Rahasia Ahmad

1073 Kata
Pagi-pagi sekali Amanda sudah disibukkan dengan berbagai koper dan kardus yang bertumpuk di depan apartemen Krista. Seperti yang Krista katakana semalam bersama Bella, mereka semua akhirnya setuju dengan keputusan Krista dan membiarkan Krista memilih jalan hidup yang menurutnya benar. “Kris? Masih ada lagi di atas?” Teriak Amanda yang berkacak pinggang sambil mendongak ke atas. Terlihatlah kepala Krista yang keluar dari jendela lantai dua dan tersenyum dengan deretan gigi yang membuat Amanda menggerutu. “Masih ada lima box lagi.” Teriak Krista dari atas. “WHAT?! Kau menyuruh kami berdua membawa semua barangmu ini ke Santa Maria? Mati aku!”   BRUUGHH “Berhenti mengeluh, mama muda. Aku bersyukur wanita slebor itu bisa tersenyum sekarang. Kau tahu? Kemarin aku seperti sedang berbicara dengan seonggok mayat hidup.” Bella datang dan meletakkan dengan kasar satu kardus di hadapan Amanda. “Aku tahu itu. Sebaiknya kita memakai jasa pindah rumah saja.” “A- A! Tidak, tidak. Kris sudah menelponnya, tugas kita hanya menyusun di bawah sini agar tidak menghalangi jalan.” Amanda sudah menyandarkan tubuhnya pada tiang lampu sambil menghitung berapa banyak box kardus Krista. “Barangnya terlalu banyak. Apa saja yang ada di dalam sana?” Bella mengangkat pundaknya tidak peduli. Setelah semalaman penuh mereka bergadang dan merayakan pesta untuk perpisahan dengan menangis dan berpelukan seperti teletubis, keesokan harinya mereka harus menjadi kuli panggul untuk mengangkat barang-barang Krista. Terkadang sahabat memang kurang ajar. Lihat saja Krista. “Masih ada waktu dua jam lagi sebelum Krista berangkat. Kau sudah memperingatkannya? Dia bisa ketinggalan pesawat jika terlalu asik dengan barang-barang sampah ini.” Bella tertawa kecil dengan kardus yang baru saja ia pindahkan. Tidak lama ketika Amanda dan Bella sibuk berbicara, Krista turun dari apartemennya dan menatap mereka dengan senyuman kecil. Kedua sahabatnya yang paling setia, bahkan sampai akhir mereka akan berpisah. “Hahaha aku tahu kau memang wanita kurang ajar, Bella. Lalu bagaimana dengan pria itu?” Tanya Amanda. Krista menghampiri mereka. “Aku tendang k*********a dan kemudian lari.” Amanda langsung tertawa keras. “Sepertinya aku ketinggalan topik yang seru.” Bella menaikkan pundaknya sekali dan duduk di salah satu kardus keras. “Kris, jika kau menemui pria kurang ajar disana, langsung habisi saja jangan beri ampun.” Krista tersenyum lagi. “Ah! Aku ingat Kris! Kau pernah belajar krav maga dengan bos Bernard. Aku tidak akan khawatir sekarang. Pergilah yang jauh.” Amanda berkacak pinggang dan perkataannya membuat Krista sedikit tersinggung. “Hey! Kau mengusirku?” Bella segera menengahi. “Baiklah, kau akan berangkat ke Santa Maria sekarang?” Krista mengangguk. “Setelah ini. Kita bertemu di Airport.” Hal yang paling berat dilakukan Krista adalah perpisahan. Sama ketika ia berpisah dengan Ahmad, walaupun berbeda tetapi tetap saja perpisahan dengan Amanda dan Bella. Padahal kemarin ia berharap bisa sedikit melepas rindu dengan mereka berdua dengan berkeliling Los Angeles dan mengacak-acak bar. Tetapi Krista tidak melakukannya karena ingat jika Ahmad tidak suka ia bertingkah meresahkan. Krista menatap kedua sahabatnya dengan tatapan hangatnya. Tidak terasa Amanda meneteskan air mata lagi saat melihat wajah Krista yang menatapnya dan Bella bergantian. “Hentikan tatapan sialmu itu Kris. Aku akan sungguh menghajarmu jika kau tidak mengunjungiku selama hidupmu.” Krista tidak terasa menitikkan air mata juga. “Kalian berdua sahabat terbaikku.” Krista langsung menghambur memeluk mereka sambil menangis. “Emm sepertinya aku datang tidak di waktu yang tepat.” Krista menoleh dengan matanya yang memerah saat mendengar suara pria menegur mereka. Amanda bereaksi kesal. “Mau apa kau? Aku sudah katakan hari ini aku libur.” Ucapnya ketus pada Jonathan. Jonathan menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekat. Jonatahan adalah teman seperjuangan Ahmad sejak mereka pelatihan menjadi kepolisian. Mereka sangat dekat bahkan menyewa apartemen yang bersebelahan dengan Ahmad karena biayanya murah. Mereka berteman cukup lama dan entah kenapa Krista melihat Jonathan yang menatapnya dengan tatapan sedih ini membuatnya tidak tenang. Entah, Krista harap itu masih berita baik yang akan ia sampaikan. “Kris, bisa kita bicara sebentar?” Krista mengangguk dan membawa Jonathan masuk ke dalam apartemennya bersama Amanda dan juga Bella yang mengekor. Jonathan menatap sekeliling apartemen Krista yang sudah kosong melompong. Sejujurnya ia ingin mengajak Krista untuk bicara diluar, tapi karena berita yang akan ia sampaikan ini akan sangat mempengaruhinya, Jonathan memilih untuk membicarakannya disini. Akan lebih baik jika tiba-tiba Krista menangis keras atau semacamnya, ia tidak akan kerepotan menenangkannya dan juga ada kedua sahabatnya. Jonathan menghela nafasnya sejenak ketika melihat kea rah luar jendela yang terbuka agar debu tidak menumpuk di dalam ruangan. Amanda menatap Jonathan masih dengan tatapan kesal sementara Bella terlihat tidak peduli sama sekali dengan pria itu. “Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Krista tidak sabaran. Jonathan terdiam dan perlahan membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna silver. “Ini milik Ahmad… Dan kau orang yang tepat untuk menyimpan ini.” Amanda berjalan mendekat ketika Krista menerima kotak itu dengan hati-hati. Matanya sudah berkaca-kaca saat menatap kotak itu dan kemudian menatap kea rah Jonathan meminta penjelasan. “Kenapa kau berikan ini padaku?” Jonathan menghela nafasnya sejenak. “Bukalah, aku akan menjelaskannya setelah kau membukanya.” Krista langsung membukanya dengan hati-hati dan hatinya terasa sakit lagi. Ya, sakit itu datang lagi. Krista langsung menangis ketika melihat disana sebuah kotak cincin berwarna merah marun di sampingnya terdapat kitab yang biasa Ahmad baca. “… Ahmad…” Ucap Krista lirih menyentuh kotak cincin itu tanpa berani untuk membukanya. Jonathan paling tidak bisa melihat wanita menangis di hadapannya. Ia menoleh ke samping dan menatap keluar jendela, tidak ingin melihat Krista yang menangis. “Aku sudah lama mengetahui Ahmad menyukaimu Kris. Aku satu-satunya orang yang mengetahui bahwa dia sering membuat puisi-puisi untukmu. Ia berniat untuk mengajakmu masuk Islam dan kemudian menikahimu.” Bella menatap Jonathan dengan tatapan tidak percaya. “Betapa bodohnya Ahmad. Kenapa dia tidak katakan saja yang sejujurnya?” Jonathan melirik Bella sekilas. “Ahmad pria yang… unik. Kami sudah lama berteman dan dia tidak pernah mengatakan apa pun rencananya kecuali semalam. Entah, ada angin apa sampai ia mengatakan akan mengajak Krista masuk Islam.” Jonathan kini melihat kea rah Krista. Dimana wanita itu menangis tanpa ada satu pun isakan yang keluar dari mulutnya. Krista membuka kotak cincin itu, sebuah cincin silver yang indah. Sekarang Krista percaya jika Ahmad tidak pernah bergurau dengan wanita lain selain dirinya. Harus ia apakan cincin seindah ini? Krista pun menutup kotak cincin itu dan melihat beberapa kertas kuning yang terlipat di dalam kotak itu. Ketika tangannya mengambil kertas itu dan membukanya, Jonathan menggaruk belakang kepalanya takut Krista sungguh akan menjerit. Dan Krista pun membacanya, bersamaan dengan Amanda yang duduk di sebelahnya. ‘Tiga puluh tahun aku menulis tentang cinta, masih saja aku dihalaman pertama… Krista, aku ingin kau ikut denganku, dan jadilah makmum yang berdiri di belakangku ketika kita menghadap Allah. Jadilah engkau bidadari yang selalu menungguku pulang ketika aku letih bekerja. Dunia ini terlalu sempit, Krista. Ikutlah denganku untuk meraih surga yang Allah janjikan pada kita, InsyaAllah kita akan bahagia… تهادوا الحبّ غيباً بالدّعاءْ Sampaikan cinta dalam diam, dengan saling mendoakan satu sama lain.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN