"Ada apa dengan tanganmu?" akhirnya aku bertanya padanya. "Ini?" dia mengangkat tangannya yang baik-baik saja. "Satunya," kataku sehingga akhirnya dia harus mengangkat selang infus yang ada di tangan lainnya. "Maaf, aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan." "Aku juga minta maaf karena memaksamu menjadi seperti yang aku inginkan." Kami pun sedikit berdebat tentang video yang kutemukan juga tentang semua kebohongan ini. Sudah kubilang tidak ada kecelakaan di sepanjang rute yang harusnya dia lalui. Tapi dia terus mengatakan dia tertabrak mobil lain. "Aku lelah Saz, aku tidak ingin bertengkar, aku yakin kamu juga sama, jadi selamat beristirahat, semoga lekas sembuh." Setelahnya, aku memutus sambungan telpon kami. Saat gadgetku berkali-kali berdering, aku tidak peduli. Aku j

