Chapter 19

1074 Kata
Meski tidak memasuki hutan twig, tapi area yang kami putari tidak kalah gelapnya. Dinding tinggi yang lembab dan dekat saluran air membuat udara yang kami hidup terasa menyesakkan. Alih-alih ingin menjadikan dinding sebagai tempat untuk berpegangan, yang kami sentuh justru lumut kerak yang basah dan membuat kami bergidik dengan permukaan yang lembek dan seolah ada yang sedang merambat di antara jejari kami. “Ah!” teriakan Suvara membuatku berbalik padanya. “Kenapa?” tanyaku. “Itu!” dia menunjuk pada sesuatu. Aku segera mengarahkan cahaya yang kupegang ke arah benda yang ditunjuk Suvara. Sebuah ekor yang tampak bersisik berwarna hijau dengan noda-noda kemerahan. Aku menebaknya adalah seekor kadal atau iguana. Aku menarik tangan Suvara. Membantunya melompati hewan jinak yang diliarkan itu. “Karena itu aku lebih baik membuat robot, daripada berekesperimen pada makhluk hidup yang lebih variatif kegagalannya,” aku mendengar kesah si gadis berok renda itu. “Nah itu dia,” kataku ketika akhirnya melihat pintu kayu yang terlihat rapuh. Kami mengendap-endap mendekat. Mengintip dari celah antara sambungan kayu yang terlihat lapuk. Aku meletakkan jari telunjukku di bibir saat melihat ada dua orang yang sedang berbincang di balik dinding agak kejauhan. “Tidak akan lama Ze, aku janji,” laki-laki berseragam keamanan itu memegang tangan lawan bicaranya. “Tidak bisakah orang lain saja yang mengerjakannya? Aku tidak ingin kamu menjauh dariku,” jawab lawan bicaranya. Aku hanya bisa melihat laki-laki itu sedang lawan bicaranya yang pasti seorang perempuan tertutup rimbunnya maple dengan batangnya yang agak rendah. Suvara sudah terus memegang mulutnya, tampaknya tahan dengan hal-hal menggelikan yang ada di kakinya. Aku melihat sekeliling dan menemukan batu runtuhan dinding. Aku mengangkatnya dan menumpuk beberapa agar Suvara bisa sedikit naik dan kakinya tidak terendam air selokan. Bunyi gesekan antara tanaman paku dan entah apa sesuatu yang bergerak itu membuat muka Suvara semakin ketakutan. Dia berkali-kali menatapku, menggeleng lalu mencoba mengintip kembali, berharap dua orang yang tampaknya sedang berkasih-kasihan itu segera pergi. Aku melihat gerakan di rerumputan, meski redup dan hampir tak ada cahaya di bawah sini, aku memaksa mataku untuk bisa melihat sekitar dengan baik. Hingga akhirnya kepala kadal itu terlihat. Kadal dengan kulit yang lebih keras itu terlihat seperti buaya anakan. Aku menghela napasku berat. Kadal itu terlihat melihat ke arahku dengan mengendap-endap. Membuatku juga tak kalah khawatir. Aku melihat sekelilingku, lalu Suvara menepuk bahuku dan memberiku sebatang kayu yang cukup keras. Alih-alih mengusir kadal itu dengan kayu pemberian Suvara, aku justru melempar kayu itu ke balik dinding. Membuat dua orang itu merasa tak lagi aman dan memilih pergi setelah melihat tidak ada apa-apa atau siapapun di sekitar mereka. SI kadal pun menjauh karena mengira aku melempar kayu itu padanya. Suvara menghela napas lega lalu kembali mengintip ke dalam. “Aman Sya, apa selanjutnya?” tanyanya. “Manjat lah, mau pulang ga?” Terlihat muka kesal dari wajahnya. Tapi seolah memang tak bisa berbuat sesuatu yang lain, dia mau saja menginjakkan kakinya ke tanganku dan melompat bertengger di atas pagar. Karena pintu yang terlihat rapuh itu telah dikunci dan kami tak bisa mendobraknya. Suvara membantuku dengan menarik tanganku. Aku memanjat dinding dengan tarikan dari Suvara yang terengah-engah. Untung saja dinding itu tidak terlalu tinggi. “Kukira rapuh,” kataku saat kami berada di atas dinding bata itu. “Iya, tadinya mau kutendang biar rubuh sekalian,” jawab Suvara. Dia melompat dari dinding dan menebas-nebas roknya yang kotor. Kami memang sudah di area gedung, tapi kalau tidak bisa masuk sama saja. Suvara melihatku dengan pandangan mata yang mengiba sekali. “Bisa, tenang saja dulu,” kataku menghiburnya. Aku melihat dasar menara. Lalu mendongak ke atas. Di puncaknya aku yakin melihat keempat anak itu sedang di sana. Kalau kunyalakan lampu tabku, pasti mereka bisa melihatku. Aku menggerak-gerakkan tabku sambil berharap mereka segera melihat ke arah kami di bawah sini. “Kenapa tidak menelpon saja?” tanya Suvara. “Mana aku punya nomor telpn mereka,” jawabku. Suvara ikut menggerak-gerakkan tabletnya dan kurasa mereka telah melihat kami. mereka mengarahkan cahaya flip ke arah kami dan mengirim pesan dengan sandi untuk meminta kami menunggu. Sembari mencari tempat yang lebih kering dan terang, kami berjalan mendekati dasar menara. Tak lama aku melihat pintu di dasar menara, yang tak jauh dari kami terbuka. “Akhirnya,” tutur Suvara lega. Suvara segera melangkah maju hendak masuk ke dalam sedangkan aku tertahan. Seseorang yang berdiri di ambang pintu membuatku menahan langkahku. Tapi langkah Suvara pun terhenti bahkan mundur beberapa langkah. “Kenapa? Tidak ingin masuk?” tanya orang itu. “Ingin,” suara kami pelan tertahan. “Kalau begitu masuk yuk?” akhirnya orang itu tersenyum melihat kami menundukkan kepala masuk ke dalam Camp. “Dari mana?” tanyanya. Kami saling pandang, berpikir untuk menjawab jujur atau sebaliknya. Suvara yang sudah akan membuka mulutnya tertahan kembali. Art dan Hana sedang di belakangnya meminta kami untuk jujur saja. “Kapten Jack tidak akan marah, jujur aja,” saran Art. “Kami dari…,” kembali suaraku tertahan. “Twiggram?” Pertanyaan itu menohok kami, kami tahu letak meta twiggram bukan rahasia, tapi kami sadar harusnya kami belum waktunya punya akses ke twiggram. Karena sudah tidak ada alasan mengelak, kami hanya bisa mengangguk. “Manfaatkan twiggram kalian dengan baik, demi kepergian kalian ke bulan, tapi saya tidak akan mentolerir pelanggaran semacam ini lagi, kalian paham?” suara berintonasi dan irama tepat itu membuat kami hanya bisa berjanji untuk tidak mengulangi lagi. “Ya sudah, segera kembali ke kamar kalian,” tunjuknya pada kami, “kalian juga.” Matanya mengarah pada Art juga Hana. Keduanya mengerti sehingga mengekor pada kami yang juga kembali ke kamar. “Eh tunggu!” panggil Kapten Jack itu. Kami berempat menoleh, menunggu perintah lanjutan dari orang yang dipanggil Kapten Jack oleh Art. “Segera ke ruang mandu, bersihkan tubuh kalian,” kata Kapten mencibir senyum pada kami. Dengan malu-malu dan wajah merona, kami terkikik. Kami berterimakasih sebelum akhirnya berlalu dari pandangannya. Art dan Hana terlihat sedang mengobrol dengan seru. Hana menunjukkan tabletnya dan Art hanya mengiya-iyakan saja. Kami berpisah di lorong tangga. Aku, Suvara dan Hana akan pergi ke sisi kanan gedung sedangkan Art tentu saja di seberangnya. Karena tinggal bertiga, aku dan Suvara memperlambat langkah kami dan mencoba mengajak Hana berbicara. “Terima kasih ya atas bantuanmu,” kataku. “Ah, biasa saja, selama ada Kapten Jack, kalian akan baik-baik saja di camp ini,” terangnya. “Kalian terlihat dekat sekali,” ujar Suvara. “Kan dia memang kakakku,” katanya sambil tersenyum sebelum melambaikan tangannya dan kami pun berpisah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN