"Manusia itu jahat, mereka hanya mau mendengarkan dari satu sisi saja, lalu berargumen sendiri, dan tidak mau mendengarkan penjelasan yang sebenarnya."
**
Hari ini hari pertama Reina masuk kuliah, sesuai keinginan Elyas dia akan masuk ke universitas miliknya. Namun sayang sekali Reina tidak satu fakultas dengan Silvia. Karene mereka tidak satu jurusan. Silvia memilih jurusan teknis, fakultas arsitektur, sedangkan Reina? Dia sama sekali tidak tertarik akan hal itu. Dia lebih memilih fakultas sosial dan humaniora, jurusan politik Islam, sesuai cita-citanya sedari kecil.
"Abang, anak-anak kuliah kemarin yang bertemu dengan kita di Gramedia mereka anak apa?" Tanya Reina sambil melirik suaminya yang fokus dengan jalan raya.
"Mereka ya anak oranglah sayang." Jawab Elyas.
"Ish, bukan itu maksudku. Maksudku itu mereka mengambil jurusan apa?"
"Jurusan Surabaya-Malang." Reina menatap suaminya itu geram. Di saat dia benar-benar ingin tahu, tapi Elyas malah bercanda, dasar!
"Kalian satu fakultas, tapi beda jurusan, tapi kau tenang saja. Selama tiga puluh menit sekali, Abang akan menemuimu, hanya sekedar melihat dirimu dalam keadaan baik-baik saja. Jika Abang tidak bisa melakukan itu, Abang akan mengirim Arvam untuk melakukan itu. Namun jika di antara Abang dan Arvam tidak bisa menemui mu, kau sendiri yang akan datang kepada Abang untuk menunjukkan kepada Abang bahwa kamu baik-baik saja." Reina tersenyum hangat mendengarnya, dia harap suatu hari nanti, dia tidak terluka akan keputusannya yang sudah memberi Elyas kesempatan ke-dua.
"Kita sudah sampai." Ucap Elyas menyadarkan Reina bahwa sekarang mereka sudah sampai di parkiran kampus.
"Abang banyak tatapan mata yang mengarah kepada kita." Beritahu Reina sesaat, setelah turun dari mobil.
"Mereka hanya bingung saja, biasanya Abang datang bersama Silvia. Namun mulai hari ini dan selanjutnya mereka harus menyesuaikan mata mereka, sebab Abang akan datang bersama dirimu saja." Ucap Elyas dengan mencium puncak kepalanya.
"Masuklah ke kelas, sebentar lagi kau ada kelas matematika. Arvam yang akan menjadi pembimbingnya, Abang tidak akan menemuimu terlebih dahulu. Abang akan memberi waktu untuk dirimu merindukan Abang." Imbuhnya dengan mengelus pipi Reina.
'Aku sudah lelah merindu selama tujuh tahun Abang, aku tak apa jika aku harus merindu lagi, sebab aku masih bisa mengobati rinduku dengan menemui Abang. Namun jika Abang melukaiku lagi, aku tidak tahu apakah aku bisa mengobati luka yang mungkin tanpa sengaja akan Abang lakukan di kemudian hari.' Monolog Reina dalam hati sambil melihat punggung Elyas yang menghilang masuk ke dalam lorong. Dengan langkah penuh keraguan Reina berjalan masuk ke dalam kelas.
**
Selama mata kuliah matematika ternyata tak se-menakutkan yang Reina pikirkan. Ternyata Arvam yang di ceritakan suaminya benar-benar teman yang layak di masukkan ke suaka margasatwa. Kenapa? Karena orangnya itu masyaallah sekali, hingga tidak memberi kesempatan Reina untuk duduk dengan tenang. Sebab selama pelajarannya, Arvam selalu saja mengajukan pertanyaan, dan jika tidak ada yang mau menjawab maka Reinalah yang akan dia tunjuk untuk mengisi jawaban atas pertanyaan yang sudah dia tulis di papan tulis, menyebalkan sekali bukan?
Namun ada syukurnya juga dari si Arvam-Arvam satu ini. Dia memberikan waktu sejenak untuk menenangkan otak anak satu kelas untuk beristirahat sejenak. Kalau tidak, bisa-bisa otak satu kelas akan keluar atas semua pertanyaannya itu!
Seperti sekarang, Reina sedang menikmati bakso jamur dan jus melon di depannya. Tadi pagi dia memang sudah sarapan, namun Elyas selalu memberinya ikan salmon, membuat Reina lama-lama geram. Namun saat dia sedang sibuk dengan baksonya banyak mata yang melihat dirinya sinis, dan beberapa ucapan buruk mereka tentang Reina di hari ini.
"Hei lihat, itukan wanita yang kemarin bersama Pak Elyas, jadi dia kuliah di sini?" Tanya seorang gadis yang di ketahui bernama Sofya, gadis yang kemarin bersisipan dengan Reina dan Elyas di Gramedia. Dia tidak sendirian, dia bersama teman-temannya yang kemarin di Gramedia juga ikut berkumpul. Ah, sinema pagi yang bagus bukan?
"Iya, ya. Eh tadi pagi aku juga melihat wanita itu keluar dari mobil sport merah bersama Pak Elyas. Sedangkan Silvia, istri Pak Elyas naik mobil pajero milo sendirian." Ucap Sasa. Reina mengunyah bakso di dalam mulutnya dengan santai, seakan-akan dia tidak mendengarkan ucapan mereka atas dirinya.
"Jangan-jangan dia benar-benar wanita simpanannya Pak Elyas." Kali ini Nada yang angkat bicara.
"Kau Nad, kalaupun dia simpanan Pak Elyas kau fikir-fikir dululah. Silvia itu pintar dalam segadan, Silvia itu Sholehah serta istri idaman banget." Puji Sofya.
"Seperti ucapanku kemarin. Wajar kalau dia jadi simpanannya Pak Elyas, sebab dia itu jauh lebih cantik dari pada Silvia" Ucapan Risa.
"Hai Ris, emang ada pelakor wajahnya jelek gitu? Yang namanya pelakor dia itu harus cantik, kalau gak cantik ya mungkin aja dia pakai pelet" Ucap Sasa dengan argumennya sendiri.
'Aku ini istri pertamanya lah, bukan simpanannya. Dan Silvia yang kalian sanjung-sanjung tadilah pelakor yang asli!' Teriak Reina dalam hati.
"Ini dia orangnya!" Teriak seseorang dengan menggebrak meja Reina, membuatnya terkejut dan memuncratkan jus melonnya.
"Aih, mubazir." Gumam Reina sambil melihat jus melon yang keluar dari mulutnya tadi.
"Hei wanita ular!" Reina melihat ke arah suara, lalu melihat ke kanan dan kiri.
"Apa kau berbicara denganku?" Tanya Reina memastikan.
"Jika bukan dirimu lalu siapa lagi, hah!" Marahnya.
"Eh, maaf kak. Saya ada salah?" Tanya Reina tak pengerti, letak kesalahannya.
"Ya kau salah, kau adalah perebut suami orang, kau perusak rumah tangga orang, apa kau tidak punya malu karena sudah mencintai suami orang?" bentak gadis itu.
"Maaf, kakak ini siapa? Kenapa datang kesini lalu marah-marah kepada saya?" Tanya Reina jujur.
"Aku Sisca, teman Silvia. Aku pemilik cafe yang kau datangi kemaren bersama Elyas. Awalnya aku berfikir bahwa kau adalah adik, saudara, atau sepupu Elyas, tapi kemesraan di antara kalian tidak seperti seorang saudara melainkan seperti sepasang kekasih."
"Lalu apakah salah? 'Mukmin yang paling sempurna imamnya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.' hadits riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi." Jawab Reina.
Satu tamparan dari tangan gadis itu melayang mengenai pipi kiri Reina. Bahkan selama ini orang tua Reina ,dan Elyas tidak pernah mengangkat tangan mereka untuk menamparnya. Tapi hari ini, Sisca menampar Reina tanpa alasan yang kuat.
"Hei jalang! Didikan agama macam apa yang sudah orang tuamu ajarkan kepadamu, hah?! Tinggi-tinggi kau kuliah disini hanya untuk mengecewakan mereka, dan dengan bangganya kau mengatakan bahwa kau adalah istri Pak Elyas? Didikan agama macam apa yang kau dapatkan hingga mengambil suami orang lain?" Marah Sisca.
"Apa menurutmu aku akan mengambil apa yang sudah seharusnya aku miliki sejak awal?" Tanya balik Reina kepadanya dengan meninggikan suara.
"Cukup!" Reina melihat orang yang sedang berusaha melerai dia dan Sisca, ah Dewi Fortuna terlalu baik kepadanya hari ini.
"Diam kamu Sil, wanita seperti dia layak di beri hukuman. Siram saja dia dengan air minum kalian!" Perintah Sisca, dan tanpa berpikir panjang semua orang yang ada di kantin langsung mengguyur Reina dengan air minum mereka.
"BERHENTI!" Sebuah suara bariton menghentikan aktivitas mereka. Dengan segera Elyas menyelimuti Reina dengan jas miliknya. Sedangkan ke dua tangan Reina sudah mengepal, menahan marah.
"SIAPA YANG SUDAH MEMBERIKAN KALIAN IZIN UNTUK MEMANDIKAN ISTRIKU SECARA UMUM DI SINI? KENAPA KALIAN SUKA MAIN HAKIM SENDIRI? KENAPA KALIAN TIDAK MEMBERI WAKTU REINA UNTUK MEMBELA DIRI? ASAL KALIAN SEMUA TAHU, REINA TIDAK PERNAH MEREBUT SAYA DARI SIAPAPUN. SEBAB SEJAK AWAL, SAYA SUDAH MILIK REINA."
"Dan, untuk kamu Sisca. Masuk ke ruang dekan sekarang juga. Dan kamu Reina, kenapa kamu tidak ingin membela diri?" Tanya Abang Elyas dengan lembut dengan mengelus pipi kanan Reina.
"Untuk apa Abang? Untuk apa aku memberi penjelasan kepada mereka, sejak awal kehadiran ku disini sudah di pandang buruk oleh mereka. Lalu untuk apa aku membela diri jika akhirnya pandangan mereka tentangku masih sama?" Jawab Reina dengan pandangan kosong.
"Ayo kita keruangan ku, kau basah kuyup. Tadi pagi kau sudah mandi tapi sepertinya kau kurang bersih, makanya mereka berniat untuk memandikan mu. Tapi kenapa mereka memandikan mu jika Abang saja masih bisa melakukannya sendirian." Reina mencoba tersenyum akan gurauan Elyas.
Selesai