“Bagaimana kondisi lukamu?” Umair masih setia menatap wajah Krista yang tampak bersemangat hari ini. Bagi Umair itu sudah lebih dari cukup untuk mengisi ulang moodnya yang hancur sejak kemarin. Krista berkedip sekali dengan memiringkan kepalanya ke kanan. “Lebih baik.” Umair menganggukkan kepalanya, jujur saja ia ingin sedikit bermain curang untuk menghasut Krista dan membuatnya semakin membenci Ali. Tapi Umair sendiri juga tidak ingin menjilat ludahnya sendiri di depan Ali. Ia menggaruk kepalanya pertanda ia bingung harus menanyakan apa lagi pada Krista. “Apakah Pangeran Ali sudah memberitahumu berapa hutang yang harus kau bayar?” Umair seperti menyesal menanyakan hal itu. Melihat Krista yang tersenyum sambil menghela nafasnya. Senyumannya memiliki pertanda buruk bagi Umair. “Belum. Se

