"Luka yang belum sempat kering itu, kembali terluka". ** Darah mengalir dari bahu sebelah kanan Dafa. Dia tidak perduli dengan peluru yang sudah bersarang di dalamnya. Matanya sudah hitam dan pekat, emosinya sudah memuncak. "b*****h!" Umpatnya tepat di depan wajah sang pelaku. Tapi kelemahan kembali menyerangnya. Kanaya melihat ada peluang melarikan diri, dengan cepat dia pergi dari rumah Elyas. "Fa, kau oke? Kita ke rumah sakit dulu, peluru itu harus di keluarkan." Ujar Elyas dengan berjalan mendekati Dafa. "Kau buta kah, Bang? Wanita j*****m itu berhasil melarikan diri!" Marah Dafa. "Kau tenang saja, dia memakai cincin pernikahan ku dan Reina. Di sana ada GPS-nya, kita bisa melacaknya nanti." Ujar Elyas tenang. "Aku yakin dia tidak akan bisa lolos dari kita." Imbuh Elyas dengan m

