas. Hal itu membuat Elyas geram melihatnya, seperti anak kecil yang mendapatkan mobil mainan baru, tangan Elyas bermain manja dengan rambut Reina
"Jika aku meminta satu hal, apa Abang akan keberatan?" Elyas tersentak, lalu menggeleng. Reina berdiri membuat Elyas bingung melihatnya, namun tidak berselang lama Reina duduk di atas paha Elyas dan memeluknya.
"Malam ini aku ingin egois Abang, aku hanya ingin Abang menghabiskan waktu dengan ku. Jangan pergi apapun alasannya termasuk Mama Abang sendiri."
"Permintaan mu, Abang turuti." Jawab Elyas, tanpa berfikir dua kali. Bahkan setelah mengucapkan itu dia mematikan handphone agar tidak ada yang mengganggunya.
"Selama tujuh tahun ini. Sungguh, bahkan di dalam mimpi pun. Abang tidak pernah berniat menceraikan dirimu, Reina". Ucap Elyas sendu.
**
Adzan subuh mulai berkumandang, dengan mamai Reina mulai membuka mata. Dengan malas dia melihat jam dinding lalu beralih ke Elyas yang masih tertidur lelap. Dengan sayang Reina mengelus surai hitam Elyas, tangan lentiknya mulai berjalan menuju alis pekat Elyas, lalu turun ke hidung mancung bak pangeran Eropa, dengan lembut Reina mengusap bibir merah alami Elyas yang tidak pernah merokok. Mata Reina seakan mengagumi setiap inci pahatan demi pahatan wajah Elyas.
"Wake up husband, aku tahu Abang sudah bangun sebelum diriku terbangun." Terdengar suara tawa kecil dari Elyas mendengar ucapan istrinya itu. Dengan malas dia terbangun dari tidurnya.
"Ayo, kita harus solat subuh sebelum kehabisan waktu." Ajak Elyas sambil menggandeng Reina untuk mengambil air wudhu.
Setelah mengucapkan salam, Elyas memulai doa yang sudah siap untuk di 'aamiin'kan Reina. Setelah selesai berdoa, Reina mengambil tangan kanan Elyas lalu menciumnya. Dengan sayang, kedua tangan Elyas memegang ke-dua pipi Reina lalu mencium keningnya.
"Setelah ini kita mandi, sarapan sudah di siapkan oleh pihak hotel. Setelah itu Abang akan mengajakmu ke alun-alun kota Surabaya." Ucap Elyas dengan merapikan sajadah, dan mukena yang di pakai Reina.
"Kamu mandi saja dulu. Biar Abang siapkan pakaian mu." Imbuhnya yang di angguki Reina, saat sudah sampai di depan pintu kamar mandi, Reina berhenti sekejab lalu membalikkan badannya.
"Abang mau mandi bareng sama Reina tidak?" Tawar Reina yang membuat Elyas refleks melihatnya terkejut.
"Macam-macam!" Ucap Elyas sambil melempar Reina handuk bergambarkan kartun Boboiboy.
"Ayolah Abang, "Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mandi bersama istri-istri Beliau. Beliau mandi bersama Ummu Salamah." Dari Hadits Riwayat Al-Bukhari nomor tiga ratus enam belas dan seribu delapan ratus dua puluh delapan sedangkan dalam riwayat Muslim terdapat pada nomor dua ratus sembilan puluh enam dan tiga ratus dua puluh empat."Beliau juga mandi bersama Aisyah sebagaimana tuturan Aisyah, 'Aku dan Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam mandi bersama dari satu tempayan'" hadist riwayat Al-Bukhari nomor dua ratus empat puluh tujuh. Aisyah juga berkata, "Aku mandi bersama Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dari satu tempayan ( yang diletakkan ) antara kami berdua, maka Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mendahuluiku (dalam mengambil air dari tempayan) hingga aku berkata, 'sisakan air buatku, sisakan air buatku'. Dan mereka berdua dalam keadaan junub." Hadits Riwayat Muslim nomor tiga ratus dua puluh satu. Beliau juga mandi bersama Maimunah". hadits Riwayat Al-Bukhari nomor dua ratus lima puluh dan Muslim nomor tiga ratus dua puluh dua. Dan apakah Abang tahu bahwa manfaat mandi bersama pasangan itu banyak sekali diantaranya yaitu: mengidentifikasi perubahan kulit, meredakan setres, perawatan tubuh, meningkatkan kepercayaan diri, untuk kesehatan jantung, menenangkan saraf, dan merespon bercinta." Jakun Elyas tercekat mendengar tawa Reina, bahkan tanpa Reina sadari jarak antara dirinya dan sang suami hanya tinggal satu langkah.
"Apa sudah selesai ceramahnya?" Reina menatap Elyas dengan sisa tawa di wajahnya.
"Jika itu yang kamu inginkan, mari kita lakukan." Mata Reina langsung membulat mendengarnya dan dengan satu dorongan Elyas membawa masuk Reina ke dalam kamar mandi.
Selesai