Chapter 29

1133 Kata
Terdengar knop pintu mulai berputar, aku menoleh ke arah pintu,meskipun aku yakin itu Suvara yang kembali dari food court. Pintu terbuka, sosok di depan pintu membuatku sedikit terkejut. Itu Zara dengan kotak obatnya. Di belakangnya Suvara membawa sekotak meals untukku. “Maaf aku lupa memberimu antibiotik kemarin, aku harap lukamu tidak infeksi,” katanya. “Tidak, kurasa dia semakin baik, hanya sedikit kaku jika digerakkan, kurasa karena di lutut,” jawabku. “Iya kamu benar,” jawabnya lalu duduk di bawahku. Dengan hati-hati dia melepas perban yang membalut luka di kakiku. Luka itu agak menghitam, tapi kurasa sudah semakin kering. Zara membersihkannya dengan alkohol sebelum kembali mengobati dan kali ini hanya menutupnya dengan plaster. “Sudah cukup kering, kurasa kamu tidak perlu antibiotik,” katanya sembari berdiri. “Terima kasih lagi kak,” kataku. “Sudah menjadi tugasku, merawat anak-anak di sini,” jawabnya sembari tersenyum. Dia lalu pamit dan Suvara mengantarnya sampai ke pintu. Kemudian dia menceritakan bahwa tadi dia melihat Zara di food court dan langsung mengenalinya sebagai anak yang pernah bersamaku kemarin. Zara memintanya menunggu selagi dia mengambil kotak obat-obatan dan mengikuti Suvara untuk mengobati kakiku lagi. “Dia perawat yang baik,” kataku. “Ya, dan kurasa dia benar, itu sudah kewajibannya.” Kami masih bercerita tentang hari Suvara selagi kami mengunyah makan siang kami. Dia yakin dia lolos kali ini. “Kamu tahu? Kali ini aku sama sekali tidak berdebar, langkahku ringan dan aku penuh percaya diri,” ceritanya. “Kan sudah kubilang, kamu akan berhasil kali ini,” jawabku. Pandangan Suvara mengarah ke luar jendela. Kosong tapi sedang penuh harapan. Lalu saat dia kembali fokus padaku, dia mengubah arah ceritanya. “Tadi aku bertemu dengan empat serangkai itu,” tuturnya membuatku berpikir, siapakah yang dimaksudkannya. “Jangan pura-pura lupa, Art dan teman-temannya,” jawabannya membuatku mengerucutkan bibirku untuk menggumam O sesaat. “Lalu?” “Sepertinya mereka tidak sedang bahagia,” lanjut Suvara. “Bagaimana kamu tahu?” “Raut wajah mereka suram,” jawaban acuhnya membuatku merasakan sesuatu. “Salah satu dari mereka rivalmu?” “Hana,” lirih, nama itu diucapkannya berat. “Tidak akan ada yang terjadi, tenanglah,” bujukku. Aku tahu dia merasa khawatir karena setahu kami Hana adalah adik Kapten Jack. Akankah ada kemudahan bagi Hana untuk memenangkan kompetisi ini? Tapi aku berharap Kapten Jack adalah orang yang baik, jujur dengan integritas tinggi dan tidak akan semudah itu merubah kemenangan orang lain. Jika pun memang Hana adalah rival bagi Suvara, dan memenangkan kompetisi, itu karena Hana pasti juga salah satu yang terbaik dari kami. Kalau kakaknya saja kompeten, apalagi adiknya. Aku memikirkannya sampai lama terdiam. Ketika Suvara berdiri dan membuang sisa makanan kami aku melihatnya yang tidak seceria tadi. Tapi senyumnya masih melengkung sempurna. “Kamu belum bercerita mengapa wajah mereka suram,” ucapku begitu dia kembali ke kamar. “Entahlah, mungkin salah satu dari mereka gagal?” “Bisa langsung tahu kalau gagal?” tanyaku. “Ya tidak sih, tapi bisa saja ada kesalahan selama presentasi kan?” “Ah, iya.” Aku mengangguk sebagai tanda aku mengerti perkataannya. “Kapan ya kita tahu kalau kita berhasil?” tanyaku. “Pasti tidak lama setelah kita ada di rumah.” Jawabannya membuat kedua alisku hampir bertemu. Aku mengernyit karena kukira aku akan berada di sini sampai aku bisa terbang ke bulan. “Jadi setelah ini kita pulang?” “Iya, dan seluruh staff Moons Camp akan menyiapkan bahan dan peralatan bagi para pemenang babak ini, dan itu membuatuhkan waktu yang lama.” “Siapa yang mendanai semua ini Suv?” “Setahuku pemerintah dan beberapa sponsor, toh hasil penelitian kita akan bernilai ekonomi nantinya, baik di distrik lain atau bahkan di negara lain.” “Kamu pasti senang akhirnya bisa pulang,” kataku. “Aku akan merindukanmu,” kami pun berpelukan. “Kapan kita akan pulang?” “Setelah semua selesai presentasi, ada acara penutupan babak, lalu kita bisa pulang.” “Kapan itu?” “Entah, kenapa?” “Aku takut tidak ada yang menjemputku,” keluhku. “Aku dan Mamaku bisa mengantarmu pulang.” Aku kembali memeluknya, terlalu bahagia memiliki teman sekamar sepertinya. Aku berjanji dalam hati, saat itu hari itu tiba, aku akan memberikan sesuatu padanya. Walaupun saat ini aku masih berpikir, hadiah apa yang sebaiknya kuberikan. “Kurasa aku ingin jalan-jalan,” kataku. “Kamu jenuh ya?” Aku menganguk. Tapi aku tak ingin merepotkannya. Karena itu walaupun dengan berpengangan pada tembok, aku berjalan di sepanjang lorong. Suvara juga ada di sampingku. Beberapa anak ramah bertanya apa yang terjadi dengan kakiku. Kami menjawab apa adanya, bahwa aku terjatuh dan serpihan kaca menempel di lututku. Kami telah sampai di ujung lorong, di sebuah balkon lantai tiga. Sudah lebih dari satu minggu kami di sini, tapi kami bahkan baru kali ini bersandar di balkon ini. Sebelumnya kami sibuk dengan abstrak kami, dengan literasi dan perpustakaan. Kali ini pemandangan sejuk kami dapati dan membuatku betah berdiri di tepian balkon. Begitu juga dengan Suvara. Tidak sengaja, seorang anak laki-laki datang dari lorong lain dan melakukan hal yang sama dengan kami. Sesuatu yang membuatku tertarik adalah liontin hijaunya yang sama denganku. Dikenakan di ikat pinggangnya. Mungkin karena sudah selesai presentasi. Jadi dia dengan santai menunjukkannya. Aku melihat tanganku. Milikku pun masih ada di pergelangan tanganku. Aku memandangnya. Berniat menyapanya tapi takut dia tidak berkenan. Sampai dia menyadari aku sedang memandanginya. “Ada yang salah Nona?” Aku tidak menjawab, hanya menunjukkan liontin yang melingkar di pergelanganku. Dia pun segera mengerti. Aku ingat baik kata Suvara, setiap orang punya cara yang berbeda ketika bersaing. Kurasa anak laki-laki ini adalah salah satu dari yang baik. Dia mendekat padaku dan kami pun berjabat tangan. “Kisyara,” kataku memperkenalkan diri. “Hagi,” jawabnya. “Sudah selesai kan dengan presentasinya?” tanyaku. “Sudah, Nona membuat apa?” “Persilangan sycamore dengan clitoria,” jawabku. “Dua-duanya spesies bahkan genus yang berbeda, anda hebat sekali jika bisa memotong dna nya dengan tepat,”pujinya. “Entahlah, kita baru di babak abstrak kan? Bagaimana denganmu apa yang kamu buat?” Suvara tampak acuh saja dengan pembicaraan kami, dia membiarkan angit merusak tatanan rambutnya yang selalu rapi. Membelai pipinya yang masih cukup merona siang ini. “Aku membuat vaksin,” jawabnya. Dia menjelaskan sebuah penyakit endemik di wilayahnya yang banyak terjadi karena persebaran kotoran kelelawar. Aku mendengar dengan baik seluruh penjelasannya. Bukan berharap, tapi bisa jadi ada informasi yang bisa kugunakan dalam penelitianku yang lain. “Salah satu atau berapa dari kita yang akan pergi ke sana?” tanyanya sambil melihat langit. “Berapapun dan siapapun aku harap itu yang terbaik.” Dia terlihat puas dengan jawabanku. Dia pun kemudian berpamitan untuk undur diri lebih dulu. Aku dan Suvara tersenyum mengantarkan kepergiannya. Lalu kami kembali menikmati bunyi gesekan daun, sepoi-sepoi angin juga warna-warni bunga yang terlanjur memanjakan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN