Aku melihatnya keluar dengan masih menggunakan jas lab dan tanpa kacamatanya. Meskipun begitu perawakan dan gaya berjalannya masih mudah untuk kukenali. Aku tersenyum kepadanya dan dia membalas senyumku sembari melambai.
“Sukses?” tanyaku.
“Hari ini lancar, bagaimana denganmu?”
“Lancar juga,” jawabku.
“Sudah lewat jam makan siang dan aku tahu kamu belum makan bukan?” tebaknya.
“Iya kamu benar, rasanya sayang sedang seru-serunya lalu terjeda makan,” kataku.
“Ayo makan di bawah, aku juga belum,” ajaknya.
Kami lalu menyimpan jas lab kami di dalam tas ransel yang tersandang. Setelahnya kami turun ke bawah dan berjalan ke food court dengan barisan anak-anak yang tampaknya juga baru keluar dari lab maupun bengkel masing-masing.
“Ambil sepuasmu, aku yang traktir,” kata Sunna.
“Ah, tidak perlu, jatah dari sini pun cukup,” jawabku.
Kami lalu duduk di salah satu set kursi yang berada di luar atap food court. Di sebuah sisi tengah dimana kami bisa melihat area football juga pintu bawah asrama yang dijaga seorang petugas. Sunna melihat pertugas itu dengan lekat, sebelum akhirnya menunduk dan menikmati segelas kopi hangatnya.
“Bagaimana jika penjaga itu robot dan bukan manusia?” tanyanya setelah menelan seteguk kopi.
“Selama tidak mengakibatkan sebuah kerugian aku tidak masalah, toh bagaimanapun robot jauh lebih disiplin karena hanya memahami sebuah prinsip yang sudah diprogramkan, tinggal kita bisa mengikuti aturan itu atau tidak,” jawabku.
“Bagaimana kalau kloning?”
“Tinggal siapa yang dikloning? Bersediakah? Toh kita sama-sama tidak tahu, apakah kita anak-anak hasil perkawinan atau juga rekayasa genetika, iya kan?”
Sunna terlihat merenung, seolah sedang berpikir bagaimana jika ternyata dia adalah hasil kloning seperti yang dipikirkannya. Aku lalu tersenyum dan mencubit punggung tangannya.
“Sudah, tidak terlalu dipikir, toh kita masih hidup baik-baik saja, mendapat pendidikan yang lebih baik dari yang lainnya, tidak mengalami eksploitasi sepanjang kita hidup ini,” kataku.
Dia pun juga tersenyum, sepertinya sudah berhasil mengusir bayangan halusinasi dan pikiran negatif dari otaknya.
“Pakai referensi DNA apa saja?” tanyanya kemudian.
Aku menarik jurnalku dan menunjukkan daftar referensi yang kugunakan. Dia mengurut nama dan judul yang kutulis dan kulihat jarinya berhenti di sebuah daftar. Itu adalah salinan jurnal yang diberikan Illeus padaku.
“Rudolf Marcques, dari mana kamu dapat jurnalnya?” tanyanya.
“Dari teman, kenapa?”
“Kamu tahu ini referensi yang sangat bagus?”
“Tahu setelah membacanya dan hampir seluruh isinya bisa kugunakan,” jawabku.
“Benar, ini adalah jurnal ilmiah yang sangat bagus dan boleh dibilang hampir hilang dari peredaran, kalau boleh aku ingin punya salinannya,” katanya sambil tersenyum.
“Tentu, nanti akan aku kirimkan kepadamu,” kataku sambil menyuap sesendok bubur gandum.
“Kamu tidak keberatan?” selidiknya.
“Untuk apa?”
“Jangankan memberikan salinan referensi, sekedar memberi tahu progress penelitian saja terkadang para kompetitor keberatan,” kata Sunna.
“Aku dengar dari sahabatku begini, ‘Kalau bulan sudah memanggil, kita bisa apa,’ dan aku meyakini pernyatannya,” terangku.
“Artinya kalau pun tidak memanggil, kita tidak bisa berbuat apa-apa?” tanya Sunna.
“Yup, cukup berusaha sebaik yang kita mampu, jangan berubah menjadi manusia yang tidak beradab,” kataku.
“Sekarang aku yakin kamu orang yang tulus mencari rival kita saat itu,” katanya sambil terkekeh.
“Itu bukan ketulusan Sunna, sudah kubilang, itu adalah penebusan dosa.”
Kami menghabiskan makan siang kami dan memilih untuk bertahan di tempat itu sampai beberapa waktu. Kami memandang lapangan football yang semakin dipadati anak-anak yang sedang riang menendang bola, berlari-lari mengelilingi lapangan. Baru kali ini aku merasa sepertinya sesekali aku harus menikmati mengitari lapangan itu juga sepertinya.
“Melamun apa Ra?” tanya Sunna.
“Besok tidak ada jadwal memakai lab bukan? Sepertinya aku juga ingin berlarian mengelilingi lapangan,” jawabku.
“Silakan saja, tapi kalau aku, lebih baik berdiam di perpustakaan, membuat jurnal harian penelitian,” kilahnya.
Kami lalu memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing setelah berdiskusi panjang. Aku menuju ke pintu yang dekat dengan foodcourt, sedangkan dia harus menyeberangi lapangan football atau melewati eskalator datar di lantai empat. Aku melihatnya memilih berjalan di sepanjang rute lari di luar lapangan. Kemudian aku berjalan ke kamar.
Masih di dalam lift kaca, aku melihat matahari perlahan mulai tenggelam dan membuat langit menjadi kemerahan. Di tahun yang semakin banyak industri penghasil asap, dan aku masih bisa memandang langit dengan warna yang tidak berubah beberapa tahun terakhir rasanya lega. Memprediksi usia bumi masih cukup lama untuk terjadinya benturan antar galaksi, atau sebaran gas polusi pekat yang membunuh umat manusia.
Aku melanjutkan perjalananku ke kamar. Membuka pintunya dan tidak menemukan Suvara ada di dalamnya. Rasanya sedikit asing, tapi mungkin dia sedang ada di perpustakaan. Aku mengeluarkan jurnal dari dalam tasku, mencatat semua yang sudah kulakukan hari ini, dan membuat perencanaan percobaan beberapa hari ke depan.
“Hai, sudah selesai?” tanya Suvara begitu masuk dan melihatku di meja belajar.
“Iya,” jawabku singkat.
“Sudah makan siang?”
“Sudah, langsung begitu dari laboratorium.”
Suvara lalu meletakkan setumpuk buku ke atas meja belajarnya. Seperti yang kuduga, dia berburu literasi di perpustakaan. Buku itu di masing-masing halamannya sudah terdapat satu penanda kecil yang berarti dia sudah siap menyalin catatan itu dalam jurnalnya, baik catatan digital maupun kertas.
“Suv,” panggilku.
“Ya?”
“Jangan terlalu lelah, aku takut kacamatamu semakin tebal,” candaku.
Dia tersenyum tanpa memperlihatkan barisan giginya. Terlihat lebih manis daripada ketika dia menampilkan giginya. Aku lalu kembali menatap barisan huruf di hadapanku. Melanjutkan menulis rencana kegiatan yang semakin mendesak antara waktu dalam prediksi dan realita yang terjadi. Aku masih mendengar suara Suvara yang berkutat dengan tumpukan bukunya. Dan suara itu sama sekali tidak menganggu konsentrasiku, justru menjadi irama abstrak yang penuh harmoni di telingaku.
Catatan di jurnalku tidak hanya tentang barisan huruf tapi juga citra sebagai bukti memory dari percobaan yang telah kulakukan. Saat memandang rantai DNA yang kugambar sendiri kali ini, aku teringat menjanjikan sesuatu kepada seseorang.
Kuraih tab di sampingku. Mencari nama Sunna di daftar anggota komunitas Moons Camp. Sedikit agak jauh ke bawah sampai aku melihat namanya tidak sedang berada ruang meta. Aku meninggalkan salinan yang dipesannya di mailbox ruangannya. Nanti jika sewaktu-waktu dia masuk ke dalam meta, dia akan melihat pesanku.
“Ah,” rintihan itu kudengar mengagetkan aku.
“Suv? Baik-baik saja?” tanyaku.
“Perutku sakit Sya,” kulihat dia memegang perutnya dengan erat.
“Jangan bilang kamu tidak makan siang?”
Dia hanya menatapku dengan mata menyipit. Mengiyakan pertanyaanku tanpa melisankannya. Aku membuang napas berat sebelum membantunya berdiri dan menuntunnya ke ruang pengobatan. Karena tertatih, perjalanan kami terasa lebih lama, walaupun sebenarnya hanya beberapa langkah saja. Di setiap lantai telah disiapkan ruang pengobatan yang terhubung dari setiap lantai.
“Bertahan sebentar, ruangannya sudah terlihat,” kataku.