Chapter 18

1054 Kata
"RR?" tanyaku. "Iya, Real Report," jawabnya singkat. "Apa itu?" "Informasi pelaksanaan seminar dari orang yang sudah melakukannya." "Kita bisa mendapatkannya dari orang-orang yang sudah pernah ke bulan kan? Ingat kita punya twiggram," bujukku menyemangatinya. "Justru karena aku ingat aku punya twiggram, makanya aku berharap begitu." "Hehehe, aku masih tidak paham," sekali lagi kepalaku yang bahkan tidak berambut lebat ini meminta untuk digaruk sekalipun tidak gatal. "Dalam setiap tahun, suasana seminar selalu berbeda. Pertanyaan yang dilontarkna seiring isu berkembang yang relevan dengan penelitian juga akan berbeda. Orang yang memberi real report akan sangat menjelaskan tentang isu-isu yang menjadi pertanyaan. Paham?" "Sampai poin ini paham, tapi masih menyimpan pertanyaan," jawabku serius. "Apalagi?" Suvara memasukkan buku terakhir yang ada di tempat tidurnya dalam barisan bukunya di atas meja belajar. "Mengapa ada yang membuat real report?" "Terkadang mereka ingin membagi hal-hal itu dengan orang yang mereka anggap dekat, lebih luasnya murni hanya untuk membuat cerita saja, tidak ada keuntungan apapun untuk mereka pribadi." Aku mengangguk. Mulai mengerti cara kerja dari berkeliarannya real report di twiggram. Saat baru saja berbaring, pesan dari Illeus masuk. "Jadwalku sudah keluar, bagaimana denganmu?" tanyanya. "Baru Rabu akan diumumkan. Kapan seminarmu?" balasku. "Satu minggu lagi. Msih cukup untuk memperbaiki abstrakku. Kamu sudah membaca semuanya kan?" selidiknya. "Hehehe, belum," jawaban itu kuikuti dengan emo terkikik. “Ayolah Ra, aku bahkan sudah memberitahumu tentang kekurangan abstrakmu,” jawabnya di sela dia terlihat sedang memegang buku literasinya. “Iya Ill, maafkan aku,” aku menatapnya dengan merasa bersalah. “Kapan?” “Begini saja, sekarang aku akan membacanya, setuju?” “Iya, baca cepat saja ya,” aku mengangguk sembari mengiyakan maunya dalam pesan. Kemudian dia sudah tidak lagi membalas pesanku. Seperti janjiku, aku membuka abstrak yang dikirim Illeus dan membacanya dengan baik. Beberapa hal yang kuanggap akan menjebak kucatat pada buku catatanku. Tidak kusangka, Suvara sedang di belakangku dan sudah cukup lama mengintip catatan yang kutulis juga abtrak Illeus yang k****a. Napasnya yang semakin mendekat membuatku terhenyak saat aku berpaling. “Abstrak siapa itu? Rapi sekali,” komentarnya. “Punya temanku,” jawabku tanpa berpaling padanya. Aku tak mau kehilangan fokus sudah sampai mana aku membacanya. Suvara ternyata ikut meneliti dan dia mengoreksi juga catatanku. Kurang lebih ada lima kesalahan yang kami temukan didalam abstrak Illeus. Setelah k****a sekali lagi catatan dan abstrak itu dengan cepat, kemudian aku menghubungi Illeus. “Hai Ill,” sapaku mengirim pesan. “Sudah?” “Iya,” kuikuti dengan emo tersenyum. “Cepat sekali,” puji Illeus. “Mau pesan teks atau video Ill?” tanyaku. “Twiggram,” balas Illeus. Aku melihat jam tanganku dan harusnya aku masih bisa keluar dari camp untuk dua jam ke depan. Aku menyambar jaketku dan juga tas ranselku. Di dalamnya buku catatan dan tabku bahkan energi chargernya juga sudah kusiapkan. “Aku pergi ke twig ya?” pamitku pada Suvara. “Aku ikut!” Tidak mau kalah, dia segera mengemasi tabnya dan menyambar jaketnya. Menyembunyikan kaos oblong bergambar kuda poninya di balik jaket. Kami bersama keluar dari kamar menuju lobi dasar dan menyalakan cahaya dari ponsel begitu memasuki hutan belakang gedung. “Kamu bilang apa tadi ke penjaga?” tanyaku. “Tadi aku bilang kita akan menjenguk hasil penelitianmu,” jawab Suvara terkikik. “Kenapa ya Twiggram hanya dibangun di hutan? Kalau memang meta, mengapa tidak bisa diakses di cabang batang maple depan kamar?” tanyaku sembari tetap berjalan. “Tanyakan pada anak-anak computika, mengapa meta tetap membutuhkan energi besar dan ruangan yang nyata,” jawab Suvara juga tak kalah acuhnya. Kami berjalan dengan sangat hati-hati. Kami tahu sebenarnya kami tidak sendiri di sini, aku bahkan tahu Art punya akun di sekitar sini juga. Tapi ebgitu melewati lorong, meta sudah memisahkan kami seolah kami hanya sendiri. Nyala rumah pohonku redup, dengan warna hijau yang cukup gelap. Aku kemudian membawa Suvara naik ke ranchlift yang membawa kami tepat di depan pintu twighome. “Selamat datang Kisyara, tumben malam-malam kamu mengunjungiku?” sapa Moon. “Twigvid Moon, Illeus Yusiva,” kataku dan dalam sekejap Moon menyiapkan panggilan videoku dengan Illeus. “Ill, ini Suvara, teman sekamarku,” kataku memperkenalkan mereka. “Hai Suv!” sapa Illeus “Baiklah, perkenalannya cukup, aku tidak punya banyak waktu, jadi kuharap kamu bisa mendengarku baik-baik,” kataku. “Oke,” terlihat Illeus juga berada di twighome yang nyaman. Di tangannya, sebuah tab dan penmouse sudah terpegang kuat. Siap-siap mencatat apa yang akan aku katakan. “Satu, di abstrakmu kamu mendetailkan cara kerja aplikasimu, tapi sayangnya kamu melupakan tata urutan yang baik, orang akan cenderung kesulitan membaca cara penggunaan yang kamu paparkan, bagaimana kalau tambah gambar?” “Itu bukan rumit, tapi memang aplikasi ini tidak bisa diakses dalam sekali tekan lalu biaya akan terpilah sendiri, dia harus menggunakan banyak variabel untuk menghitung cost yang dikeluarkan.” “Kalau begitu permudah,” jawabku. “Caranya?” “Sembunyikan langkah yang tidak penting, buat beberapa paket variabel saja,” jawabku yang membuatku sendiri tercengang dalam hati. “Oke great! Sama sekali tidak terpikir,” jawabnya. “Kedua…” aku dan Suvara dengan bergantian memberikan saran untuknya. Kami saling bertukar pikiran, bertanya jawab dengan serius sampai lupa waktu sepertinya sudah agak telambat dari jam kami kembali ke Camp. Aku segera berpamitan dengan Illeus dan berjanji menghubunginya kembali begitu aku sampai di kamar. “Suv, bagaimana jika kita tidak bisa masuk?” tanyaku dengan gugup. “Kita kembali dan tidur di twighome masing-masing.” Aku membayangkan harus tidur di hologram padat. Yang jika aku berbaring di atasnya sebenarnya aku tidak lebih dari tidur di ranting pohon terbuka. Dingin udara malam segera mengeraskan rahangku begitu aku membayangkannya. “Ah, jangan begitu, ayo bergegas,” aku melompati batang-batang pohon yang rubuh. Suvara tidak kalah tangkasnya ketika melompati ranting-ranting. Sesekali dia menggerutu tapi aku tidak mempedulikannya, dia sendiri yang ingin ikut ke tempat ini. Jadi sekarang tidak ada alasan untuk menyesal. Bahkan dia juga ikut larut berdiskusi, memberi ide pada Illeus sampai kami sama-sama lupa waktu. Kami sampai di gerbang Camp tapi benar saja, gerbang itu sudah tertutup. Aku dan Suvara berusaha mengingat, apakah ada jalan lain. Ketika dia berandai-andai punya roket yang melayang di atas seperti punya Art, saat itu aku ingat menara yang menjadi tempat bertemunya aku dan Art malam itu. Aku segera mengajak Suvara memutar. Seingatku ada sedikit celahtepat di bawah menara. Sebuah pagar reyot yang tidak ada penjaganya, kurasa akan lebih dipanjat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN