Chapter 5

1004 Kata
Dia menjelaskan aturan secara mendetail bahwa diantara kami tidak boleh ada pertikaian. Apapun bentuk pelanggaran akan menjadi sebab musabab kami dipulangkan dan tidak bisa mengikuti event ini di tahun-tahun berikutnya. Aku mendengarkan penuturannya tentang tiga tahap sampai kami akan sampai ke bulan dengan seksama. Aku sangat ingin menulis penjelasannya. Tapi sejauh mataku memandang, tak ada satupun anak yang melakukannya. Maka aku pun menahan diriku. Kalaupun ada yang terlewat dari ingatanku, Suvara pasti menjelaskannya padaku. "Satu, kalian semua telah dengan sangat teliti dan cermat sehingga sampai di sini dengan tepat waktu. Baik di kelas ini, maupun kedatangan kalian di camp ini. Kalian adalah orang-orang terpilih dengan keberuntungan yang cukup banyak. Semoga ini bukan keberuntungan terakhir kalian. Kedua, ini hanya kelas sementara dan tidak ada bimbingan penelitian di kelas ini, kalian harus mencari ide dan bahan pilihan untuk penelitian kalian, setelahnya ajukan kepada kami dan kalian bisa mendapatkan bahan yang kalian butuhkan dengan percuma. Dalam ajuan hipotesis kalian, kami akan mengadakan seminar tertutup. Kami harap ide kalian adalah penemuan yang berguna dan dapat kalian pertanggungjawabkan. Anak-anak yang tidak menemukan atau gagal menguji penelitiannya, dinyatakan gagal dan akan kami pulangkan. Silakan mengikuti seleksi To The Moon tahun depan." Senyumnya tipis begitu menantang. Dia begitu mudah mengatakannya seolah kami pasti bisa menemukan ide-ide brilian yang akan mengantar kami ke bulan. Kini seluruh wajahku menunjukkan kecemasan yang hampir seragam. Hanya satu dua anak saja yang masih datar. Tapi aku yakin seluruh senyum, canda dan gurauan itu telah lenyap. "Ketiga, peserta yang dapat mempresentasikan hipotesisnya akan mendapat kesempatan bimbingan terbatas dari para tentor yang kami sediakan. Dengan jangka waktu yang telah kami tentukan, penemuan kalian harus dapat dibuktikan. Atau setidaknya mendekati pembuktian. Jika tidak, kalian akan tereliminasi. Keempat, kami akan menyeleksi penelitian siapa yang paling menarik dan dialah yang akan pergi ke bulan." Miss Marsche diam mengamati seluruh kami yang masih dengan tenang menunggu lanjutan dari penjelasannya. "Ada yang ingin bertanya?" Serentak seluruh ruangan mengacungkan jari ke atas. Termasuk aku. Perubahan raut muka Miss Marsche langsung terlihat. Dia mengembangkan senyumnya hingga otot pipinya tertarik dan mengencangkan wajahnya yang cukup halus dan bersinar. "Akan kumulai dari bawah dan ujung," dia mengarahkan lima jarinya ke seorang aku yang ada di sudut. "Apakah satu dari kami, ataukah satu dari angkatan ini yang pergi ke bulan?" tanyanya dengan lantang. "Tidak selalu satu, juga tidak selalu semua, setiap kalian punya kesempatan pergi ke bulan, jadi fokus saja pada kemampuan kalian. Selanjutnya." Tinggal setengah dari kami yang tetap mengacung. Menandakan sebagian pertanyaan telah terwakili. "Kamu!" "Kenapa semua terlihat seperti aku?" tanyaku. "Ini untuk menjaga setiap privasi kalian, kami ingin setiap kalian mempunyai ide dan berfokus pada masing-masing kemampuan kalian, tidak perlu memikirkan apalagi berusaha menyingkirkan orang lain." Jawaban itu semakin membuatku bertanya-tanya. Kata menyingkirkan terdengar begitu menakutkan di telingaku. Maka saat dia mengizinkan kami untuk bertanya lagi, aku kembali mengacungkan tanganku. Tapi dia tak menghiraukan aku lagi. Tangannya mengarah pada anak lain yang berada di atasku. "Berapa lama waktu yang kami punya?" "Tidak lebih dari 6 bulan." Banyak pertanyaan terlontar. Dan pertanyaan keduaku tak juga ada yang menanyakan. Aku tetap mengacungkan tanganku. Tapi tampaknya satu anak hanya boleh bertanya satu kali. Miss Marsche tak melihat ke arahku lagi. Dia justru menerangkan fasilitas yang kami dapat dan apa-apa yang bisa kami kerjakan sampai pengumuman presentasi kami ditentukan. Dia menunjukkan peta lokasi setiap sudut moon's camp dalam bentuk hologram. Termasuk kelas kami yang, baiklah, ini memang telah menggunakan distorsi jarak. Dia menyebutkan nama penemunya. Dan mengatakan bahwa orang ini bahkan telah beberapa kali pergi ke bulan sekedar untuk bersenang-senang. Ah, aku percaya yang dikatakan Miss Marsche. Kalau distorsi jarak telah dia temukan, mungkin dari kamarnya ke bulan hanya sebuah langkah panjang saja. Tidak perlu berlari apalagi menerbangkan roket. Miss Marsche menutup layarnya dengan menekan tombol di gelangnya. Ruangan kembali ke pencahayaan semula. Ke keriuhan semula. Anak-anak berlarian bahkan sebelum Miss Marsche meninggalkan ruangan. Beberapa anak bertahan. Seolah berharap mereka akan melihat wajah lain ketika Miss Marsche keluar dari ruangan itu. Tapi Miss Marsche bertahan sampai hanya tinggal beberapa anak saja. aAku sendiri kemudian menuruni tangga tribun dan semakin melihat Miss Marsche dari dekat. Dia masih begitu muda. Ingin rasanya memanggilnya dengan panggilan kakak saja. Aku menunduk saat melewatinya, dia sama sekali tak melirikku. Kubuka pintu bersama dengan seorang anak lain. Kami keluar secara bersamaan dan kini aku melihatnya yang masih begitu muda. Ah, apa yang akan di buat dengan otaknya yang masih begitu kecil. Sayangnya dia justru terlihat lebih profesional dariku. Dia dengan gaya acuhnya terlihat lebih memahami cara berteman di tempat ini. Aku berjalan di belakangnya dan membiarkannya menghilang di belokan menuju kamar-kamar berjajar. Aku melihat Suvara dari kejauhan berjalan dari arah yang berlawanan. Senyumnya mulai terkembang seolah dia baru menikmati piknik yang mengembalikan seluruh keceriaannya. Kedua lengannya membentang menyambutku. Dan aku berpikir dia sudah punya sesuatu yang akan dia buat, dia kembangkan, dia tunjukkanke dunia. "Aku merelakan tubuhku di pelukannya." "Apa yang membuatmu bahagia Suv?" tanyaku. "Wali kelasku kali ini sangat ramah dan menyenangkan Sya, sangat berbeda dengan yang kudapat tahun lalu." "Itu saja?" "Tidak!" Dia mencubit pipiku lalu mendesak pintu kamar kami dengan bahunya. Pintu terbuka. Kami menghambur ke dalamnya. Meletakkan barang bawaan kami dan pertanyaan yang tersisa itu kembali memenuhi otakku. "Suv?" kataku pelan. "Ada apa?" "Apa yang membuatmu bahagia?" akhirnya itu dulu yang bisa kutanyakan. "Sepertinya aku tahu aku ingin membuat apa untuk bulan." "Untuk bulan? Bukan ke bulan?" "Iya untuk bulan." Dia tampaknya begitu sumringah dengan idenya. Sebaliknya kalimat Miss Marsche masih mengganggu isi otakku. Aku berdiri dan menggesek buku-buku kami dengan jariku. "Bingung Sya?" tanya Suvara. "He.em." Aku membalikkan tubuhku dan menatapnya padanya. Mencoba memperoleh ijinnya tanpa harus aku memintanya. Kami saling bertatap mata sebelum kemudian perlahan senyumnya mengembang. "Tanyakan Sya, apa yang membingungkanmu?" "Tadi aku melihat di ruang itu semua wajah menyerupai aku Suv, aku sudah bertanya pada Miss Marsche, dan aku sudah mendapat jawabannya juga, tapi..." "Kenapa? Jawaban itu berbuah pertanyaan lain? Dan Wali kelasmu tidak mau meladeni pertanyaan keduamu?" "Hei, kenapa kamu bisa tahu?" "Setiap tahun pasti ada yang begitu, dan kamu tahu? Itu adalah cara mereka menjagamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN