Chapter 30

1093 Kata
“Aku sudah tidak sabar untuk mendengar kabar baiknya,” kata Suvara sembari tidak berpaling. Dia masih menikmati hijau yang menghampar luas. Apalagi Moons Camp memang dibangun di hamparan luas yang jauh dari perkotaan. Dari tempat kami berdiri yang terlihat adalah taman hijau dan dan berakhir di sebuah kaki bukit. Di sisi lain gedung mungkin yang terlihat adalah hutan twig dengan rumah-rumah pohonnya. Ah iya rumah-rumah meta itu tidak akan terlihat dari luar hutan. “Aku mengira aku akan lebih lama di sini, ternyata harus pulang ya?” tanyaku kecewa. “Keluargamu pasti rindu, lagipula hanya pulang sebentar, lalu aku dan kamu akan mendapat undangan untuk kembali ke sini. Masih ingat pertama kali kedatanganmu kan?” Bayangan aku datang bersama Bu Mira dan tercengang melihat kemegahan ini menghampiri otakku. Kalau harus pulang, dan datang kembali, apakah Bu Mira masih mau mengantar aku lagi? Aku menggelengkan otakku. Kalau Art saja bisa datang sendiri, kenapa aku tidak. “Kita akan bertemu lagi di kamar itu kan?” tanyaku berharap. “Semoga saja iya, tahun lalu aku tidak mendapat teman kamar yang sama,” jawabnya. Aku menghela napas khawatir, Suvara adalah teman sekamar yang baik. Bukan karena aku anak baik lantas dia berlaku baik pula. Tapi karena memang dia anak yang baik dan aku senang dengan semua kebaikannya. “Ayo kembali ke kamar,” ajakku setelah senja menghampiri. “Tunggu sebentar, matahari sedang bagus-bagusnya,” kata Suvara. Aku mengiyakan dalam diam. Dia benar, matahari sedang cantik-cantiknya. Merona jingga dan mulai lingsir menuju puncak bukit. Sebagian langit sudah tidak lagi biru, melainkan menyertai matahari menjadi jingga kemerahan. “Sedang menikmati matahari?” suara itu membuat kami berpaling. “Iya Sir,” jawab kami hampir bersamaan. Kapten Jack sedang menyandarkan tangannya pada pagar balkon. Dia berdiri di samping Suvara dan bersama kami menikmati matahari tenggelam. Akhirnya kami berdiri dalam diam hingga matahari menggelapkan langit setelah ia tidak lagi terlihat. “Sudah selesai kan?” tanya Kapten Jack. “Sudah Sir,” jawab kami lagi. “Tahun ini nilai cukup tinggi-tinggi, kalian semua hebat.” “Apakah nilai sudah selesai Sir?” tanya Suvara. “Untuk numera dan genetika sudah.” Kapten Jack menjawab dengan tersenyum. Aku menjadi gugup setelah mendengar kata genetika. Ada keinginan untuk ingin bertanya lagi, tetapi aku tidak berani. “Bagaimana dengan Kisya Sir?” tanya Suvara. “Nilainya sangat tinggi, aku yakin dia akan kembali ke sini?” “Benar begitu?” tanya kami kegirangan. Anggukan Kapten Jack sambil berpaling menjadi kabar gembira yang kami dengar sore ini. Aku dan Suvara saling berpelukan dan berharap bisa saling melompat untuk merayakan kabar gembira ini. “Tahun ini beberapa genetika yang lolos pemanfaatan tanaman,” tutur Kapten Jack sambil berlalu. “Terima kasih Sir,” kataku. Sambil berlalu, dia mengepalkan tangannya ke atas. Meminta kami untuk lebih semangat lagi. “Aku berharap kamu juga mendapat kabar yang sama tidak lama lagi.” Aku menggandeng Suvara saat kami kembali ke kamar. Melewati beberapa ruangan yang jelas saja tertutup. Masih dengan merapat pada dinding, aku berjalan dengan terpincang-pincang. Tiba-tiba kami mendengar sesuatu pecah dan teriakan dari salah satu ruang. Aku dan Suvara saling memandang, kemudian memilih kembali beberapa langkah ke belakang. Saat kami baru hendak membuka pintu ruangan dengan label laboratorium, alarm keras berbunyi mengagetkan kami. Hentakan dan derap langkah berlari menuju kami. Aku melihat Kapten Jack ada di salah satu orang yang berlari itu. “Cepat kembali ke kamar, di sini tidak aman,” kata seorang petugas kepada kami. Kapten Jack tidak menoleh pada kami, tetapi dia dan pasukan itu bersiap masuk ke dalam laboratorium yang saat itu terjadi kegaduhan. Suvara dengan merangkulku menuruti perintah petugas tadi. Dia membawaku kembali ke kamar. “Apa yang terjadi ya?” tanyaku. “Entahlah, aku juga baru melihat kejadian seperti itu kali ini.” Kami dengan cemas menunggu di dalam kamar. Hingga tidak lama, alarm panjang dan suara peringatan terdengar. Kami diberi waktu 1 jam untuk segera mengemasi semua perlengkapan kami dan harus segera menuju ke stadion secepatnya. “Mengemasi?” Pertanyaan itu sempat menjadi kebingungan di antara aku dan Suvara. Tapi kami segera melakukan perintah yang terdengar itu. Kami mengemasi barang-barang kami dengan cepat dan tergesa. Buku perpustakaan yang kupinjam ada di pelukanku. Haruskah aku mengembalikannya? “Suv, tunggu aku di stadion, aku akan mengembalikan buku ini,” Suvara mengangguk. Suvara membawa sebagian barangku dan bergegas turun dengan lift yang berdesakan. Semua masih menjadi pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi. Di lift yang mulai turun, anak-anak yang panik namun yang mengerti sebenarnya ada apa saling berbisik dan bertanya adakah yang tahu. Aku baru saja akan membuka mulutku, menceritakan bagaimana awalny sampai alarm tadi terdengar. Tapi Suvara segera menahanku, dia menggenggam tanganku lebih erat dan dan wajahnya menggeleng pelan. Mengisyaratkanku bahwa lebih baik aku diam. Lift terbuka, aku berusaha keluar dari kerumunan, untuk menuju ke perpustakaan tetapi seorang petugas menahanku, aku harus tetap turun bersama anak-anak lain. “Buku ini?” aku menunjukkan label perpustakaannya. “Bawa saja, kembalikan saat kamu kembali ke sini,” kata petugas itu dan lift segera menutup kembali. Di stadion, kami dibariskan dalam barisan acak yang besar. Aku bersyukur aku masih ada di samping Suvara. Aku melihat anak-anak berlarian dari pintu keluar gedung. Anak-anak itu kali ini menjadi satu barisan penuh. Entahlah pasti ada ribuan anak di sini. “Mohon maaf untuk kepanikan yang terjadi. Sebuah sample penelitian pecah, itu virus yang cukup berbahaya, maka asrama harus kita kosongkan sampai keadaan terkendali. Kalian semua akan kami pulangkan. Untuk yang belum selesai seminar akan kami fasilitasi sembari menunggu keadaan membaik. Mohon untuk tidak merubah data dan alamat kalian untuk memudahkan kami menghubungi anda kembali. Kepulangan kalian semua akan kami fasilitasi dengan bus ataupun kereta sesuai dengan jalur yang bisa kalian lewati untuk pulang. Sekali lagi untuk kepanikan yang tidak diharapkan ini, saya mohon maaf,” begitu Kapten Jack menjelaskan pada kami melalui pengeras suara tanpa terlihat di mana dia berada. Aku dan Suvara memandangi gedung yang mempertemukan kami itu. Semua kebahagian yang syahdu tadi kini lenyap. Di bawah gemintang yang banyak bertabur. Kami berpisah. “Saling berkirim kabar ya?” teriakku dari jendela bus yang akan mengantar aku pulang. “Iya, hati-hati,” dia membalas lambaianku. Rumah kami tidak searah, dia dan aku akan menaiki bus yang berbeda. Setelah itu dia akan menuju ke stasiun dan menaiki kereta untuk pulang. Aku merogoh saku tas yang ada di pangkuanku. Memastikan biji Sytoria tidak tertinggal. Setelah bisa meraba kotaknya aku pun menjadi lega. “Hai, “ seorang di sampingku menyapaku. “Ah, kamu lagi,” jawabku dengan tersenyum. “Aku tidak menyangka kita akan pulang seperti ini,” katanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN