Pemandangan Art dan Nura yang makan di sudut food couort ataupun taman maple bukan lagi sesuatu yang baru. Mereka seringkali melewatkan waktu berdua meski sekedar berdiskusi tentang presentasi masing-masing. Seringkali saat aku melewati mereka, Art akan menyapa sedangkan Nura lebih pemalu, tapi sekali lagi kukatakan bahwa keberduaan mereka tidak asing. Bahkan Kapten Jack pernah makan siang semeja dengan mereka. “Tumben sendiri?” tanyaku pada Art. Justru menjadi agak asing saat melihatnya kali ini menyeruput secangkir ekspresso hangat sendirian di tribun stadion. Dia diam saja meski aku tahu telinganya belum tuli, jadi seharusnya dia mendengar sapaanku. “Hai, kenapa?” tanyaku lagi. Matanya memandang jauh ke parkiran jet pribadi milik penggede Moons Camp. Aku mengikuti arah pandang ma

