Episode 34

1006 Kata
Aku segera bersiap begitu Ibu mengijinkan Bu Mira untuk membawaku ke rumah sakit terdekat. Dengan menggunakan monorail yang melewati jalan di depan rumahku tepat. Dengan mengenakan jaket, aku mengikuti langkah Bu Mira hingga ke halte di dekat rumah. Kami segera masuk ke dalam bus, begitu pintu bus terbuka. Awalnya begitu dingin, Bu Mira seperti masih canggung dengan tanggapan yang diberikan ibu. Tapi kemudian tidak lama, Bu Mira segera mencair saat bus sudah keluar dari komplek perumahan. "Bagaimana selama kamu di sana Kisya?" tanya Bu Mira. "Sangat menyenangkan Bu, saya bertemu teman sekamar yang menyenangkan dan sangat berpengalaman." Aku menjawab dengan jujur dan bercerita tentang Suvara juga Twighome yang kubuat di hutan belakang Moons Camp. Bu Mira memberi tahu bahwa dia juga mempunyai akun twiggram dan di sekolah kami pun ada pusat twiggram yang diperuntukkan pembelajaran di dekat taman sekolah. Kami saling tersenyum sebelum akhirnya bus berhenti di halte. Bu Mira mengajakku turun. Kami berjalan beberapa puluh meter sebelum memasuki area rumah sakit. Aku ingat saat kami pertama kali sampai di Moons Camp. Aku dengan ketercenganganku, aku dengan ketakutanku, kali ini pun tidak jauh berbeda. Bu Mira membawaku ke sebuah lorong dan duduk bersama pasien lain yang telah mengenakan masker penutup hidung seperti yang kami kenakan juga begitu memasuki area rumah sakit. Satu persatu orang masuk. Beberapa kembali, beberapa masih tertahan di dalam. Hal itu semakin membuatku gugup. Aku menggoyangkan kakiku mengusir kecemesanku. Tampaknya hal itu disadari oleh bu Mira. Dia pun menenangkanku. "Kamu tidak merasa sesak napas kan?" tanyanya. "Tidak," jawabku singkat. "Sakit di bagian d**a?" "Juga tidak," jawabku lagi. "Kamu akan baik-baik saja, tenanglah." Kami menunggu sampai tiba giliran kami berdiri dan masuk ke ruangan pemeriksaan. Bu Mira menceritakan awal mula kepulanganku dari Moons Camp. Sayangnya dia tidak tahu bahwa aku, adalah satu yang mendengar pecahnya braker glass di laboratorium malam itu. Perawat memintaku membuka kaos yang kukenakan di balik tirai pemeriksaan. Dia melihat d**a dan bagian punggungku, memintaku bernapas dan menahan setiap tarikan napasku. Terakhir, dia memasukkan alat pendeteksi infeksi ke dalam tenggorokanku. Begitu alat itu dicabutnya kembali dia mengamati sebentar lalu tersenyum. Dia memintaku keluar kembali ke ruang dokter. "Tidak ada perubahan warna pada indikator, anak ini aman dari virus yang mewabah," terang dokter itu. "Ah, syukurlah, berarti dia dapat rekomendasi untuk tetap melanjutkan pendidikannya bukan?" tanya bu Mira. "Tentu saja." Kami sama-sama tersenyum mendengar penjelasan dokter yang tetap menuliskan resep penambah imunitas untukku. Kemudian kami kembali pulang dengan berita menenangkan itu. "Mohon untuk besok bisa mengijinkan Kisya ke sekolah nyonya," kata Bu Mira sembari tersenyum pada ibuku. Ibu hanya mengangguk dan mengantar kepulangan Bu Mira sampai di pekarangan rumah kami. Aku sendiri langsung masuk ke kamar tanpa ingin membahas apapun dengan Ibu. Di kamar, aku melihat tabku berkedip, aku melihat nama Illeus di layarnya. Dia memberi kabar baiknya. Akhirnya dia dinyatakan lulus dan akan lanjut ke babak kedua. Meskipun aku punya kabar yang sama, aku belum bisa memberi tahunya. Kabar baikku belum dapat dibuktikan. Karena itu dulu adalah bagian dari bocoran rahasia sebelum pecahnya virus di Moons Camp. "Kalau begitu segera persiapkan apapun yang kamu butuhkan Ill, kamu akan akan melakukan perjalanan yang melelahkan hahaha," kataku terkekeh. "Iya, ini akan sangat melelahkan sebelum sangat membahagiakan." Suara yang bergetar itu juga menunjukkan Illeus yang bahagia dan sepertinya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Dia berada di dekat rumahnya dan bersiap berkemas. Sedangkan aku berada di samping laboratorium sekolahku. Membuat meta twig yang hanya bisa kulihat terportal jendela lab. Sengaja aku bersembunyi di sini, agar aku bisa mencuri start menyiapkan langkah-langkah pemotongan DNA Sycamore juga Clitoria. Aku tidak mau saat kembali nanti, semua sudah siap sedangkan aku telah menggunakan waktu dengan percuma. Toh, aku tidak akan betah berlama-lama di rumah dengan kedua adik kembarku yang menyebalkan itu. Aku menunjukkan pada Illeus gambaran langkah pemotongan DNA. Illeus menyemangatiku. Bahkan dia kemudian banyak mencarikan referensi dari berbagai sumber. "Nanti kalau aku kembali ke Venus Camp, akan aku carikan buku lain yang juga tepat untukmu," tawarnya penuh kebaikan. "Tidak perlu repot-repot begitu, aku tahu kamu juga sangat sibuk." "Aku sudah menyelesaikan 70% bagian dari penelitian ini, aku masih punya banyak waktu, tenang saja." Senyumnya yang manis itu selalu menular padaku. Membuatku juga ingin tersenyum dan seringkali tergoda untuk semakin bercanda. Pembicaraan kami terhenti ketika aku mendengar Ibu mengetuk pintu kamarku. Aku berjalan membukanya dan kembali duduk di tepian tempat tidurku. Ibu tidak lagi membawa nampan makan seperti yang dilakukannya hari-hari yang lalu. "Apakah kamu tetap akan kembali ke asrama itu?" tanyanya. "Tentu saja," jawabku. "Di sana sedang berbahaya." "Tentu saja tidak saat ini, tapi jika program sidah dilanjutkan, dan aku dinyatakan lolos seleksi, aku tetap akan pergi lagi." "Aku bukannya melarangmu pergi, tapi menjadi pemenang tidaklah mudah, daripada kamu membuang-buang waktumu, bagaimana jika tidak perlu kembali?" Aku mengernyit dengan saran ibuku. Kalimatnya yang ambigu untuk menunjukkan rasa khawatir atau sebaliknya justru pemikiran yang bidoh membuatku bingung. "Di sana terlalu berbahaya," jawaban itu membuatku lega sesaat. Ada keharuan yang seharusnya saat aku mendengar kalimat itu. Tepat sebelum dia melanjutkan kalimatnya. "Kalau kamu tetap di rumah, kita bisa memperbaiki hubunganmu dengan Ayah dan kedua adikmu," dan jawaban ini menjadi tidak masuk akal bagiku. Aku yang sedemikian berusaha ini saja tidak membanggakan di mata adik dan ayah, apalagi jika aku memilih menyerah sebagai pecundang. Tapi aku mencoba memahami ibuku memang mengkhawatirkanku, dia hanya tidak punya kalimat yang cukup baik untuk menjelaskannya padaku. "Kalau aku bisa ke bulan, hubungan kami akan membaik, aku tahu mereka akan bangga jika punya kakak yang bisa mereka sombongkan ke teman-temannya." "Tapi semua percobaan itu berbahaya Kisya," kali ini suara ibu merendah. "Percayalah aku baik-baik saja, justru penelitian di sana jauh lebih aman dibanding jika kulakukan sendiri." Mendengar penjelasan yang kuberikan, ibu memilih diam. Dia kemudian keluar dari kamarku. Pintu kamarku ditutupnya dengan pelan. "Makan sianglah dulu sebelum adik-adikmu datang," katanya kembali membuka pintu kamarku. Aku mengangguk. Aku sama sekali tidak ingin menyulitkannya. Aku keluar dan mengambil salad buatannya. Salad sayur buatan ibu selalu sedikit keasinan, tapi itu adalah salad sayur yang paling familiar di lidahku. Membuatku mengatakan salad-salad lain di dunia itu hambar dan tidak terasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN