"Lemah bukan berarti kalah. Dan diam tidak selamanya benar"
**
Elyas membawa Reina masuk ke ruangannya, lalu memasukkan istrinya ke dalam kamar mandi. Helai demi helai pakaian yang melekat di tubuh Reina dia lepas kecuali sudahlah, kalian tebak saja sendiri. Setelah itu Elyas memandikan Reina di bawah sower hingga bersih. Setelah selesai Elyas memakaikan kemeja bersih yang panjang, ke tubuh Reina dengan cepat. Setelah itu dia menjemur pakaian basah Reina di dalam kamar mandi.
Saat Elyas kembali dari kamar mandi, dia mendudukkan Reina di pinggir ranjang dengan tatapan kosong. Elyas meraih seprai untuk menutupi paha mulus Reina yang terekspor. Dia duduk di sebelah Reina lalu membawa istrinya kedalam pelukannya. Elyas mengelus rambut Reina dengan sayang, setelah cukup lama dia merasa lengan baju t-shirt yang dia gunakan basah. Reina menangis dalam diamnya.
"Mereka semua akan membayar atas apa yang sudah perbuat atas dirimu." Ucap Elyas lalu mencium puncak kepala Reina.
"Jangan DO mereka." Jawab Reina sepatah.
"Kenapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Elyas, Reina justru memeluknya semakin erat.
Terdengar suara ketukan pintu dari depan, ruangan Elyas memang sedikit spesial. Suara dari luar akan terdengar sampai di dalam kamar, namun suara dari dalam ruangannya tidak akan keluar. Elyas melerai pelukan, lalu mulai membuka pintu kamar dan menutupnya lagi. Dengan segera dia membuka pintu, dan memperlihatkan sosok wanita yang selama ini tidak pernah dia harapkan ke datangannya.
"Masuk!" Perintahnya dengan nada dingin di dalamnya. Setelah wanita itu masuk, Elyas menutup pintu ruangan.
"Apa anda tahu apa kesalahan anda?" Tanya Elyas formal.
"Apa yang tadi Abang lihat itu bukan berasal dari diriku." Ucap Silvia mencoba membela diri.
"Apa yang saya lihat sudah jelas karena anda! ANDA YANG MASUK KE DALAM RUMAH TANGGA SAYA! ANDA TIDAK HANYA MENGAMBIL NYAWA KAKAK SAYA TAPI, JUGA KEBAHAGIAAN SAYA! KENAPA SAAT ITU ANDA TIDAK MENOLAK UNTUK DINIKAHKAN DENGAN SAYA? ANDA TAU BUKAN, BAHWA SAYA ADALAH LELAKI YANG SUDAH BERISTRI!? SELAMA TUJUH TAHUN SAYA MEMBENCI ANDA, SELAMA TUJUH TAHUN SAYA TIDAK PERNAH MENGANGGAP ANDA SEBAGAI ISTRI, SELAMA TUJUH TAHUN SAYA TIDAK MENGHARAPKAN ANDA DALAM HIDUP SAYA! KENAPA ANDA MASIH SAJA MEMPERTAHANKAN PERNIKAHAN INI? APA PUNDI-PUNDI UANG YANG SELAMA INI ANDA DAPATKAN DARI DUA ORANG ITU MASIH BELUM CUKUP? KENAPA ANDA TIDAK MEMINTA UNTUK SAYA CERAIKAN? GARA-GARA ANDA, ISTRI SAYA DI TUDUH SEBAGAI PELAKOR! KARENA ANDA, ISTRI TERCINTA SAYA DI PIKIR WANITA SIMPANAN! ANDA ADALAH ALASAN MEREKA MENGATAI ISTRI TERSAYANG SAYA SEBAGAI JALANG! Apa anda sudah bahagia sekarang? Apa setelah ini anda akan mengadakan pesta akan hal ini? Jika saya mampu, sudah sejak lama saya menceraikan anda! Namun hitam di atas putih itu membuat saya masih terbelenggu dalam pernikahan ke dua yang tidak pernah saya damba-dambakan!" Nafas Elyas naik turun setelah mengucapkan amarah yang memuncak di hatinya.
"Apa Abang tahu? Yang Abang ucapkan tadi itu sudah sangat melukai perasaan diriku. Dulu aku pernah mendengar 'sebaik-baik kalian, (adalah) yang paling baik untuk istrinya dan aku adalah orang yang paling baik di antata kalian pada istriku.' hadits riwayat Tirmidzi. Jangan pernah lupa akan satu kenyataan Bang, aku juga istrimu yang harus kau jaga perasaannya."
"Hahaha.." Elyas tertawa, mengejek dirinya sendiri setelah mendengar ucapan Silvia.
"Untuk apa saya menjaga perasaan anda jika anda sendiri tidak pernah menjaga perasaan saya? Anda sudah mematahkan perasaan saya selama tujuh tahun, apa itu masih belum cukup?"
"Apa aku terlalu hina Bang? Apa Abang tidak bisa memberikan sedikit perhatian Abang kepadaku sebentar saja. Apa Abang tidak bisa menganggap diriku istri meski hanya satu menit? Apa Abang tidak bisa memperhatikan diriku? Manjakan diriku selayaknya Abang memanjakan Reina, sayangi aku dan cintai aku sebagaimana yang sudah Abang berikan kepada Reina. Tujuh tahun aku berusaha membuat Abang mencintaiku, tapi hati Abang sudah penuh dengan nama Reina di dalamnya. Apa aku tidak memiliki sedikit ruang di hati Abang? Apa yang Reina miliki dari Abang sehingga aku tidak bisa memilikinya?"
"Yang dimiliki Reina adalah hati saya, dan selamanya hati saya hanya untuk Reina."
"Apa perbedaan diriku dengan Reina, Bang!?"
"Kalian jelas berbeda Silvia. Reina adalah istri yang selalu saya inginkan, dia istri tempat saya berpulang, dia istri yang saya jadikan tempat curahan. Sedangkan anda, anda hanya istri hitam di atas putih yang sampai kapanpun tidak akan pernah mendapatkan cinta tulus saya." Ucap Elyas tanpa melihat wajah Silvia yang sudah menangis dari tadi.
"Haha, sepertinya Abang sudah mabuk cinta. Cinta Reina kepada Abang adalah cinta yang egois, hingga tidak bisa melihat suaminya berbagi waktu dengan istri ke-duanya."
Satu tamparan dari tangan Elyas jatuh di pipi Silvia. Elyas tak mengapa jika Silvia mau menjelek-jelekkan dirinya, namun jika sudah menyangkut nama Reina, Elyas tidak bisa diam saja.
"Apa yang sudah Abang lakukan?" Tanya sebuah suara dari arah kamar, Elyas melihat Reina sudah berdiri di depan pintu kamar dengan tatapan terkejut.
"Abang, Aisyah Radhiallahu anhaa pernah bertutur: 'suamiku tidak pernah memukul ( menggulung yang menciderai ) meski hanya sekali'. Hadits riwayat An-Nasa'i." Tutur Reina dengan lembut sembari mengusap punggung Elyas, mencoba menenangkan amarahnya yang sempat lepas tak terkendali.
"Silvia, aku minta maaf atas perlakuan Abang Elyas. Kau keluar dulu saja, aku akan menasehatinya." Pinta Reina dengan lembut.
"Anda dengar itu? Bahkan setelah apa yang sudah teman anda perbuat, Reina masih sangat baik kepada anda." Ucap Elyas sebelum Silvia keluar dari ruangannya. Reina berdiri di belakang pintu ruangan Elyas, membuka pintu untuk Silvia. Segera Reina menutup dan menguncinya lalu membawa Elyas kembali ke dalam kamar. Setiba di dalam, Reina kembali mengunci kamar. Reina mendudukkan Elyas di pinggir ranjang, sedangkan dia berdiri dengan berdecak pinggang.
"Sejak kapan suamiku menjadi seorang pemarah seperti tadi? Sejak kapan suamiku ini menaikkan suara di depan seorang wanita? Sejak kapan suamiku berani menaikkan tangannya untuk menyakiti seorang wanita?" Elyas hanya melihat Reina memarahinya, Elyas masih tidak ingin mengatakan apa-apa terlebih dahulu.
"Jangan marah-marah seperti itu, aku takut." Imbuh Reina manja dengan duduk di atas paha Elyas. Elyas memeluk istrinya mencari ketenangan disana, dengan lembut Reina membalas pelukannya.
"Abang minta maaf, seharusnya Abang menemuimu setelah Arvam memberi tahu Abang bahwa kamu ada di kantin. Seharusnya Abang bisa datang tepat waktu. Bagi Abang, kamu adalah sesuatu yang harus Abang jaga. Abang tidak mau kehilangan kamu untuk yang ke-dua kalinya."
"Aku tidak mau memaafkan Abang."
"Apa yang harus Abang lakukan agar kamu bisa memaafkan suamimu ini? Abang akan melakukannya kecuali menganggap Silvia sebagai istri Abang." Jawab Elyas dingin, untuk kali ini Elyas benar-benar tidak ingin membahas Silvia.
"Kita ambil wudhu lalu tidur siang." Perintah Reina, dan tanpa banyak berdebatan Elyas menuruti keinginannya. Elyas ingin memanfaatkan kesempatan ke-duanya dengan sangat baik. Setelah selesai mengambil wudhu, Elyas melihat Reina yang sedang menunggunya. Dia mulai menjatuhkan diri ke kasur lalu memeluk Reina dalam dekapannya.
"Masih ada waktu empat puluh lima menit sebelum dzuhur." Gumam Elyas lalu mencium pipi kiri Reina.
"Aku mencintai Abang." Ucap Reina sebelum dia menutup mata.
"Abang jauh mencintaimu melebihi cintamu kepada Abang." Jawab Elyas lalu menyusulnya ke negri mimpi.
Selesai