"Menikah bukan karena rupa, pangkat, ataupun harta. Tapi, menikah itu karena agama." ** Zalya melangkahkan kaki menuju sebuah tempat yang sudah dia, dan orang yang memberinya surat untuk bertemu di kedai. Tak perduli malam dengan gerimis yang menjadi pemandangan selama perjalanan. Zalya duduk di kursi yang sudah dia pesan sebelumnya. Setelah mendudukkan tubuhnya, seorang pemuda duduk di sebrangnya. "Aku kira kau tak datang." Ucap pemuda itu. "Sebab aku tidak punya alasan untuk tidak datang." Pemuda itu mengangguk faham. "Kau sudah membaca surat dariku, bukan?" "Sudah, tapi bagaimana jika aku menolaknya?" Tanya Zalya dengan mengeluarkan amplop yang berisi surat dari pemuda tersebut. Pemuda itu menatap amplop di hadapannya sejenak, lalu mengambil map yang sudah dia sediakan di dalam ta

