Chapter 39

1268 Kata
“Jangan lupa, saling berkabar siapa yang tiba lebih dulu,” kirimku pada Suvara. Aku akhirnya pergi dari rumah pagi-pagi buta dan menunggu di sekolah dengan ransel yang telah penuh dengan buku dan bajuku. Bu Mira menemukanku dengan iba. Dia membawaku ke kantin untuk menikmati semangkuk sereal hangat juga segelas s**u. Dia menjauh saat menghubungi ibuku. Sekali pun begitu, aku mendengar dia meminta maaf atasku dan berjanji akan mengantarku dengan baik sampai ke Moons Camp. Seperti mengulangi saat pertama kali aku datang, aku masih ternganga dengan kemegahan Moons Camp. Terlebih saat melihat Kapten Jack berdiri di dekat resepsionis untuk menyambut kami datang. Aku tersenyum dan memberi salam padanya. “Anda sudah baik-baik saja Kapten?” sapaku. “Tentu saja, kalau tidak baik-baik saja, aku tidak akan berani mendatangkan kalian kembali ke asrama ini.” “Saya turut bersedih karena adik anda tidak bisa bergabung bersama kami,” kataku. Dia tampak mengernyit saat aku menyebut kata adik. “Ah, iya, dia kurang beruntung kali ini,” dia tersenyum dengan seringai barisan gigi yang rapi. “Boleh saya sekamar dengan Suvara? Apa dia sudah kembali?” tanyaku pada resepsionis asrama. “Aku tidak yakin dia sudah kembali, tapi aku akan memindahkan kamarnya denganmu,” kata petugas itu dengan ramah. “Kamu sungguh tidak ingin berada di kamar sendiri?” tanya Kapten Jack mengagetkanku. “Kami sudah berteman baik, saling nyaman untuk bersama,” jawabku dengan sopan. “Baiklah, tolong atur untuknya,” kata Kapten Jack pada petugas itu. Sekali lagi, sebuah kalung diberikan padaku, kali ini warnanya hijau gelap. “Saphire ya?” tanya Kapten Jack. Aku mengangguk sembari melihat kalung itu. Seperti biasa aku mengenakannya di pergelangan tanganku, lalu menutupnya dengan lengan bajuku yang panjang. “Harusnya dua orang dengan warna kalung yang sama juga kembali hari ini,” senyum Kapte Jack padaku. “Oh iya? Kuharap mereka anak-anak yang juga bersaing dengan baik,” jawabku. Bu Mira mengantar aku sampai ke kamarku. Kali ini kamarku lebih luas dengan dua tempat tidur, dua set meja belajar, dua lemari yang terpisah letaknya. Satu yang menenangkan adalah saat aku membuka jendelanya, pohon maple yang sama masih menyapaku dengan daun-daun yang menguning kali ini. “Baiklah, kamu sudah bisa kutinggal?” tanya Bu Mira. “Terimakasih untuk makan paginya Bu,” kataku berterima kasih. “Its oke.” Aku mengantar beliau sampai ke gerbang Moons Camp. Baru saja akan berbalik ke dalam asrama, aku melihat sebuah mobil melewatiku dengan seorang anak berkacamata di bangku tengahnya. Itu Suvara. Aku dengan semangat mengikuti mobil itu dan berada di dekat pintunya. Begitu mobil telah benar benar berhenti aku membukakan pintu tengah di mana Suvara telah bersiap untuk turun. Dia langsung sumringah dan melupakan semua barang-barang yang harusnya di bawa turun. Dia memelukku dengan erat sebelum kemudian mengenalkanku pada ibunya. Seorang wanita berkelas dengan gaya yang anggun menenteng tas tangan. Dia mengusap kepalaku saat aku memperkenalkan diri. Dia memintaku berkawan baik dengan Suvara. Kami menuju kamar kami setelah dari resepsionis. Sama denganku dia segera puas dengan kamar yang lebih luas. Begitu pula dengan ibunya. "Kalian yakin tidak ingin pisah kamar, mungkin kalian butuh waktu untuk belajar masing?" tanya Ibunya. "Tidak perlu Mom, aku dan Kisya bisa belajar bersama dalam satu ruang ini." "Ok, that is good." Setelah banyak memberi wejangan pada Suvara. Ibunya juga berpamitan pada kami. Tanpa mengantarnya. Suvara justru langsung berkemas begitu ibunya pergi meninggalkan kamar. "Datang lebih awal?" tanya Suvara. "Sudah sangat ingin di sini." "Aku juga." Kami sekali lagi berpelukan. Banyak bercerita tentang masing kegiatan saat kami di rumah. Seberapa berkembang proyek kami hingga saat ini. Aku dan Suvara tidak lagi perlu berbagi ruang belajar. Masing-masing kami punya satu meja belajar kali ini. "Ada kabar apa di Moins Camps hari ini?" tanya Suvara. "Belum tahu banyak, aku belum berkeliling, hanya bertemu dengan Kapten Jack tadi." "Sudah sehat?" "Sedikit lebih kurus, tapi kurasa dia sangat prima." "Mau berkeliling untuk mencari sesuatu?" "Ke perpustakaan atau foodcourt?" "Berkeliling saja." "Oke." Kami kemudian meninggalkan kamar dan menguncinya. Melihat dari lorong kamar sudah mulai terisi. Tampaknya tidak banyak yang sekamar berdua. Hampir semua kamar yang kami lewati hanya dihuni satu orang. "Cuma kita yang sekamar berdua?" tanyaku. "Menyesal? Mau berubah pikiran?" Aku buru-buru menggeleng membantah pernyataan Suvara. Aku sama sekali tidak keberatan kalau bisa sekamar dengannya. Toh dia cukup banyak membantuku dalam projek yang kami kerjakan. Saat kami sedang di lapangan olahraga. Sebuah layar besar menunjukkan list siapa-siapa yang sudah datang, satu persatu nama menjadi hijau yang artinya nama tersebut sudah ada di sini. "Kisya Ratriana!" tunjuk Suvara dengan semangat. "Tentu saja kan aku sudah di sini." Kami memilih duduk di barisan kursi tribun. Menyimak satu persatu nama yang muncul dan menjadi hijau. Nama-nama yang masih merah namun kami mengenalnya juga menjadi perhatian kami. "Art Diego," tunjukku. "Diego?" "Diego!" Kami tertawa akhirnya mengenali nama belakang Art. Nama itu masih merah, artinya dia belum kembali ke tempat ini. "Menurutmu dia akan datang roketnya lagi?" Belum lagi pertanyaan Suvara terjawab olehku. Sebuah nama perlahan naik dengan warna merah. Hagi Jina. Dia lolos? Dia ke tahap selanjutnya. Mendadak aku jadi begitu mual. Aku ingat percakapan yang kami lakukan di bus sewaktu malam kami dipulangkan. Aku dengan jelas memberitahunya hanya anak genetika botani yang berhasil ke tahap selanjutnya. Dia dan vaksinnya bagaimana bisa ada di daftar itu? "Mati aku!" gumamku. "Ada apa Sya?" Aku dengan panik menceritakan kejadian saat kami mendengar sendiri siapa-siapa saja yang sudah lolos pada tahap sebelum kami dipulangkan. Informasi yang kami dapat sendiri dari Kapten Jack. Dan aku membocorkannya pada Hagi malam itu. "Jangan panik, dia pasti juga dapat undangannya." "Twiggram, cek twiggram komunitas." Kami bersamaan masuk ke dalam twiggram komunitas dan melihat daftar nama. Tidak ada nama Hagi di sana. "Nama samaran?" "Tidak mungkin!" "Tenang dulu." "Kapan terakhir harus kembali ke Moons Camp?" "Dua hari untuk toleransi perjalanan," jawab Suvara. "Artinya besok hari terakhir?" Suvara mengangguk. Membuatku menghela napas yang begitu panjang. Sepanjang malam aku terus di tempat ini. Menunggu namanya berubah jadi hijau. Saat udara telah semakin dingin, aku kembali ke kamar namun mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Matahari kusambut dengan tubuh limbung untuk kembali ke tribun. Suvara menahanku. Tapi aku merasa sangat bersalah. Aku harus memastikan dia kembali ke tempat ini. "Bukankah keuntungan jika dia tidak kembali ke tempat ini?" tanya Suvara. "Dia harus kembali dan bersaing dengan sangat sehat denganku. Aku tidak ingin menginjak bulan dengan membawa dosaku menyingkirkanku." "Lalu kamu mau apa?" Aku merasa sangat bersalah dengan sesuatu yang pernah kusampaikan. Aku telah dengan gegabah mengabarkan sesuatu yang bukan hakku untuk mengatakannya lebih awal. Tapi tidakkah dia sendiri ingin tahu dengan jelas? Apakah dia tidak mencari tahu? Aku berlari ke pusat informasi, bertanya sekali lagi benarkah dia belum datang ke tempat ini lagi? Petugas memeriksa data dan mengatakan bahwa memang dia belum datang. Dia bersama tiga nama lain belum juga hadir untuk melakukan registrasi di hari terakhir ini. Aku lalu berlari menemui Kapten Jack. Di ruangannya, aku mengetuk pintu yang tertutup rapat. "Masuk!" terdengar suara tegasnya memberi ijin padaku untuk membuka pintu itu. "Selamat siang Kapten," sapaku dengan agak terengah-engah. "Ada apa Kisyara? Kamu tampaknya lelah sekali?" "Saya ingin tahu tentang anak-anak yang belum datang kemari, apakah boleh?" tanyaku. "Tentang apa dulu?" "Benarkah ini hari terakhir mereka harus datang?" "Ya?" "Bagaimana jika tidak datang?" "Diskualifikasi." "Boleh saya mencari mereka?" "Dua diantara mereka pesaingmu, yakin kamu ingin membantu menghubungi mereka?" "Ya," jawabku singkat. Raut wajah Kapten Jack menjadi agak aneh ketika mengetahui aku bersikeras akan mencari anak itu. Tapi dengan tersenyum, beliau tetap memberi informasi yang kubutuhkan. Alamat juga nomor yang bisa dihubungi, email telah ada di tanganku saat ini. "Kami juga akan pergi ke salah satu alamat itu," kata Kapten Jack.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN