Begitu mendapat data dari Kapten Jack. Aku segera ke twighome. Tanpa berpamitan dengan Suvara aku terus menjelajah berbagai komunitas untuk menemukan hagi. Aku tidak mungkin pergi ke tempatnya. Tapi aku bisa menghubungi email juga berbagai media sosialnya.
Sialnya hampir semua akun itu sudah lama tidak terjamah olehnya. Aku terus menghubunginya meskipun aku tahu akan sulit terhubung saat kami tidak saling mengenal secara khusus.
"Bisakah kamu membaca pesanku? Kamu pasti sudah mendapat undangannya kan? Apakah kamu sidah dalam perjalanan kembali?"
Aku terus mengirimkan pesan juga berusaha melakukan panggilan padanya. Tapi nihil. Tidak ada tanggapan apapun.
"Suv? Kamu masih di Moons Camp? Bisa tolong lihatkan apakah namanya sudah berubah menjadi hijau?"
Aku menghubungi Suvara yang tampaknya juga panik mencariku.
"Baiklah. Tetap terhubung."
Tanpa mematikan sambungan, kami saling memberi kabar tentang update kedatangan peserta.
"Art sudah datang," Suvara menyebutkan.
"Hagi saja, tidak perlu Art," jaeabku dengan panik.
"Belum."
"Terima kasih."
Aku masuk ke berbagi komunitas yang dekat dengan desanya. Menghubungi orang-orang yang mungkin mengenalnya.
"Tahu Hagi Jina?" tanyaku.
"Oh, anak jenius itu?"
"Kamu mengenalnya? Ah syukurlah, akhirnya!" teriakku kegirangan
"Kamu ini siapa? ada apa?"
Aku memperkenalkan diriku, tapi yang terpenting adalah menyampaikan pesan bahwa Hagi harus segera kembali ke asrama.
"Bisakah kamu menolongku untuk menghubunginya?" tanyaku.
"Tunggu, semoga saja bisa."
"Terima kasih."
Aku menunggu dengan cemas. Sampai kemudian, pada akhirnya pesanku yang kukirim padanya menunjukkan bahwa dia telah menerima dan membacanya. "Hagi?"
"Ah kamu rupanya?"
"Sudah menerima undangannya kan?" tanyaku.
"Sudah."
"Kenapa belum kembali? aku mengkhawatirkanmu."
"Aku dalam perjalanan, tenanglah, aku sudah pasti kembali," jawabnya datar.
"Aku tahu aku bersalah padamu, tapi, aku bukan pengecut yang membiarkan kamu melewatkan persaingan ini, kamu dan aku harus saling melawan dengan baik."
"I see."
Aku lalu memutus sambungan telpon yang kulakukan. Sudah jauh lebih lega melihatnya sudah terhubung. Aku lalu kembali ke ruang kerja Kapten Jack. Untuk memberi tahu Hagi sedang dalam perjalanan menuju Moons Camp.
"Kamu bisa saja membiarkannya tidak tahu tentang tahap ini," kata Kapten Jack.
"Saya tidak sepengecut itu Kapten," jawabku tegas.
"Baguslah kalau begitu," jawabnya dengan tersenyum.
"Terima kasih, saya undur diri Kapten," aku mengangguk sebelum berbalik badan.
"Oh ya Kisya," panggilannya membuatku berpaling ke padanya sekali lagi.
"Ya, Kapten?"
"Terima kasih sudah membantu saya, membuat daftar peserta terpenuhi hari ini."
"Sama-sama Kapten."
Aku lalu keluar dari ruangan Kapten Jack dan kembali ke kamarku. Dalam perjalananku, aku berhenti dan berbalik arah kembali ke stadion. Duduk di tribun dan melihat nama-nama itu telah semakin banyak yang hijau. Nama Hagi masih merah, tapi setidaknya aku tahu dia sedang dalam perjalanan untuk kembali bergabung dengan kami.
"Hai Ra!" aku melihat seorang anak laki-laki melambai padaku.
"Hai Art," jawabku.
Dia lalu duduk di sampingku. Kami berdua melihat board dengan credits nama-nama peserta. Nama itu kini hanya meninggalkan tiga nama merah, dan Hagi salah satunya.
"Sudah siap bertarung?" tanya Art.
"Siap tidak siap aku akan menjalaninya."
"Aku dengar, dua dari tiga nama itu adalah rivalmu," kata Art.
"Nama yang merah itu?" tanyaku.
"Ya."
"Aku hanya tahu salah satunya saja."
"Aku juga tahu kamu mencarinya padahal dia adalah rivalmu, kenapa melakukannya?"
"Aku bersalah padanya dengan memberikan keterangan yang salah, yang bukan hakku untuk mengatakannya," jawabku kali ini dengan melihatnya.
"Ini bentuk tanggungjawabmu?"
"Iya."
"Padahal kamu bisa saja menyingkirkannya bukan?"
Kali ini aku menghadapkan seluruh tubuhku padanya. Dengan serius kutatap matanya. Aku menginginkan seluruh perhatiannya.
"Kamu percaya doa?"
"Lalu?"
"Aku tidak mau dia berdoa yang buruk tentangku. Jika dia tidak sedang berdoa, aku juga tidak mau dia berharap yang buruk padaku. Aku tidak ingin pergi ke bulan dengan rasa bersalah, mengerti?"
"Aku tahu."
Aku lalu tersenyum dan kembali melihat ke arah board. Kini nama Hagi telah menjadi hijau. Bahkan nama Namika juga telah menjadi hijau. menyisakan satu orang saja yang tetap menjadi merah. Semuanya ada 433 orang yang kembali dan akan berjuang untuk tahap selanjutnya.
"Done."
"Rivalmu lengkap kali ini."
"Yap. Aku bisa tidur nyenyak, berjuang dengan jujur."
"Good luck," kami saling berjabat tangan sebelum berpisah karena aku kembali ke ruang tidurku.
Aku memasuki kamar dan melihat Suvara yang membuat rancangan dengan hologram. Sebuah robot pembangun yang kecil namun dengan peralatan lengkap di dalam tubuhnya. Aku tidak mengerti apa saja program yang dia tenamkan, tapi aku suka melihatnya menggeser-geser berbagai program ke dalam tubuh robot itu.
"Kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Suvara saat aku akan duduk di meja belajarku.
"Belum," jawabku dengan tersenyum.
"Lalu?"
"Aku sudah bisa menghubunginya."
"Ah, lega kah?"
"Iya, akhirnya."
"Kamu jadi perbincangan di seluruh Moons Camp," kata Suvara.
Dia pun menjelaskan bahwa tindakanku terasa begitu pencitraan bagi sebagian orang. Bahkan ada yang berpikir aku tulus, berniat meminta imbalan atas usaha pencarian yang kulakukan dan lain sebagainya.
"Andai mereka tahu ini adalah penebusan dosaku," gumamku.
"Biarkan mereka berkata apa, asal kamu yakin dengan apa yang sudah kamu lakukan, itu cukup."
Aku mengangguk dengan ungkapan Suvara. Aku yakin dia telah sangat paham dengan kesalahpahaman yang kulakukan. Saat ini aku sudah begitu lega, dua orang itu sudah kembali ke Moons Camp dengan keadaan baik. Aku tinggal bertarung sesuai
dengan kemampuan kami masing-masing. Suvara menunjukkan rancangan robotnya selagi aku membaca buku teoriku. Tak lama,
beberapa kali ketukan pintu terdengar, aku dan Suvara bangun dan mendekati pintu.
Saat aku membukanya rupanya Kapten Jack berdiri di ambang pintu. Kami saling
tersenyum sebelum kemudian dia mengatakan sesuatu.
"Nanti malam datang ke menara suar, aku ingin mengundang kalian makan malam sambil berbincang," katanya.
"Baik Kapten," jawab kami berbarengan.
Sepergi Kapten Jack, kami berdua bergandengan tangan dan berlompatan bahagia. Tidak sembarang orang mendapat undangan seistimewa itu. Kami yakin ini ada hubungannya dengan usahaku mencari Hagi. Tapi kami tidak peduli, tentang apapun itu, kami tetap saja kegirangan.
"Menurutmu dia melihat rancangan robotku?" tanya Suvara dengan setengah tertawa dan sedikit rasa bangga.
"Iya, dia melihatnya."
"Andai aku bisa mengetahui sedikit tentang rahasia penerbangan ke Bulan," bisik Suvara.
"Siapa tahu kita memang bisa mendapatkannya."
"Makan malam ya? Itu sekitar 2 jam lagi, haruskah kita bersiap sekrang?" tanya Suvara yang begitu semangat menanggapi undangan Kapten Jack.
"Tidak ada salahnya sih, tapi aku nanti saja, setidaknya sebentar lagi, sampai aku meneyelesaikan bab ini," jawabku sembari menujukkan halaman buku yang sedang k****a pada Suvara.