"Sekuat apapun kita menggenggamnya. Jika Allah sudah meminta. Maka, terlepaslah." ** Selepas sholat subuh, Elyas dan Arvam menuju ruang jenazah. Mata keduanya membaca sekilas ruangan di hadapan mereka. Baik mata ataupun nafas, mereka sama-sama merasa nyeri dan berat. Dengan penuh merasa ikhlas menerima kenyataan, Elyas membuka pintu ruang jenazah. Arvam menatap ruang remang itu dengan tatapan takut. "El, kau saja ya yang masuk. Aku tunggu di luar saja." Pinta Arvam sambil menyalakan saklar lampu di dekat pintu. Elyas menatap Arvam sesaat, lalu masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan manusia yang sudah tidak bernyawa. Elyas mengatur nafasnya yang sudah tak beraturan dari tadi. Tangannya gemetar, dia mencoba menggapai kain yang menutupi tubuh wanita yang selama ini dia cintai. Elyas ber

