Krista pun tidak sanggup lagi membendung tangisnya dan menangis sekeras yang bisa. Bersama dengan Amanda yang juga menangis ketika melihat Krista yang begitu terpukul dengan kepergian Ahmad.
Amanda tidak pernah menyangka jika Krista juga begitu mencintai Ahmad walaupun sahabatnya itu terlihat cuek dan sedikit peduli. Kini, melihatnya menangis keras membuatnya tidak tahu harus melakukan apa.
Jika Krista jatuh cinta dan kemudian cintanya ditolak atau pria meninggalkannya demi pria lain, Amanda masih bisa membantu dengan menghajar pria itu. Tetapi jika Krista menangis sekeras ini karena Ahmad yang telah meninggal, bagaimana Amanda bertindak?
Membangunkan Ahmad dengan menggali kuburannya? Atau menariknya dari alam baka dan memakinya karena meninggalkan sahabatnya? Amanda sendiri yakin Ahmad pun tidak menginginkan kematian datang secepat ini.
Ia bahkan belum menikah, sahabatnya juga sudah terlanjur jatuh cinta pada pria itu terlalu dalam. Amanda mengusap punggung Krista dan membiarkan wanita itu menangis di pundaknya. Bella juga memeluknya dan mengusap kepala Krista, berusaha membuat wanita itu relaks.
“Aku tahu kau akan menangis seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan. Aku tidak mungkin menyimpan barang berharga itu. Aku dengar kau akan ke Yordania untuk menemui keluarga Ahmad, jadi aku pikir aku memberikannya padamu dan kau bisa melakukan apa pun pada barang itu.” Jonathan berdiri mendekat dan meremas pundak Krista, ia juga sama terpukulnya dengan kepergian Ahmad.
“Kris…” Gumam Bella.
Dan siang itu mereka bertiga menemani Krista sampai ia tenang setelah menangis begitu keras. Karena kejadian itu, Krista pun tidak jadi pergi ke Santa Maria dan keluarga George setuju untuk bertemu saja di Airport.
Tidak lama ketika para pengangkut barang tiba, seluruh barang di apartemen Krista sudah bersih. Menyisakan Jonathan yang kini menatap ke arah tiga orang wanita yang masih berusaha menyemangati Krista.
“Haahh… Ayo, aku akan mengantar kalian ke Airport.” Ucap Jonathan begitu pengertian.
-Airport-
Dan disinilah mereka semua. Seluruh keluarga George semuanya menangis ketika Krista memeluk mereka menangis seperti anak kecil. Mereka tidak tahu jika anak angkatnya itu sudah menangis sejak lama.
Krista juga memeluk kedua sahabatnya dengan erat dan kembali menangis.
“Kris, aku tahu ini adalah pilihan hidupmu yang sudah kau yakini benar. Aku tidak akan menghalangi keputusanmu. Tetapi jika kau membutuhkan bantuan disana, jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku. Okay?” Bella masih mengelus kepala Krista dengan sayang. Ia mengangguk.
“Terima kasih, Bell. Aku tidak akan melupakanmu.”
“Tentu saja kau tidak boleh melupakan kami. Aku akan sesekali berkunjung kesana jika aku sudah mendapat cuti tahunan.” Krista beralih memeluk Amanda.
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi… Aku sedih ini akan menjadi perpisahan kita.” Buru-buru Amanda menampar kepala Krista sedikit agak keras karena kesal.
“Kami tidak mati, i***t! Berhenti mengatakan hal yang mengerikan seperti itu.” Krista menunduk sedih.
“Tapi aku…”
Jonathan berdiri dan bersandar pada tiang dan menatap bosan ke arah tiga wanita bersahabat yang norak sekali ini. Ia memang tidak mengerti wanita, melihatnya saja sudah membuat pusing. Pacarnya yang sekarang rasanya seperti hampir membunuhnya karena terlalu over protective.
“Sudah?” Tanyanya saat melihat Krista berjalan mendekat ke arahnya.
“Ahmad tidak memberikan pesan apa pun lagi padaku?” Jonathan menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada. Aku sudah memberitahumu semua rahasia pria yang tidak boleh diketahui oleh wanita. Terlebih wanita tukang gossip seperti kedua sahabatmu itu.” Krista kembali murung.
Lagi-lagi Jonathan menggaruk kepala belakangnya. Krista jadi semakin mudah sekali untuk untuk hal-hal sepele. Ia juga memahami sebabnya, ia pun menarik pundak Krista mendekat dan kemudian memeluknya begitu canggung.
“Kau semangat hiduplah, Kris. Jangan sia-siakan nyawa yang ada di tubuhmu. Kau masih bisa merasakan sakit dan hampa karena kau masih layak untuk hidup. Itulah manusia, aku tidak bisa menceramahimu panjang lebar karena aku sendiri bukan pastor atau agamis yang taat. Tapi ingatlah, jangan lupa untuk bahagia.” Krista menganggukkan kepalanya.
Jonathan segera melepaskan pelukan singkat itu sebelum keluarga Krista mulai salah paham dengannya. Melihat Amanda dan Bella juga tampak kesal dengannya, sudah pasti mereka tidak akan membantunya untuk meluruskan salah paham nanti.
“Baiklah, aku pergi.” Ucap Krista dan melambaikan tangan pada keluarga, sahabat dan juga Jonathan.
“Jangan lupa untuk mengabari kami jika kau sudah tiba disana.” Krista mengangguk dan melangkah dengan mantap memasuki Gate.
-Yordania-
Dan disinilah Krista duduk dan melamun di dalam sel tahanan menatap polisi yang berbicara terkadang menggunakan bahasa Arab. Ia langsung diringkus ke kantor polisi karena sudah membanting pangeran ketiga.
Lalu bagaimana dengan nasibnya? Entahlah, Krista juga tidak berharap besar bahwa ia akan hidup lebih lama. Mungkin saja besok ia akan di kremasi karena sudah melakukan itu. Berita tentang seorang turis wanita asal Amerika membanting pangeran Ali langsung saja tersebar.
Malu? Tentu saja ia malu. Lagi pula, mana dia tahu pria itu pangeran Ali. Krista menghela nafasnya lelah.
Ckleek
“Saatnya untuk interogasi.” Ucap petugas.
Krista memaklumi. Walaupun ini interogasi yang ke delapan kalinya dan ia selalu memberikan kesaksian yang sama. Wajar saja ia dicurigai ini dan itu mengingat ia mantan anggota polisi di Amerika.
Polemik antara dua Negara ini memang tidak menjalin hubungan dengan baik. Krista bisa dianggap mata-mata atau bahkan hal mengerikannya adalah melakukan terror pada keluarga kerajaan. Krista membantahnya, tentu saja.
“Katakan! Apa tujuanmu datang kemari?” Bentak petugas itu dengan keras sambil menggebrak meja. Krista tetap duduk dengan santai dan bernafas tenang.
“Aku kemari untuk masuk Islam. Aku sudah katakan semuanya dengan jelas bukan?”
“Bohong!” Krista menggelengkan kepalanya. Lalu apa lagi yang harus ia katakan?
“Kemana pangeran Ali? Aku akan meminta maaf padanya secara langsung.” Petugas interogasi kembali menggebrak meja, semakin marah.
"Haahh..." Krista menghela nafasnya lelah.
-Di dalam istana kerajaan Yordania-
“Apa yang terjadi denganmu? Aku melihat berita hari ini menyedihkan sekali.” Seorang pria memasuki kamar yang dimana ia melihat seorang wanita sedang memijat punggung Ali.
Ibunya, Maryam yang sedang sibuk membalutkan ramuan minyak yang cukup harum ke tubuh Ali. Pria itu duduk tengkurap di atas ranjangnya dan merintih kesakitan saat ibunya menekan di bagian yang sedikit memar. Ibunya tidak berhenti tertawa.
“Aku… hahaha aku tidak menyangka putraku akan dibanting oleh seorang wanita. Kau lihat bagaimana videonya Thalha? Adikmu ini-Pfftttt! Ahahaha,” Ujar sang ibu yang mengusap punggung Ali dengan minyak lagi sambil tertawa dan menutupi mulutnya dengan punggung tangannya.
“Ummi... Aku terlalu terkejut karena wanita gorilla itu tiba-tiba saja menangkap dan kemudian membantingku tanpa aba-aba. Sungguh, Demi Allah! Rasanya leherku seperti patah.” Ujar Ali yang menceritakan kejadian tidak terduga itu.
Thalha yang baru memasuki kamar itu mau tidak mau menggelengkan kepalanya. Tidak biasaya adiknya itu terlibat masalah seperti ini. Melihat wajahnya yang marah dan menarik jaket seorang turis membuatnya hampir salah paham. Mungkin setelah ini ayahnya akan melakukan sidang untuk menghakimi Ali.
“Memangnya kenapa wanita itu membantingmu? Mungkin saja terjadi salah paham.” Thalha berjalan mendekat ke arah ranjang dan melihat punggung Ali yang merah karena pijatan ibunya.
PLAAKK
“ASTAGHFIRULLAH! UMIIIII!” Teriak Ali kesakitan. Ibunya tentu saja mengangkat kedua tangannya.
“Bukan Ummi!” Dengan ganas Ali menoleh ke samping dan melihat Thalha tersenyum iseng.
“Kau ini terlalu manja. Itu tidak memar, diolesi minyak rempah-rempah besok juga akan sembuh. Kau bisa berguling-guling atau menggelinding di Jabal Uhud besok.” Ucap Thalha bercanda.
“Cih! Jangan mengejekku!” Maryam segera menengahi mereka.
Thalha duduk menyamping di samping ranjang Ali dan menggantikan tugas sang ibu untuk memijat punggung Ali. Memang sebenarnya sudah terlihat memar biru, Thalha jadi merasa bersalah menampar punggung adiknya tadi. Tetapi mau bagaimana lagi, adiknya ini memang sasaran empuk untuk bahan bercandaan.