“Kau ini kenapa Ali? Kau tidak pantas mengatai orang lain seperti itu. Terlebih kepada wanita. Kau tahu kan siapa dirimu? Tidak sepantasnya seorang pangeran mengatai orang seperti itu.” Thalha langsung menceramahi adiknya. Sebagai seorang pria, ia tidak bisa melihat laki-laki mengatai wanita seperti itu. Dan lebih parahnya lagi, adiknya sendiri yang melakukan hal seperti itu. Dimana harga dirinya sebagai seorang pria? Memalukan sekali. Ali memutar matanya kesal dan memilih untuk menenggak jusnya dengan cepat. “Dia sudah melakukan banyak tindak kekerasan padaku. Apakah tidak cukup hanya dengan membantingku? Dia juga menyikut perutku.” Thalha mengerutkan alisnya dan menanggapi perkataan yang penuh emosi dari Ali. “Dia tidak sengaja.” Ali pun menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya.

