"Nah itu!" sorakku melupakan volume suaraku bisa jadi terdengar juga oleh orang-orang di luar sana.
Aku menutup mulutku dengan tanganku sebelum aku kembali bertanya pada Suvara.
"Untuk apa mereka menjagaku? Dan menjagaku dari apa?"
"Apa yang kamu lihat di sini Sya?"
Suvara berdiri dan membuka pintu memastikan di luar tidak ada orang yang peduli dengan pembicaraan kami.
"Anak-anak seusia kita yang begitu cerdas. Mereka sama seperti kita berharap terbang ke bulan."
"Apa lagi?"
"Anak-anak di sini sepertinya tidak berusaha saling mengenal, hanya sebagian kecil yang tampak berteman."
"Benar."
Suvara lalu melepas kalungnya menggantungnya di depan mataku.
"Menyembunyikan ini tidak semata-mata menyembunyikan ide kita dari orang-orang yang nantinya satu program dengan kita, tapi juga benar-benar untuk melindungi kita."
"Dari apa Suv?"
"Anak-anak di sini, sebagian kecil tersesat, sebagian lain iseng, sebagian besar ambisi. Anak-anak dengan ambisi akan melakukan apapun untuk jadi kandidat penerbangan ke bulan."
"Melakukan apapun?"
"Ya, yang teringan adalah idemu dicuri. yang terparah adalah mereka tidak akan membiarkanmu mengklaim hasil karyamu sendiri. Seluruh bukti akan mereka ganti dengan profile mereka. Tubuh yang bertahan pun tidak mereka ijinkan menggoyahkan keputusan para panelis nantinya."
Aku tercengang meski tidak terlalu paham dengan penjelasannya. Aku menangkap makna pelenyapan yang tersirat, tapi benarkah di camp yang berisi anak-anak itu bisa terjadi. Rasanya tidak mungkin.
"Tidak Kisya! Tidak ada pembunuhan di sini, tenanglah. Yang terburuk hanya kau tersingkir dari impianmu untuk pergi ke bulan, sudah itu saja," tampaknya raut kecemasanku terbaca oleh Suvara.
"Kamu membuatku takut dengan istilah lenyap Suv," kataku sembari menggaruk kepalaku.
"Hahaha, maafkan aku, tapi bagi anak-anak yang sangat ingin pergi ke bulan sepertiku, tidak bisa pergi ke bulan lebih baik tidak usah usah hidup sama sekali."
"Sampai begitu?" tanyaku begitu tercengang.
Aku menjauh dari jendela naik ke tempat tidurku. Bertelungkup dan menatap pada Suvara dalam-dalam bagaimana bisa dia punya pikiran seperti itu. Bagiku pergi bulan bukan hal istimewa. Banyak orang yang tidak pernah menginjak bulan dan mereka baik-baik saja.
"Suv," panggilku lembut.
"Haruskah kamu ke bulan?" tanyaku.
Suvara menoleh padaku, dia masih tersenyum walau terlihat tak segirang tadi. Setelah mengambil nafas yang panjang, Suvara mulai bercerita.
"Aku dianggap terlalu cerdas oleh ibuku pada awalnya Kisya, sehingga dia membawaku ke tempat ini, nyatanya sampai hari aku sudah gagal dua kali, di tahun kemarin, sepupuku yang hanya tersesat sepertimu, bahkan berhasil dalam sekali mencobanya. Aku sakit hati Sya, saat ibuku mulai meragukan kemampuanku. Disaat dia sendiri yang mengasingkanku dari hidup anak-anak yang seharusnya, sekarang dia juga yang meragukannya."
"Tapi bukan berarti harus mati kan Suv?" aku merasa iba pada obsesinya.
"Jika hanya gagal kali ini mungkin aku masih bisa terima Sya, tapi jika dilenyapkan, aku sebaiknya benar-benar lenyap."
Suvara memandang langit dari jendela kamar kami.
"Ceritakan lagi tentang apa itu lenyap, padahal kamu bilang dulu, semua orang di sini ramah, semua akan baik-baik saja."
Aku menuntut penjelasan padanya yang sudah pernah bercerita saat pertama kali kamu bertemu lalu.
"Jika seseorang, memanipulasi hasil penemuanmu, laporanmu atau apapun proses yang kamu lakukan untuk memenangkan "Bulan" membuatku terkesan melakukan kecurangan, dan diketahui oleh petugas yang ada di sini, kita tamat. Kita akan didiskualifikasi dan dilarang mengikuti camp ini selamanya."
Aku mengangguk. Mulai memahami arti lenyap yang dia takutkan. Dia yang begitu ingin pergi ke bulan dan kemudian tak bisa pergi sama sekali pasti begitu menyakitkan. Aku bangkit dari tempat tidurku. Berjalan ke arahnya yang masih di tempat belajar kami.
Kupeluk lehernya yang tertutup rambut panjangnya. Kami bersama-sama melihat langit biru dengan awan yang berarak keabuan. Jikapun ada bulan nanti malam, tetap tak akan terlihat dari kamar kami.
"Kita akan ke bulan bersama Suv, percayalah," kataku lembut.
"Kalau tak bisa bersama, kamu saja yang pergi dulu, aku yakin aku masih bisa menunggu, tidak pergi pun tak apa," lanjutku dalam hati.
Suvara menepuk tanganku dan diapun menyeringai.
"Aku lapar Sya!"
Keluhannya membuat kami sadar ini sudah saatnya makan siang. Kami pun bersiap keluar dari kamar dan menuju kantin.
"Tidak bisakah makan di kamar saja?" tanyaku.
"Bisa, kalau kamu sakit, kalau kamu mau membayar lebih."
Mata Suvara mengerling menjelaskan kedua kemungkinan lain itu padaku. Membuatku seolah tersindir dengan keadaanku.
"Aku tak mau yang pertama, tak punya yang kedua," aku terkekeh dan mendorong pintu kamar kami.
Anak-anak lain juga tampak meninggalkan kamar asrama mereka. Beberapa berjalan sambil menunduk, beberapa berjalan dengan buku di tangannya, beberap sisanya bergerombol di sisi-sisi kamar.
Suvara mengetatkan kerah blousenya, berharap tidak ada sedikitpun pendaran liontinnya yang akan terbaca anak lain. Kehati-hatiannya membuatku sedikit kasian padanya. Jika pertemanan kami tulus, aku benar-benar rela dia pergi tanpaku.
Agar ketakutannya segera berakhir. Agar tidurnya tak lagi terganggu dengan kepergiannya ke bulan. Atau justru agar dia bisa tidur di bebatuan bulan sana.
"Kamu pesan apa?"
Aku mendekat ke meja menu. Menekan beberapa gambar makanan yang ingin kumakan siang ini. Kemudian kami duduk di meja yang tidak jauh dari food court dengan nampan penuh makanan di tangan kami. Beberapa robot pramusaji juga berjalan mengedarkan nampan-nampan makanan ke meja-meja pemesannya.
"Nanti kalau aku jadi pemenangnya, aku akan memesan makanan dengan robot itu."
"Kamu mau? Aku bisa meminjamkan koin padamu," tawar Suvara padaku.
"Tidak, aku akan membeli satu robot seperti itu suatu saat darimu," kataku.
"Ah iya, Setelah pulang dari bulan, aku akan memproduksi robot-robot seperti itu, lalu menghadiahkan satu padamu."
Kamipun tertawa sembari mengigit ujung hotdog kami. Kantin yang riuh oleh suara anak-anak menjadi tak asing lagi bagiku. Pembicaraan tentang kelas yang baru terjadi tampaknya juga menjadi topik perbincangan yang seru di kalangan kami.
Aku dan Suvara juga melakukan hal yang sama. Kami saling bercerita tentang kelas kami. Termasuk juga segerombolan anak-anak yang menerbangkan pesawat tadi.
"Apakah seperti itu?" tanya Suvara menunjuk dengan matanya.
Kutolehkan kepalaku ke arah yang ditunjuk Suvara. Aku mengamati dengan seksama 4 orang anak laki-laki yang menerbangkan pesawat terbang. Keempat anak itu punya tinggi yang seragam dan wajah yang mirip. Aku yakin itu mereka.
"Mereka sekelas denganku, artinya mereka pesaingku kan?" tanyaku berpaling kembali ke meja makan.
"Tidak selalu, nanti kamu akan mengerti saat menang atau kalah, setidaknya sampai kamu melihat mereka mempresentasikan hipotesis mereka.
"Aku tidak sabar akan hal itu."
"Jangan terburu-buru, itu tidak baik untuk ide-idemu."
Aku tak peduli dengan jawaban Suvara. Sudah agak tidak penting bisa ke bulan atau tidak. Tapi menjadi pemenang tampaknya masih sesuatu yang menarik.
Sebuah letusan tiba-tiba menimbulkan suara yang teramat mengagetkan kami. Aku dan Suvara berdiri dan memanjangkan leher kami melihat apa yang terjadi di lapangan dekat food court.