Chapter 46

1060 Kata
Aku langsung membawanya ke dalam begitu ruang pengobatan dibuka dari seseorang dari dalam. Suvara segera ditidurkan di atas tempat tidur. Dan menerima pertolongan pertama. “Kenapa?” tanya seorang suster. “Tidak makan siang,” jawabku. “Baik, tunggu di sini dulu,” suster itu memanggil dokter jaga selagi aku menunggu di samping Suvara yang terus merintih. “Sakitkah?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan terlihat linangan air mata mengalir dari sudut matanya. Aku menghapusnya dengan tanganku. Iba menyeruak di seluruh hatiku. Antara tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan ingin mengurangi rasa sakitnya. “Kamu ingin aku menghubungi orangtuamu?” tanyaku. Dia menggeleng sambil tetap mencengkeram perutnya. Beberapa petugas medis datang dengan terburu-buru menghampiri Suvara. Tirai ditutup dan aku hanya bisa menunggu di barisan kursi yang ada di sisi dinding. Aku terus memandangi tirai yang tertutup itu. Sampai kemudian seseorang membuka pintu ruangan dan membuatku terkejut dan seluruh fokusku segera kembali. “Hai Kisyara, sedang apa di sini?” tanya Kapten Jack padaku. “Mengantar Suvara Kapten,” jawabku. “Sesuatu terjadi?” “Sepertinya dia melupakan waktu makan siangnya,” jawabku. “Hari ini jadwalnya percobaan?” “Tidak, sepertinya dia menghabiskan waktunya sepanjang siang di perpustakaan,” jawabku lagi. “Ah, kamu tidak perlu panik, dokter-dokter di sini, ahlinya mengobati penyakit lambung, ini sudah keseribu kalinya lebih anak-anak seperti kalian yang lebih asyik meneliti daripada tidur atau makan,” katanya. “Kapten Jack dulu juga seperti kami?” tanyaku. “Memenangkan perjalanan ke bulan?” Aku mengangguk. Dia pun menampakkan senyumnya lalu mulai menceritakan masa mudanya. Bahwa dia pun punya langkah yang tidak kalah terjalnya dengan kami-kami saat ini. Meskipun tidak ada tekanan dari orangtuanya, tetapi bulan adalah impian yang harus diraihnya setelah beberapa cita-citanya tergagalkan oleh perspektif orangtuanya. Dia menurut ketika hanya mempelajari satu materi bertahun-tahun agar menjadi seseorang yang mahir dalam satu bidang dan fokus berkarir di dalamnya. Baru kemudian dia fokus itu ia ubah menjadi keahlian yang bisa membuatnya seperti saat ini. Berada dalam lingkarang jalur perjalanan luar angkasa. Membimbing dan mengantar anak-anak berpotensi untuk meraih sesuatu yang gemilang. Lebih dari bulan katanya. “Masih ingatkan saat saya berpesan bulan hanya sebuah hadiah?” tanyanya. Aku pun mengangguk. Sampai kapanpun, tentu aku tidak akan melupakan makan malam saat itu dan semua diskusi yang sarat amanat darinya. Baru saja beliau hendak membuka bibirnya, tirai rawat Suvara terbuka. Aku dengan sigap berdiri dan menunggu pernyataan sang dokter. Begitu juga Kapten Jack yang bersedekap menunggu keterangan sang dokter. “Selamat malam Kapt!” sapa dokter itu. “Selamat malam dokter, bagaimana keadaannya?” “Saya rasa jauh lebih baik. Saya sudah memberi pereda nyeri dan obat untuk lambungnya. Karena ada kandungan benzodiazepin di dalamnya, sekarang dia sedang tidur.” “Syukurlah,” gumamku pelan. “Untuk berikutnya?” tanya Kapten Jack lagi. “Biarkan dia beristirahat di sini sampai besok siang,” kata dokter itu. “Baik, ada lagi?” “Saya rasa tidak.” Kapten Jack berbalik menghadap padaku. “Kamu sudah mendengarnya, tidak perlu khawatir, kembali ke kamarmu, istirahat. Saya tidak mau terlalu banyak anak yang sakit di asrama kita, karena kamu tahu sendiri, asrama kita sedang mendapat sorotan,” terang beliau. Aku sebenarnya ingin memilih untuk menunggui Suvara. Tapi perintah beliau tampaknya bukan sesuatu yang bisa ditawar. Akhirnya aku memilih keluar setelah memberi salam kepadanya dan dokter yang merawat Suvara. Saat aku hampir meninggalkan ruangan itu, sayup-sayup aku mendengar percakapan antara Kapten Jack dengan dokter itu. “Mengambil obat lagi?” “Tentu saja,” kata Kapten Jack. “Baik, akan segera saya siapkan.” Apakah itu artinya Kapten Jack masih sakit? Aku merenung selagi dalam perjalanan kembali ke kamar. Sakit apa yang diderita Kapten Jack? Apakah masih berkaitan dengan virus yang lalu, ataukah ada yang lain? Atau obat itu bukan diperuntukkan untuknya? “Hai, jangan melamun saja, lihat depan kalau sedang berjalan,” kata seseorang setelah aku menabrak bahunya. Aku berhenti dan mendongak. Melihat ke asal suara yang ternyata aku mengenalnya. Rose. Dia dengan tersenyum mengingatkanku untuk tidak terus menunduk saat berjalan. “Mikir apa sih?” tanyanya. “Hm..,” aku berpikir harus menjawab apa. Aku tidak tahu sebaiknya berkata jujur bahwa aku memikirkan obat yang diinginkan Kapten jack atau memikirkan Suvara yang saat ini sedang dirawat diruang kesehatan. Tapi kemudian, aku menggunakan kesempatan ini untuk bertanya. “Menurutmu Kapten jack masih sakit?” tanyaku. “Tidak, diasudah sembuh, sudah kembali seperti semula.” “Aku tadi melihatnya datang ke ruang kesehatan,” jawabku. “Di lantai berapa?” “Lantai ini,” jawabku. “Istrinya bekerja di ruang kesehatan tapi di lantai 4,” jawab Rose. “Artinya apa kalau dia datang ke lantai dua?” tanyaku. “Mungkin sedang kontrol peralatan saja.” “Aku dengar dia membutuhkan obat.” “Kalauitu aku tidak tahu, mungkin masih efek dari crown,” jawab Rose. “Bisa jadi.” Rose pun bertanya, tumben aku tidak bersama Suvara. Kujawab bahwa teman sekamarku itu sedang berada di ruang kesehatan yang sama dengan Kapten Jack berada. Dia pun berharap semoga Suvara semoga sembuh. Kemudian kami saling meninggalkan karena Rose akan pergi ke tempat lain yang berlawanan arah denganku. Di dalam kamar, aku tidak bisa memejamkan mataku. Terbiasa ada Suvara di sisi lain ruang tidur kami. aku memandangi tempat tidurnya yang kosong, meja belajarnya yang belum tertutup semua bukunya. Aku pun membantunya merapikan buku-buku dan semua sumber literasinya, setelah sebelumnya memberi tanda sampai dihalaman mana dia membaca. Pun di literasi digitalnya aku menyimpannya jadi bookmark agar dia tidak kesulitan mencari jejak bacaannya. Saat merapikan meja belajarnya. Aku mendengar tabnya bergetar. Kulihat nama dan gambar yang ada di layarnya. Ternyata vans sedang menunggu di depan layar di seberang sana. “Hai Vans,” sapaku. “Hai Ra, di mana Suvara?” tanyanya. “Maaf, tapi dia sedang sakit, aku baru saja kembali dari mengantarnya ke ruang kesehatan,” jawabku. “Sakit?” “Ya, sepertinya dia melewatkan jam makan siangnya hingga saat ini.” “Padahal aku sudah mengingatkannya untuk berhenti sejenak tadi,” kata Vans. “Ah, kamu tentu lebih mengenalnya dia orang yang seperti apa,” jawabku. Vans pun bertanya bagaimana keadaan Suvara. Aku menjawab sesuai dengan yang kutahu. Vans terlihat khawatir dan sedih, tetapi aku meyakinkan bahwa Suvara telah baik-baik saja. “Oh iya Ra, apakah temanmu berniat kembali ke tempatku?” tanya Vans. “Entahlah, tapi aku mendukungnya untuk bekerja di tempatmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN