Chapter 35

1184 Kata
Karena rekomendasi dari rumah sakit sudah menyatakan aku baik-baik saja, aku bisa kembali ke sekolah pagi ini. Bangun cukup pagi dengan semangat. Akhirnya aku juga kembali menyandang tas dan bisa pergi lebih pagi dari kedua adik kembarku itu. Di meja makan, sarapan roti isiku sudah siap di meja bersama dengan bagian dua anak perempuan itu. Terbersit untuk menjahili mereka, membuat mereka tidak akan berani lagi kurang ajar dengan aku kakaknya. Tapi melihat pagi ibu yang damai, rasanya aku tidak tega juga. Kuurungkan niat burukku itu. Benar-benar hanya menyantap bagianku lalu aku pergi ke sekolahku. Sekolahku cukup dekat sehingga aku bisa berjalan kaki saja untuk mencapainya. Aku tidak menggunakan layanan bus sekolah seperti anak-anak lain. Dalam waktu tujuh menit, langkahku sudah tidak sendiri lagi. Beberapa anak lain yang juga berjalan ke sekolah sudah membersamai langkahku. Anak-anak yang setingkat denganku menyapaku dengan menepuk pundakku. “Hai Kisya, senang bisa melihatmu lagi,” lambai Janita. Aku membalas lambaian tangannya dan tetap berjalan santai tanpa mengejarnya yang sedang berlari. Mungkin dia sedang ketinggalan banyak tugas atau diburu jam awal. Sekolahku mempunyai gerbang yang tidak tinggi, bahkan pagarnya hanya barisan beluntas yang dipangkas rapi berbentuk barisan buku-buku tebal. Di jaman saat ini, go green semakin digalakkan seiring dengan besarnya emisi yang bertambah karena perkembangan teknologi. Toh meta dan distorsi ruang sudah dikembangkan, ruang teknologi bisa diselipkan dan di dunia fisik, alam kembali diperhitungkan kehadirannya. Aku melewati gerbang dengan robot penjaga. Robot yang juga dibuat oleh siswa-siswi di sini. Robot itu mengulurkan sebuah lempengan logam begitu aku melewatinya. Aku meletakkan tanganku dan kemudian dia pun menyapaku. “Senang bertemu denganmu Kisya,” ucapan yang sedemikian ramah terdengar. Setiap tahun, robot dikembangkan agar semakin mirip dengan manusia. Suaranya, tingkat kehalusan geraknya, bahkan penampilannya yang kini terbungkus kulit sintetis. Tapi robot tetaplah robot, semuanya terprogram dengan apik, dan dia tidak akan mengenali apapun di luar yang telah diprogramkan padanya. Anak di belakangku juga melalui pemeriksaan identitas yang sama. Aku masuk ke gedung yang tentu tidak berubah hanya karena aku meninggalkannya sekian waktu. Aku berjalan ke dalam kelas Profesor Bill, kelas numeranya sangat menarik bahkan bagi anak genetika sepertiku. Dia mengajarkan kebangunan dan angka-angka pasti. Beberapa ratus tahun lalu, bidang yang diajarkannya ini disebut matematika. Kini dengan mengacu pada perkembangan teknologi terapan, numera lebih dikenal untuk menentukan tingkat ketepatan suatu pekerjaan. “Hai Kisya, akhirnya bisa kembali ke sekolah ya?” sapa seorang temanku. “Ah, iya, setelah sekian lama, eh lama tidak sih?” gurauku. “Ceritakan selama kamu di sana, siapa tahu aku juga bisa ke sana suatu saat,” seseorang lain menghampiri dan menggeser bangkunya mendekat padaku. “Ah, iya aku juga mau mendengarnya,” seorang anak laki-laki juga ikut membalik badannya agar bisa melihatku. “Sebenarnya belum padat benar sampai saat aku pulang kemarin, kami baru sampai di tahap presentasi abstrak,” jawabku. “Semuanya jenius? Apa yang seru yang tidak ada di sekolah kita?” “Kurasa iya, semuanya jenius, semuanya berintrik, semuanya punya penelitian terapan yang penuh persaingan,” jawabku. “Kudengar mereka punya distorsi ruang, benarkah?” “Ah iya, dan aku benar-benar terkejut saat pertama kali melihat,” kemudian aku banyak bercerita tentang ketakjuban dari pertama aku datang ke Moons Camp. “Bagaimana dengan virus yang tersebar, menurutmu konspirasi?” Aku teringat malam di mana aku melewati laboratorium itu. Suara pecahan dan derap langkah tergesa-gesa Kapten Jack dan beberapa petugas sebelum kemudian alarm dibunyikan, kami dibariskan dan dipulangkan. Rasa-rasanya semuanya tidak menginginkan kebocoran virus yang terjadi. Apalagi ketika dunia sudah lebih siap dengan wabah yang seperti ini. “Kurasa tidak,” kataku setelah lama termenung, “Pandemi yang pernah terjadi ratusan tahun lalu lebih berbahaya bukan?” “Tapi kali ini virus itu lebih mematikan,” tukas seorang anak. “Tapi nyatanya juga terkontrol lebih rapi bukan?” tanyaku lagi. Terlihat beberapa anak mengangguk. Mereka bergantian menanyakan hal-hal yang aku lihat di Moons Camp. Aku menjawab yang bisa kujawab, apalagi jika mereka bertanya tentang abstrakku, aku semakin semangat menjawab pertanyaan mereka. Aku meletakkan kotak biji Sycamore di tanah, membiarkan media presentasiku itu juga memukau teman-teman sekelasku. Aku tersenyum dan ikut menggerakkan jemariku, berharap bisa menangkap guguran mahkota keunguan clitoria. Tanpa kami sadari, Profesor Bill rupanya sudah berada di ruang yang sama. “Baiklah tetap di tempat kalian,” katanya mengagetkan kami. Kami pun bubar dengan cepat sebelum dia kemudian mencegah kami berpindah tempat. Dia mendekat ke arah kami, melihat hologram Sytoria yang sedang kembali bersemi dari pohonnya. Kemudian dia membuat materi dari hologram yang sedang kami lingkari. Dia membuat kami memperhitungkan berapa waktu tersingkat untuk menumbuhkan Sytoria dalam berbagai variabel kesalahan penelitian. Membuat kelas diskusi menjadi sangat nyata seolah semua sedang melakukan penelitianku dengan berbagai probibilitas yang mungkin terjadi. Kami membuat data dengan setiap kasus yang dia ajukan. Kemudian masing-masing kami diminta mempresentasikan hasil perhitungan waktu kami. Kelas menjadi sangat riuh setiap seseorang memulai presentasi dengan menampilkan angka-angka dengan berbagai rumus perhitungan yang berbeda. Setiap presentasi akan dipatahkan jika tidak sesuai dengan teori yang sudah dikenali. Dan akan berhadiah tepuk tangan yang sangat meriah ketika menghasilkan sebuah rumus perhitungan baru yang masuk akal dan teruji oleh angka-angka lain. Tidak terasa tiga jam telah terlalui dengan begitu cepat. Masih menyisakan beberapa anak yang belum menampilkan hasil perhitungannya, Profesor Bill menjanjikannya pada pertemuan lain. Dia menepuk pundakku dan berterimakasih atas pertunjukkan hologram Sycamore yang justru menjadi media pembelajarannya. Jam pelajarannya diakhiri dengan berhamburannya seluruh kelas. Aku sendiri kemudian menemui Bu Mira untuk meminta ijin masuk ke dalam laboratorium sekolah. “Silakan saja, kamu perlu saya temani?” tanya Bu Mira. “Kalau tidak terkunci, tidak perlu Bu,” jawabku. Aku memandang sekeliling laboratorium sekolahku. Tentu saja tidak berubah banyak karena aku belum lama meninggalkannya. Aku melihat sample bunga mawar unguku yang dikeringkan dan dibuat menjadi herbarium. Aku masuk ke sudut ruangan yang berisi dna telang yang telah kupotong dulu. Tentu saja dna itu sudah tidak bisa kugunakan, tapi setidaknya aku ingin membaca urutan dna manakah yang bisa kupakai untuk persilangan telang dan Sycamore kali ini. Di jaman ini, penelitian bukanlah hal asing, di satu sekolah, banyak ilmuan cilik yang mencoba berbagai hal untuk berbagai bidang yang mereka sukai. Namun, seringkali, mereka tidak mendapat bahan yang mereka perlukan untuk melakukan suatu percobaan. Aku pada penelitianku yang lalu hanya beruntung karena semua alat dan bahan yang kubutuhkan untuk memotong dna mawar dan telang mudah untuk didapatkan. Sehingga bunga mawar itu tercipta dengan apik dan laporan penelitiannya bisa terkirim hingga terpilih di moons camp untuk tiket masuk. “Menemukan sesuatu Sya?” sapa bu Mira. “Ini ada urutan DNA telang saya yang dulu bu,” jawabku. “Bisa kamu gunakan?” beliau bertanya dengan lembut. “Iya bisa, setidaknya untuk mengetahui urutan mana yang harus saya gabungkan dengan sycamore.” “Iya, bagus lah kalau begitu, jangan lupa nanti ikuti kelas yang lain juga,” kata beliau mengingatkan. Aku mengangguk. Sekeluar beliau dari dalam lab, aku mencatat di kertas jurnalku dan kemudian menyimpan kembali potongan DNA yang sudah kutulis. Kemudian seperti katanya aku harus tetap mengikuti banyak kelas lain. Tidak terpusat hanya di genetika saja. Walaupun saat ini, jam genetika yang kuambil, tentu jauh lebih banyak dari yang lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN