Maryam kali ini dapat melihat bagaimana ekspresi dingin yang biasa Zubair perlihatkan pada ketiga anak-anaknya kini telah berubah sedih. Kilatan matanya yang selalu memancarkan sorot mata yang tegas dan tidak terbantah itu sekarang setengah terbuka dan menatap makanannya ketika kedua tangannya memotong daging dengan pelan. Ia seperti tidak berselera makan, sedangkan perannya sebagai kepala keluarga harus memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Meninggalkan ruang makan tanpa menyentuhnya bukan sesuatu yang diajarkan di dalam tata krama. Maryam menghela nafasnya sejenak dan meletakkan peralatan makannya. "Istirahatlah setelah ini sayang. Biar aku yang mengurus sisanya." Zubair tersenyum lemah setelah ucapan istrinya yang mengkhawatirkannya. "Aku hanya ingin keluarga kita baik-bai

