"Ucapan seseorang itu seperti paku yang menancap di kayu. Walaupun sudah di cabut, tetap meninggalkan bekas". ** Hujan semakin menjadi-jadi. Langkah Reina yang tak tahu arah tuju berhenti. Dengan lemah, dia duduk di kursi pinggir alun-alun Kota Surabaya. Tempat di mana dulu, dia dan Elyas juga duduk di sana. Reina mengangkat kedua kakinya, lalu di tekuk dan memeluknya. Air matanya tumpah beserta air hujan yang membasahinya. Tak berselang lama. Reina merasa ada yang memayunginya dari belakang. Sejenak, Reina mengangkat kepalanya. Tapi, dia enggan untuk melihat orang yang ada di belakangnya. "Siapapun anda, terimakasih sudah berbaik hati memayungi saya. Tapi maaf, lebih baik anda pergi. Saya tidak butuh welas asih anda." Ujar Reina dengan memalingkan wajahnya. "Pulanglah, Dafa mencari m

