Chapter 32

1003 Kata
Kali ini aku tidka bisa melihat matahari dari jendela. Karena kamarku tidak berjendela. Rasanya asing terbangun tanpa Suvara yang sudah ceria dan penuh semangat. Aku melihat ranselku dan mengambil kotak sytoria di dalamnya. Seperti biasa, hiburanku hanya menikmati guguran kelopak sytoria yang keunguan gelap. Lebih gelap dari clitoria pada umumnya. Semoga saja sytoria segera benar-benar bisa kunikmati dengan mataku. Tidak hanya holigrambergeram yang menembus telapak tanganku yang berusaha menangkapnya. "Sya, ini sarapanmu." Aku mendengar ketukan tangan ibu di pintu kamarku. Juga terdengar suara nampan logam yang diletakkan di bawah di depan tempat tidurku. Aku bahkan memperlakukan Catty, kucingku lebih baik dulu. Aku bangkit. Membuka pintu dan mengambil makanan itu. Meskipun kumakan nanti-nanti, tapi aku harus menyelematkan harga diriku lebih dulu. Jika kubiarkan makanan itu tetap di bawah, bisa-bisa aku langsung memakannya tanpa menggunakan tanganku. Melainkan langsung dari mulutku. Makanan itu kubawa masuk dan kuletakkan di nakas sebelah tempat tidur. Aku menyesal aku pulang di tempat yang salah. Jika aku pulang ke lab sekolah tampaknya lingkungannya akan lebih ramah. Aku masih memandangi Sytoria yang gugur bertempo. Seperti yang sudah kuatur dalam programnya dulu. Melihat rantingnya yang luas, hingga menabrak dinding kamarku, aku jadi merindukan twighomeku. "Twig!" desisku. Aku mengambil tabku dan mengakses twig dari tempatku berbaring. Lokasi terdeteksi. Sayangnya, di kamarku tentu tidak ada ranting untuk memindah rumah metaku itu. Aku menghela napas. Tepat saat sebuah foto terkirim ke tabku. Aku melihat pengirimnya itu adalah Sazre. Aku membuka foto-foto yang dikirimkannya. Semuanya bagus. Tentang mars yang menyinggung venus. tentang gugusan milky way dan planet planet yang terlihat sedemikian dekat. Dia memiliki teknik foto yang bagus. Aku bisa melihat itu dari setiap foto yang dia kirim padaku. Aku pun memblasnya dengan pujian. Lalu dia menghubungiku. "Benarkah?" "Apanya?" "Beneran bagus? Seperti katamu?" "Tentu saja, aku suka ini, ini, dan yang keunguan ini aku juga suka." "Terima kasih ya?" "Untuk apa?" "Mengenalkan aku pada Vans. Dia benar-benar petugas antariksa yang keren." "Iya, sama-sama, jadi bagaimana lombanya?" Sazre lalu bercerita padaku dari awal dia bertemu Vans. Kemudian Vans mengijinkannya menggunakan teropong bintang tercanggih dengan pengawasannya. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan mengambil foto dengan angle-angle terbaik. Vans bahkan mengijinkannya tinggal di apartemennya selama pemrosesan foto-foto itu. Dan terakhir saat Vans membantu membuat deskripsi untuk foti yang dia ikutkan lomba. "Senang mendengarnya Saz," pujiku. "Kamu juga harus bertemu Vans Ra, dia teman yang menyenangkan." Terakhir, Sazre mengirimiku sebuah gambar. Dia sedang bersama Vans. Sangat jauh dari avatarnya, Sazre terlihat lebih jangkung, dengan hidung mancung dan tubuh kurus. Usianya mungkin sama denganku. Di foto itu dia terlihat lebih keren dengan kamera di tangannya. "Kalau aku menang, aku akan membelikanmu cincin Yupiter." "Kaya sekali," kataku berkelakar. "Tentu saja, itu cincin yang sangat indah." Aku tahu dia bercanda, dia tidak bisa benar-benar memberikan padaku cincin Yupiter. Tapi dengan gambar sebagus itu, aku yakin dia punya peluang banyak memenangkan kontes yang dia ikuti. "Oh God!" aku mendengar pekiknya sebelum aku memencet tombol merah di tabku. "Something wrong Saz?" tanyaku. "Maafkan aku Ra, Aku melihat ini dan baru menyadari sesuatu." "Melihat apa?" aku jadi ikut panik dengan cara bicaranya yang mendadak cepat. "Asramamu." Dengan lirih dia menerangkan bahwa sebuah channel sedang memberitakannya. Saat ini ada 5 orang yang sudah tewas karena terinfeksi. Aku memintanya mengirim link channel yang dia lihat. Dia menurut dan dengan link itu aku ingin mengetahui, siapa saja yang meninggal. Kelegaan luar biasa saat melihat dan mendengarkan tidak ada nama Kapten Jack di daftar itu. Nama-nama yang tertera semuanya tidak kukenali. Mungkin itu adalah petugas yang masuk ke ruang lab tanpa pengaman saat investigasi. Atau entahlah. Aku kemudian keluar dan memilih tidak mendengarkan berita itu lagi karena aku mendengar pintu yang dibanting. Kemudian disusul dengan nada marah-marah. "Gara-gara dia pulang, aku ga punya temen main," nada marah kasar itu kutahu dari adik kembarku yang pertama. Aku tidak mengenali wajahnya saat mereka bersama. Tapi aku akan dengan mudah mengenali suaranya. Aku mendengar ibu meredam emosi anak 9 tahun itu. Tapi kedua anak itu masih terus merengek. Aku memang tidak dekat dengan kedua adikku. Sejak mereka lahir, ibu tidak mengijinkanku membantu mengasuh mereka. Pun sejak mereka tumbuh, di mata mereka, aku dan semua percobaanku kadang terlihat aneh. Karena itu aku tudak mau diganggu. Aku akan seharian di kamar atau ketika di teras pun aku akan tenggelam dalam buku literasiku. Pertengkaran mereka semakin hebat saat ayah pulang dan menyatakan kantornya memintanya untuk tetao di rumah sampai aku dinyatakan bersih dan tidak terkontaminasi. "Dengar bu! Dengar!" teriak Bilqis "Lihat ayah dipulangkan karena dia ada di rumah ini!" "Dia kakakmu! Diam kalian." Aku bangkit mengambil headset pemberian Suvara. Memakainya dan sekejap kubah hampa udara terbentuk. Aku tidak harus mendengar pertengkaran mereka. Aku harus tidak peduli apakah ayah membelaku atau tidak. Bahkan ketika pintu kamarku digedor entah oleh siapa. Aku enggan membukanya. Aku tidak mendengar apapun. Aku melihat pintu itu bergetar saja. Setelah pintu itu terlihat diam kembali. Aku membuka headset yang kupakai. Kubah terbuka. Suara sudah senyap. Aku berjalan mendekati pintu. Mengintip lewat lubang kunci. Ruangan terlihat baik-baik saja. Aku membukanya. Terlihat ibu memasak di dapur. Kedua adikku entah di mana. Ayah melihat televisi. Melihat padaku sebentar lalu kembali melihat televisi. Sejak kemarin dia tidak menyapaku. Aku berusaha juga tidak peduli dengan keacuhannya. Walau sebenarnya jadi agak terluka. Kututup kembali pintu kamar. Aku lupa belum bertanya pada Illeus. Bagaimana presentasinya hari ini? "Ill, today is your time, right?" Tidak ada balasan. Mungkinkah dia belum selesai? Aku memainkan ponselku. Mati kutu dengan minim literasi dan minim kegiatan. Aku ingat buku perpustakaan yang masih terbawa olehku. Aku lalu duduk untuk membacanya. Membuat catatan-catatan di jurnalku. Menghubungkan peta-peta konsep penelitianku. Lagi-lagi aku tak peduli kalau sudah begini. Bagaimanapun keadaan di luar, aku akan nyaman dengan dunia kecilku. Aku menemukan cara memotong pita dna dengan baik. Kutuliskan setiap langkahnya pada jurnalku. Sebelum mengetikkannya ke dalam tab. Dengan begitu aku bisa berkali-kali belajar. Membaca beberapa kali kalimat yang sama hingga aku mengerti dan paham maksudnya. Tanpa sadar, matanya begitu lelah. Aku meletakkan kepalaku di meja belajar dengan pensil yang masih tergenggam. Saat pintu terbuka dan ibu masuk, aku lebih merapatkan mataku lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN