Wanita itu menghempaskan tubuhnya yang terasa sangat lemah di atas sofa ruang tamu. Tas tangan yang ia bawa, ia letakkan begitu saja di atas meja. Dengan jemarinya yang kecil Laras memijit-mijit pelipis, mencoba menghilangkan rasa pusing dan mual yang makin terasa. Meski ia telah mandi dan berganti pakaian, rasanya bau darah itu masih menguar di hidungnya. Ingatan demi ingatan tentang kejadian naas yang berlangsung sangat cepat itu juga masih jelas di ingatannya. Bahkan, mungkin saja tidak akan mudah dilupakan oleh gadis itu. "Dorr!" Seorang pria datang dari arah belakang dan mengejutkan Laras yang masih terpekur dalam lamunannya. Pria yang baru datang mengejutkan Laras tidak lain adalah Aaron. Aaron sudah tinggal selama tiga hari di rumah Laras. "Astaga, apa sih, Kak? Laras sedang t

