Selamat Tinggal, Ahmad

990 Kata
Amanda yang berada di samping kanan penculik itu menghela nafasnya. Seharusnya mereka tidak membahas mengenai hal itu sekarang karena pencuri ini mudah sekali memanfaatkan perasaan seseorang. Ia mengencangkan cengkramannya pada lengan pencuri itu dan membuang wajah ke samping untuk menatap jalan. Pria itu tertawa kecil. “Kau kekasihnya?” Krista tidak menjawab dan hanya mengencangkan cengkraman tangan pada stir mobil. Nafasnya sedikit berat dengan mata yang perlahan kosong. “… Aku bersumpah. Demi tuhannya Ahmad, aku akan pastikan kau dihukum mati.” Pria itu tertawa keras. Amanda sempat merasa merinding saat merasakan pria ini seperti seorang psikopat yang tidak akan jera jika hanya ancaman. “Aku akan tetap hidup di dalam pikiranmu, polisi rendahan. Kau ingin tahu bagaimana aku menembak kepalanya? Hm?” Pria itu memajukan badannya sedikit dan ditahan kuat oleh Amanda dan rekannya. “BANG! Kau harus lihat wajah bodohnya saat sekarat. HAHAHAHA!” CKIIIIIITTT “KRIS!” Teriak Amanda terkejut bukan main. “Kris? Ada apa?” Krista langsung menginjak rem dan membuat mobil polisi yang mengekorinya menabrak mobilnya, seketika situasi menjadi tegang kembali. Krista turun dari mobil dan membuka pintu belakang dengan kasar sambil mengokang pistolnya pada pria itu. “KELUAR! AKU YANG AKAN MENGHABISIMU SEKARANG!” Teriaknya tidak terkendali. Selama ini ia berusaha menahan diri untuk tidak menghajar pria itu sampai mati. Tetapi tingkahnya yang berusaha memancing emosinya sudah diluar batas kewajaran. Amanda tidak bisa turun dari mobil dan berusaha untuk menenangkan Krista. CKIIIITT “KRISTA! Turunkan senjatamu sekarang!” Jonathan melihat Krista kalap dan tak terkendali segera berjalan mendekat untuk menenangkannya. Ia regu terakhirnya yang berjalan setelah mobil Krista dan tiba-tiba saja perjalanan terhambat membuatnya berpikir negative. Dan benar saja, Krista hampir menembak pria itu sebelum akhirnya Jonathan merebut pistol dari tangannya. “Hentikan perbuatanmu ini, Krista. Aku tahu kau terpukul atas kematiannya, tapi tidak seperti ini. Kendalikan dirimu, aku akan pastikan mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka.” Krista menutup mulutnya dan menyisir rambutnya ke belakang dengan kasar. “Tinggalkan aku.” “Hey! Krista!” “Kris! John? Ada apa denganmu?” Tanya Amanda kesal sekali dengan perlakuan Jonathan. “Ck! Biarkan saja dia sendiri dulu.” Amanda hendak membalas perkataan Jonathan tetapi terpotong karena pencuri yang berulah itu tertawa. Kesal, akhirnya Jonathan sendiri yang menghajar pria itu dengan sekali tonjokan dan dia pingsan seketika. Krista kembali pulang ke apartemennya dengan perasaan campur aduk. Melihat wajah pria itu membuatnya ingin sekali segera membunuhnya. Ia sampai di apartemennya dan langsung mandi untuk menyegarkan pikirannya. Nyatanya, ketika ia sudah selesai mandi dan hendak tidur, pikirannya tidak bisa tenang. Hatinya menjerit kesakitan karena Ahmad. Kenapa? Kenapa Ahmad begitu keras mengikat hatinya sampai ia menjadi seperti ini. Selangkah lagi ia akan berhasil, besok kelima perampok itu akan segera disidang dan ia akan terbebas dari belenggu yang menyakiti hatinya. Krista kembali ke toilet dan membasuh wajahnya dengan air. Melihat wajahnya dengan pipi tirus dan bibir yang pucat membuat Krista seperti seorang tengah depresi berat. Ia segera mengelap wajahnya dengan handuk dan kemudian berjalan kembali ke kamarnya. Duduk di kursi dan membuka laci mejanya. Disanalah ia menyimpan semua puisi cinta dari Ahmad. Ada satu buah kitab yang ia simpan dengan hati-hati disana. Krista membeli Al-Qur’an berukuran sedang sejak ia ingin mengenal Ahmad. Ketika Krista membukanya, terlihatlah tulisan indah bagai kaligrafi yang tersusun rapi di atas kertas itu. Krista selalu mengagumi tulisan itu, sangat indah. Walaupun ia tidak mengerti apa arti dari tulisan itu, setidaknya ia ingin memeluk kitab itu sebagaimana ia melihat Ahmad selalu mencium kitab kecil yang selalu ia bawa di saku seragamnya. “Ahmad…” -Keesokan harinya- Dan hari persidangan langsung diadakan. Ruang sidang terasa penuh dan sesak ketika kelima pria itu berdiri bagai pajangan di bagian kanan ruangan tanpa ada satupun pengacara yang mendampingi. Krista pun hadir disana. Diantara puluhan orang yang menuntut kelima pencuri itu dengan berteriak dan memaki agar kelima orang itu segera dihukum mati saja. Krista bergeming dan duduk dengan menatap salah satu dari mereka dengan tatapan mata yang tajam. Sama dendamnya dengan semua keluarga korban yang tersisa. “HUKUM MATI SAJA MEREKA!” “KALIAN LEBIH PANTAS MATI! PEMBUNUH!” “TIDAK ADA BELAS KASIHAN PADA PEMBUNUH!” Krista yang mulai merasa tidak nyaman segera menarik Amanda untuk keluar dari ruang sidang karena suasana yang sudah sangat tidak kondusif. “Kau ingin pergi ke suatu tempat?” Tanya Amanda yang kini berjalan di samping Krista. Ia menghela nafasnya lelah. “Aku ingin mengunjungi Ahmad.” Ucapnya dengan nada parau menahan tangis. “Aku akan mengantarmu.” Dan dalam perjalanan yang sepi dan senyap tanpa percakapan, Amanda senantiasa menemani Krista menuju makam Ahmad dengan mobilnya. Jonathan member kabar jika kelima pencuri itu akhirnya diadili dengan keputusan final dengan hukuman tembak mati. Amanda puas sekali mendengar kabar itu, begitu pula dengan Krista. “Aku akan menunggu disini.” Ucap Amanda ketika mereka sudah sampai di depan pemakaman. Krista mengangguk. Ia berjalan pelan dengan setangkai mawar putih yang sengaja ia beli di pinggir jalan untuk menghiasi makam Ahmad yang tampak gersang. Sudah lebih dari dua minggu ia tidak berani mengunjungi makam Ahmad karena takut ia akan menangis keras dan menginap di pemakaman sampai malam. Tapi kali ini ia datang dengan ketaguhan hati yang rapuh, hati yang hancur dan harapan yang pupus. Krista masih sanggup berjalan mendekati kuburan Ahmad walaupun setiap langkah seperti menyiksanya semakin kuat. Masih tertulis namanya disana, Muhamad. “Hey… Ahmad… Aku berbicara dengan batu sekarang.” Gumamnya yang sudah berlinang air mata lagi. Diusapnya batu itu dan kemudian diletakkan mawar putih itu disana. “Aku berterima kasih padamu atas semua yang kau berikan padaku. Berkat dirimu, aku ingin mengenal Islam. Aku ingin bersaksi dan menyembah tuhan yang kau sembah…” Krista mendudukkan diri di samping makam Ahmad. “Apakah kau sudah bersama Allah? Aku ingin menyembahnya juga dan dari apa yang aku cari di internet, aku harus bersyahadat dan kemudian menutup kepalaku. Apakah aku pantas menjadi wanita Islam, Ahmad?” Angin yang berhembus menjawab semua pertanyaan Krista. Sejuknya angin itu seakan-akan Krista berkhayal bahwa Ahmad ada di sekitarnya dan tersenyum padanya. Krista mengusap air matanya. “Aku akan ke Yordania dan bersyahadat di depan keluargamu, Ahmad. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku mengunjungi makammu karena aku akan menetap di Yordania untuk belajar Islam disana.” Ucap Krista dengan pasti. “Terima kasih. Aku tidak akan berhenti mengucapkan terima kasih padamu. Dan semoga Allah memberimu surga seperti yang kau inginkan… dan aku inginkan. Selamat tinggal Ahmad.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN