Aku merasakan ibu melihat wajahku, melepas pensil yang masih tergenggam di tanganku. Lalu merapikan tempat tidurku dan membawa kembali bekas makanku. Aku tidak mendengar isak tangisnya, tapi aku mendengar napasnya berat dan sering dihelanya dengan panjang.
Semua bebunyian tidak membuatku membuka mataku. Aku masih hanya memejam sampai terdengar ibu menutup kembali pintu kamar. Aku membuka mataku, ibu pasti melihat hologram Sytoria yang berguguran. Aku menutup kotak pandora berisi biji Sycamore dengan chip hologram di dalamnya.
Sayang aku tidak melihat wajahnya, banggakah dia, atau justru sama seperti sepasang anak kembarnya yang memandang aneh pada hasil karyaku. Aku melihat nampan sarapanku sudah berisi sekerat sanwich dan semangkuk penuh salad sayur. Tidak lupa segelas blend jus sayur dan buah di nampan yang sama.
“Yes, i have spend my turn,” jawab Illeus pada pesannya.
“Kerja bagus, kita ketemu di lintasan luar angkasa,” balasku dengan diikuti emoticon tertawa.
“Semoga memang begitu,” dia mengirim gif orang tertawa dengan baju astronot.
***
Waktu berjalan lambat selama aku di dalam kamar saja. Untungnya akses dunia luar melalui dunia maya tidak ada batasan. Aku bisa mengetahui semua perkembangan dunia dan waktu yang kulewatkan lewat internet.
“Besok pagi, aku bisa menikmati dunia luar kan,” lirihku kepada Suvara saat dia menelponku.
‘’Aku juga Sya, dan kalau kita baik-baik saja, kurasa anak-anak lain juga akan baik-baik saja, kita bisa secepatnya kembali ke Moons Camp setelah ini selesai.”
“Bagaimana dengan anak-anak yang belum presentasi abstrak?”
“Aku dengar akan dimulai kembali begitu Moons Camp dibuka,” jawab Suvara.
“Aku ingin segera kembali,” kataku setelah mendengar tendangan di bawah pintu kamarku.
“Saling berkabar ya?”
Aku membalasnya dengan mengirim gif hologramku yang mengangguk takdhim. Dan dia membalasnya dengan emoticon tertawa.
***
Hari ini, adalah hari kebebasanku. Aku sudah bisa keluar karena ternyata tidak ada yang terinfeksi di rumah ini. Aku membuka pintu kamar dan melihat kedua adikku dengan tas ransel yang tersandang. Oh, iya, bagaimana dengan sekolahku.
“Hai Virus, jangan dekat-dekat kami ya, aku masih tidak mau tertular virus yang kamu bawa,” aku mendengar itu dari adikku yang bernama Balqis.
“Katakan sekali lagi dan aku akan membuatku membawa virus ini ke dalam peti,” ancamku.
“Kisya!” bentak ibukku.
“Ibu dengar kan?”
Kedua anak itu mericuhi ibu yang masih berdiri di depan dapur. Mereka terus memprovokasi ibu untuk memarahiku. Aku berjalan ke depan, tidak peduli ocehan mereka. Di luar, ayah dengan secangkir kopinya menunggu bus yang akan mengantarnya bekerja.
“Tidak sakit?” tanyanya padaku yang berdiri di ambang pintu.
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawabku.
“Baguslah, aku tidak ingin ada masalah di rumah ini,” aku sangat ingin membantah kalimatnya, tapi di saat yang sama, aku enggan berdebat.
Aku memalingkan mukaku ke arah jalan selagi aku belum semakin muak dengan perasaanku pada ayahku. Aku ingat dulu kami adalah keluarga yang bahagia, Ayah menyayangiku, dan Ibu memanjakanku. Kami sering bermain bersama, sampai Ibu memberitahu kabar bahagia tentang kehamilannya. Kami semua semakin bersuka cita, aku sudah sangat siap dengan seorang adik yang akan menemaniku bermain.
Ayah dan ibu mempersiapkan aku dengan kehadiran anggota keluarga baru. Bahkan ketika ternyata dua, tidak hanya satu, tampak di layar pemeriksaan ultrasonografi, aku pun tidak keberatan. Aku sudah membayangkan ibu akan kesulitan mengasuhnya dan aku akan hadir sebagai kakak yang baik yang membantu ibu mengasuh dua bayi lucu itu.
Tapi kemudian harapanku hancur, impianku yang sederhana dan indah itu tidak terwujud. Kedua bayi itu terlahir dengan tingkat imunitas yang rendah. Hal itu membuat ayah dan ibu tidak lagi melibatkanku dalam kepengasuhan mereka. Jangankan membantu mereka, mendekati dua bayi itu saja ibuku sudah berteriak histeris. Seolah aku adalah ancaman bagi bayinya.
Ayah pun tidak kalah protektifnya, dia melindungi dua bayi itu secara berlebihan. Mencurahkan semua waktu dan pendapatannya demi tumbuh kembang sempurna dari dua bayi perempuan bernama Bilqis dan Balqis itu. Aku tidak ingin mempersulit keduanya. Aku menjauh dan menyibukkan diriku sendiri.
Jangankan meminta bantuan ibu untuk hal-hal kecil, untuk hal yang besar seperti saat aku lapar saja, aku akan berusaha memenuhi kebutuhanku sendiri. Aku akan membuat sereal sendiri dan ibu sama sekali tidak menganggap itu prestasi.
Saat si kembar B semakin siap dengan keadaan lingkungan pada umumnya, semuanya sudah terlambat. Aku terlanjur tumbuh menjadi anak yang sangat pendiam, begitu juga kedua adikku menjadi orang yang asing terhadapku. Kami memang tetap serumah. Tapi keduanya akan menangis saat melihat kehadiranku, seolah aku membuat mereka menjadi sangat tidak nyaman.
Kesibukan ibu mengurus tiga, tidak, tapi dua anak kembar membuatnya menjadi sedikit temperamental. Dia akan membentakku saat mendengar salah satu atau kedua adikku berteriak. Dan ayah juga akan bereaksi yang sama. Semakin besar kedua anak itu, semakin keduanya menganggap aneh kehadiranku. Bahkan saat mereka akhirnya punya teman-teman sendiri, aku semakin bukan siapa-siapa bagi mereka, pertengkaran yang sering terjadi membuat ibu dan ayahku terenggut dariku.
Aku semakin tidak peduli dengan mereka. Cukuplah ada tempat untuk pulang, ada pengganjal perut jika aku lapar, selebihnya aku tidak mau tahu tentang mereka. Aku berbicara jika mereka bertanya, tapi aku tidak akan memulai pembicaraan sebelum aku semakin sakit hati dengan jawaban mereka.
Aku melewatkan waktuku dengan banyak eksperimen yang telah diajarkan di sekolah. Beruntung, teman dan guru-guruku tidak tahu dengan apa yang terjadi padaku di rumah. Mereka dengan baik menerimaku yang punya banyak pemikiran yang kadang di luar konsep. Justru guru-guruku membuat jembatan dari teori dan konsep yang kuungkapkan. Termasuk saat pertama kali aku membuat mawar unguku.
“Aku bosan dengan mawar yang ini,” keluhku siang itu.
“Jadi, kamu mau buat mawar yang seperti apa?” tanya Bu Mira.
“Yang ungu, ungu kebiruan gelap yang anggun, seperti itu!” aku menunjuk dress seorang guruku yang melintas.
“Baik, ayo kita buat,” kukira Bu Mira bercanda saat dia menggandengku ke laboratorium.
Ternyata sama sekali tidak. Dia justru menyodoriku dengan banyak teori percobaan tentang DNA dan rekayasanya yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dia membantuku menyediakan bahan dan zat kimia yang kubutuhkan untuk membuat mawar unguku. Hingga kemudian, mawar ungu itu bisa kutumbuhkan. Beberapa ditanam di taman sekolah, beberapa di pekarangan rumahku. Satu-satunya yang tidak dicabut oleh ibu karena aku menanamnya. Aku tahu dia suka dengan warna ungu mawar-mawar itu.
Bus kantor Ayah akhirnya datang, membuatnya setengah berlari mendatangi bus yang langsung melesat begitu dia naik ke atasnya. Aku melihat tatapannya yang berpamitan wakaupun sekejap itu, sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu bus.
“Minggir aneh!” kedua kanak-kanak dengan tas tersandang di punggungnya itu menabrakku yang masih berdiri di ambang pintu.
Kepergian keduanya, bersimpangan dengan kedatangan Bu Mira yang semakin dekat padaku. Beliau berjalan dengan tas yang tergantung di tangannya. Kami saling tersenyum begitu mata kami bertemu.
“Ibumu ada? Bisa kami bertemu?” sapa Bu Mira begitu dia sampai di hadapanku.
“Ada Bu, silakan masuk,” aku mendahuluinya masuk ke dalam rumah.
Aku menghampiri Ibu yang sedang mencuci bekas-bekas sarapan kami. Aku memberitahunya bahwa Bu Mira mencarinya. Dengan apron yang tetap menempel di badannya, Ibu menemui guruku itu.
“Selamat pagi Nyonya,” sapa Bu Mira.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Ibu.
“Ini tentang Kisya, selagi Moons Camp belum dimulai kembali, kami ingin anda mengijinkannya pergi ke sekolah,” Bu Mira mengawali penjelasannya dengan tanpa berbelit-belit.
Tentang wabah yang saat ini sedang menyebar, Bu Mira memberi tahu Ibu bahwa aku harus mendapat pemeriksaan terlebih dahulu sebelum kembali ke sekolah.
“Kalau hanya untuk mengijinkannya bersekolah, saya setuju, tetapi tentang pemeriksaannya, saya tidak punya waktu untuk mengantarnya ke rumah sakit, anda tahu rumah sakit distrik Mirai cukup jauh,” jawaban Ibu membuatku saat terpukul.
Terbersit di otakku, setidakberhargakah itu aku?
“Ah, tidak apa, saya yang akan mengantarnya,” Bu Mira mengajukan diri untuk menemaniku melakukan pemeriksaan.