Chapters 36

1008 Kata
Menjadi kembali sedih saat pulang sekolah sudah bukan sesuatu yang baru bagiku. Memang lebih sering begitu setiap hari. Karena itu aku lebih suka berlama-lama di sekolah bertemu dengan orang-orang yang menghargaiku juga karya-karyaku. Hari ini pun begitu, ibu tidak menyambutku yang baru pulang dari hari pertamaku kembali bersekolah. Padahal aku berharap dia akan bertanya apakah teman-temanku berlaku baik padaku. Tapi nyatanya aku tidak akan mengalaminya dari Ibu. Dia hanya diam dan menyuruhku makan. Sangat berbeda dengan saat kedua bocah itu pulang, Ibu sangat menyambutnya. Aku yang terlalu muak memilih menutup pintu kamar dan tidak peduli. Aku membuka buku referensi yang kupinjam dari perpustakaan Moons Camp. Melengkapi rancangan jurnal yang kubuat dengan temuan urutan DNA juga fakta-fakta tentang Sycamore atau Clitoria. Aku mencatat di papan progresku berharap saat ada undangan dari Moons Camp lagi aku tidak banyak kehilangan waktu. Aku mencari cara mengakses twiggram dari dalam rumah. Walaupun hanya bisa masuk ke komunitas tanpa bisa mengakses twighome milikku. Dan baru ingat tadi saat di sekolah aku lupa bertanya pada Bu Mira di mana pusat twigschool yang dia ceritakan sebelumnya. “Aih, kenapa baru ingat!” gerutuku. Baru saja aku merasa sangat kesal, tiba-tiba tabku berbunyi dan sebuah notifikasi masuk ke emailku. Mengabarkan sebuah akun twiggram baru atas nama Moon Champions mengundangku untuk bergabung ke komunitas mereka. Aku segera mengkonfirmasi undangan yang masuk itu. Setelahnya aku menghubungi Suvara. “Kamu juga mendapat undangan yang sama?” tanyaku. “Iya, aku baru saja mengkonfirmasi,” jawabnya. “Kira-kira ini resmi?” “Harusnya begitu, sudah coba masuk ke komunitasnya?” “Belum, aku tidak ada akses twighome di dekat sini,” liriku. “Coba akses langsung dari tabmu, siapa tahu bisa, aku dengar-dengar Kapten Jack berusaha membuat kita tetap terhubung,” jelas Suvara. “Begitu?” Tanpa menunggu jawaban dari Suvara aku masuk ke akun twiggramku melalui tab. Benar saja, dari tabku muncul tampilan avatarku dengan jaket Moons Camp. Kemudian tampil pilihan komunitas Moons Camp di sematan teratas akun twiggramku. Dengan bantuan tripod, aku meletakkan tabku berdiri di tengah kamar sehingga tampil ruang komunitas. Tabku tampil sebagai layar twiggram, yang begitu kusentuh, meta pun berlaku. “Suv?” aku melambaikan tanganku pada Suvara yang juga ada di ruang komunitas. “Bisa kan?” “Iya,” jawabku. Suvara lalu menjelaskan bahwa sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, anggota Moon Champions harus tetap terhubung dan kegiatan berjalan melalui Twigmeet, yaitu layanan teleconference yang disiapkan oleh twig. Ini semua usaha dari panitia Moons Camp agar penelitian kami tidak tertinggal langkah dari perjalanan angkasa yang lain. Walaupun ada gangguan virus yang di luar kendali itu. “Hai Art!” sapaku. “Hai, sudah tergabung juga?” “Baru tahu.” Art memberi tahu ketiga temannya juga sudah tergabung, tapi tampaknya mereka baru saja offline. Kami bertiga saling bertanya kabar sebelum mulai berbagi kabar terakhir tentang Moons Camp. “Aku sudah tidak sabar ingin kembali,” kataku. “Tidak akan bisa dalam waktu dekat sepertinya,” jawab Art. “Seberapa bahayakah Art?” tanyaku. “Duplet virus itu dapat bertahan cukup lama rupanya,” jawab Art. “Sebenarnya siapa yang memecahkannya? Apakah peserta? Atau petugas?” tanya Suvara penasaran. Art terlihat menoleh ke segala arah. Membaca situasi apakah cukup aman untuk berbisik. Kami mendekatkan telinga kami. Bersiap menerima informasi dari anak laki-laki berkacamata dengan rambut ikal itu. "Ga jadi ah, besok-besok aja kalau sudah ketemu." "Aih, kamu ini!" Suvara mencubit lengannya. Tapi tentu saja tidak terasa, memang kami hanya bertemu secara virtual kan. Aku masih mendesak Art untuk mengatakan sesuatu, tetapi dia bersikukuh untuk tidak mengatakannya. "Sudahlah, tidak ada gunanya juga kalian tahu siapa pelakunya," kata Art. "Penasaran Art, kamu tahu kan, rasa ingin tahu kami itu besar," celoteh Suvara sepaham denganku. "Iya tapi kalau ga penting buat kita untuk apa mencari tahu." "Hm... baiklah." Aku dan Suvara memilih pasrah dengan ketidaktahuan kami. Apalagi kemudian Art mengalihkan pembicaraan. Dia menanyakan sekolah kami masing-masing. "Lumayan, aku cukup terbantu oleh guruku tadi," jelasku. Aku melanjutkan ceritaku dengan studi kasus yang dilakukan Profesor Bill terhadap media hologramku. Suvara juga bercerita dia berada di rumah secara penuh karena status pendidikannya hanya formalitas. "Huaah, sudah tidak sabar ingin kembali." Kami dengan kompak mengeluhkan hal yang sama. Art melihat sekeliling lagi, sepertinya mencari ketiga sahabatnya. "Mencari Hana?" tanyaku. "Iya, aku menunggu hasil presentasi Visyn," jawab Art. "Dia belum seminar?" "Belum, harus itu pagi saat kita dipulangkan dulu." "Ah, pasti dia sngat kecewa." "Iya, dia bilang persiapannya banyak berkurang." "Iya aku bisa memahaminya." "Kamu tahu jumlah peserta yang belum?" tanya Suvara mendesak Art lagi. "Tidak." Terdengar keluhannya saat dia membuang napas. "Dekat dengan adik Kapten Jack bukan berarti aku tahu semuanya," kilah Art pada kami. "Tapi tentu kamu tahu lebih banyak," bantahku sambil terkekeh. "Bisa jadi." Kami bertiga bercanda banyak hal ringan dan sama sekali tidak membahas tentang penelitian kami masing-masing. Saat dari kejauhan terlihat Visyn berjalan lesu masuk ke ruang komunitas, Art berdiri dan menyeretnya duduk bersama kami. "Bagaimana?" tanya kami hampir bersamaan. "Buruk," Visyn mengulum bibirnya. Matanya melengkungkan senyum, tapi kesedihan yang terlihat juga membuat kami tidak berani bertanya lagi. Art merangkul temannya itu. Kemudian menunggu Visyn menjelaskan sendiri kegagalannya. "Tidak apa, aku masih bisa mencobanya tahun depan," kata Visyn penuh optimis. "Belum ada pengumuman kan, kamu belum tentu gagal," kataku. "Iya tapi abstrakku dibantai habis-habisan dan aku kesulitan membuktikan teoriku." Jawaban Visyn membuat kami terdiam. Beruntung Visyn bukan orang yang patah semangat. Sehingga dia sendiri lebih meneruma kekalahannya. Aku tidak membayangkan jika yang sudah pasti gagal adalah Suvara. Aku pasti kesulitan mengembalikan rasa percaya dirinya. Dia yang sudah sangat ambisi lalu gagal pasti sangat melukai hatinya. Semoga saat pengumuman nanti kami terpisah tempat. Atau pilihan satu-satunya adalah dia harus mendapat hasil terbaik yaitu lolos abstrak ke tahap berikutnya. "Mana Hana dan Rose?" tanyaku. "Entahlah, mereka sudah lama tidak bisa kami hubungi," jawab Visyn. "Sejak dipulangkan?" "Mereka baik-baik saja bukan?" tanya kami saling mengkhawatirkan. " Aku harap begitu," jawab Visyn. "Mungkin karena serumah dengan Kapten Jack, jadi dia harus isolasi lebih lama," kataku. "Serumah?" tanya Visyn. "Hana adik Kapten Jack bukan?" tanyaku. Visyn menggeleng. Aku dan Suvara saling bertatap mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN