Penyergapan

968 Kata
“Dilihat dari ketiga pencuri di ruang tengah itu, hanya pria di tengah yang mengacungkan pistol. Tetapi ada dua orang yang tertembak bukan? Satu-satunya kemungkinan adalah pria ke empat yang menembak Ahmad.” Bernard menganggukkan kepalanya. “Benar. Pria ke empat itu dari dalam kamar setelah Ahmad tertembak.” Semua orang menganggukkan kepalanya. “Orang yang berada di tengah ruangan itu aku yakini sebagai orang yang baru melakukan kejahatan. Ia panik setelah ia menembak dan berusaha mencari jalan keluar melalui jendela. Tidak seperti ketiga orang yang lain, mereka langsung dengan cekatan pergi ke dapur dan menembaki Marson. Lalu Johan terlambat menyadari saat perampok itu pergi melalui pintu depan.” Krista selesai memberikan hasil pengamatannya. Setelah rapat penting itu selesai, Krista langsung dipanggil ke ruangan Bernard. Bosnya dengan tegas memberikan tugas menangkap buronan itu pada Krista dan tentu saja langsung diterima olehnya. Ia akan menangkap semua perampok itu dan menghukum mereka dengan hukuman yang adil. -Dua minggu berlalu- ‘I’m in position.’ “Tunggu aba-aba dariku.” Krista langsung berlari kecil sambil mengamati sebuah mobil van hitam yang terparkir di sebuah rumah elit. Ia tidak kehilangan sedikit pun konsentrasi pada seorang pria yang sedang merokok di dalam mobil itu. Mengenakan sebuah topi baseball dan juga jaket hitam berlari malam. Krista akui bahwa ia sangat gugup ketika ia melihat pencuri yang dengan jelas keluar dari mobilnya dan menatap dirinya sedikit waspada. “Hey girl!” Ucapnya menyapa Krista dari jauh. Krista tentu saja terhenti dengan nafasnya sengaja ia buat terengah dan berkacak pinggang menatap pria itu. “Kau memanggilku?” Krista masih berakting sambil melepas headsetnya. Pria itu tersenyum meremehkan. “Kau ada waktu? Mari bersenang-senang sebentar.” Krista tersenyum kecil. Sebelum pria itu bertingkah kurang ajar, Krista langsung menangkap tangan pria itu dan kemudian memutarnya ke belakang tubuh dan membantingnya ke lantai dengan keras. Sreeett “HEY! Lepaskan!” Teriak pria itu. Krista tidak lagi tersenyum dan mengeluarkan borgol dan menyumpal mulut pria itu dengan kain handuk yang ia bawa di lehernya. “Sekarang!” Kata Krista member aba-aba pada rekannya yang lain. Pria itu terkejut bukan main saat melihat puluhan polisi bersenjata lengkap langsung mengepung rumah itu. “HMPP! HHMPPP!” Krista tersenyum kecil ketika melihat pria itu menggeliat di atas jalan seperti cacing kepanasan. Krista mengeluarkan pistol dari balik tubuhnya dan langsung bersiap untuk menyergap pencuri sialan yang sudah membunuh Ahmad. “Kris? Kau baik-baik saja?” Amanda langsung datang menghampiri. Krista menganggukkan kepalanya. “Ya. Kau bisa urus pria ini.” “Kau berhati-hatilah.” Perlahan polisi mendekat ke rumah itu. Polisi professional itu terlatih. Krista sudah memenangkan pertempuran ini dengan sangat yakin ketika ia mengintip ke dalam dan menyaksikan para perampok yang masih sibuk menjarah harta benda. Leonel memimpin langsung penyergapan segera memberi aba-aba melalui walkie talkie. Regu dibagi menjadi tiga grup yang terdiri dari regu Leonel dibagian pintu belakang rumah, regu Krista di bagian timur untuk berjaga jika mereka berusaha kabur melalui bagian timur, sedangkan Jonathan di bagian depan rumah. Ia berdiri bersama anak buahnya yang sudah mengangguk bersiap pada posisi. Jonathan menganggukkan kepala. “Sekarang!” Ucap Leonel dan langsung direspon cepat oleh anak buahnya. BRAAAKKK “POLICE! JATUHKAN SENJATA KALIAN DAN TIARAP! CEPAT!” Teriak Jonathan dengan cepat merangsak masuk. Gebrakan pintu cukup kuat karena pintu yang hampir terlepas dari engselnya setelah dua orang berbadan cukup besar menendang pintu. DORR DOR Dua perampok yang tepat berada di ruang tengah langsung panik dan menembaki mereka. Sayangnya polisi berseragam lengkap ini sudah dilapisi rompi anti peluru dan tembakan mereka berakhir sia-sia. Jonathan bersama rekan regunya tanpa segan menembak dan dua orang perampok tumbang. “Zone A clear!” Krista buru-buru bersembunyi di balik pagar batu ketika ia melihat satu orang pencuri berusaha kabur melalui jendela. Matanya memicing dengan degup jantung yang hampir membuatnya frustasi. ‘Come on. Aku sudah menunggumu selama dua minggu untuk membalaskan dendamku.’ Batinnya masih bersabar. “Sialan! Sejak kapan kita terkepung… Sialan!” Krista mendengar suara pria itu semakin mendekat ke arahnya. Ketika pria itu melewati pagar batu yang menjadi tempat persembunyian Krista, ia melompat dan menarik leher pria itu ke belakang. Sreeett “SIALAN! LEPASKAN!” Pria itu memberontak hebat. Doorr “AAARRGHH!” Teriak pria itu kesakitan. “Kris! Tahan dia!” Teriak salah satu tim regunya. “Sudah dua minggu aku menunggu kalian di kantor polisi. Diam dan jangan memberontak!” Ucap Krista yang tidak punya pilihan lain untuk menembak kaki pria itu agar berhenti memberontak. “Aku sudah memborgolnya.” Krista langsung mengambil walkie talkienya yang terjatuh ketika perampok itu memberontak. “Aku berhasil menangkap satu.” Ucapnya sambil memperhatikan rumah itu lagi. Takut perampok yang lain lewat dari jalurnya. ‘Yang terakhir sudah aman. Good job, team! Mari kita bawa cecunguk ini ke kantor.’ Krista langsung bernafas lega dan menyandarkan tubuhnya pada pagar batu lagi. Rekannya regunya tertawa. “Aku pikir akan ada perlawanan, ternyata hanya seperti ini.” Krista tidak tersenyum menanggapi rekannya. “Terlalu sombong. Kalian bahkan berusaha menangkap kami dengan membawa begitu banyak personel. Apa kalian sedang menangkap sekumpulan teroris? Hahaha.” Bercak darah di sudut bibirnya yang pecah tidak menggoyahkan dirinya untuk tertawa disaat-saat terakhirnya meghirup udara bebas. “Tutup mulutmu!” Pria itu masih tertawa saat partner regu Krista membentaknya keras. Merasa pria itu masih akan terus tertawa sampai mereka tiba di kantor polisi, Krista dengan kasar menyumpalkan kaus kaki pada mulut pria itu dan kemudian membawanya ke mobil polisi. Dua minggu yang sangat melelahkan bagi Krista. Ia harus bolak balik kesana kemari untuk membuntuti aktivitas mereka. Ia bekerjasama dengan beberapa personel khusus kepolisian untuk menemukan jejak keberadaan mereka melalui rekaman CCTV di berbagai toko, bahkan sampai rekaman CCTV yang terpasang di pinggir jalan. Kelima perampok ini adalah perampok yang sudah melakukan banyak sekali kejahatan setiap hari. Entah mencuri barang-barang sepele seperti handphone, bahkan dompet sampai penjarahan mobil. Mereka perampok yang tidak ada hari tanpa merampok, persis seperti hobby. Iring-iringan sirine polisi terdengar keras membelah jalan kota yang cukup ramai di pusat kota. Polisi lalu lintas dengan segera member akses agar mereka bisa membawa kelima perampok itu dengan aman sampai ke kantor polisi. Ketika dalam perjalanan, Krista melirik pria yang duduk di belakang bersama dengan dua orang polisi lain yang menjaganya di kanan dan kiri melalui kaca. Hatinya sakit sekali melihat wajah pria itu. Jika saja Krista bisa menarik pistolnya dan membunuh mereka semua untuk membalaskan dendamnya. “Kau yang membunuh polisi itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN