Setelah seharian sebelumnya aku melakukan simulasi dengan Illeus, kini giliranku duduk di kursi antrian. Menunggu giliran untuk maju mempresentasikan Sytoria. Bunga awetan Sytoria berisi chip itu masih kugenggam dalam saku dan selalu teraba agar tidak jatuh apalagi hilang. Barisan anak-anak menunjukkan liontinnya pada petugas mengalihkan pandanganku. Aku menunggu seseorang. “Lama?” tanyanya begitu seseorang itu datang. “Tidak,” jawabku. Kami masuk ke aula bersama. Aku dan Sunna. Melangkahkan kaki dengan banyak cerita tentang jantung yang ritmenya semakin cepat, suhu keringat yang dingin dengan sendirinya, atau saliva yang tetiba memadat sehingga sulit tertelan. “Hagi ada di sini juga?” tanyanya. “Ada,” aku menunjuk pada Hagi yang duduk agak jauh dari kami. Saat itu Hagi sama seka

