Sulitnya Mencari Istri

1062 Kata
“Jujur saja aku tidak menyangka juga kau akan tumbang semudah itu, Ali. Perbanyak berolahraga. Bawa dua ember air dan keliling kerajaan sebanyak seratus kali sudah cukup.” Ali mendengus kasar. Kakak pertamanya ini memang terkadang tidak berperikemanusiaan. Jelas-jelas ia tahu bahwa German Suplex itu bisa menewaskan orang, lalu Thalha berkata bahwa punggungnya hanya memar biasa dan bisa berguling-guling di jabal Uhud. Demi Allah! Jabal Uhud itu bukit batu. Menggelinding dari gunung itu bisa membuat orang tewas. Lalu opsi kedua? Sudahlah, Ali malas berdebat dengan kakaknya. Memang kakaknya itu binaragawan aneh yang suka menyiksa diri. “Lalu bagaimana dengan turis itu?” Tanya Thalha lagi. Ali merasa pijatan kakaknya terlalu keras hingga punggungnya seperti terbelah dua. “Shhh… Tentu saja aku penjarakan.” Ibunya langsung menggelengkan kepalanya. “Ummi tidak mengerti kenapa wanita itu tiba-tiba membantingmu, Ali. Kau harus mendengar penjelasannya lebih dulu sebelum memenjarakannya seperti itu. Kau sama saja mendzolimi orang lain, Ali.” Ucapan ibunya benar. Ali akui jika ia merasa wanita itu memang salah paham padanya. Tetapi harga dirinya menolak dengan keras karena sudah membuatnya malu di depan umum. Tapi yang benar saja! Ali tidak mungkin memutar waktu dan menghindari wanita itu bukan? Ia menghela nafasnya dan menatap ibunya. “Ummi, dia sudah membuatku malu dan menyakitiku. Apakah itu semua tidak cukup untuk menghukumnya?” Ibunya tersenyum dan membelai rambut Ali dengan lembut. “Ali, apakah kau lupa dengan hadits Muslim tentang memaafkan?” Thalha langsung tersenyum kecil. “Ketika ada seorang muslim datang pada Rasulullah. Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat, saya menyambung silahturahmi pada mereka, tetapi mereka malah memutuskannya. Mereka berbuat buruk kepada saya, tapi saya berusaha untuk berbuat baik kepada mereka. Mereka berbuat jahil kepada saya, tetapi saya sabar dan tidak ingin membalas dengan yang sama. Maka Rasulullah bersabda, Jika yang kamu katakan itu benar, maka seakan-akan kamu menaburkan debu panas ke wajahnya. Dan senantiasa Allah akan menolong kamu selama kamu terus berbuat seperti itu.” Ali kembali merebahkan kepalanya di atas bantal setelah mendengar tutur lembut ibunya yang bagai penyejuk hati. Tetapi baru saja hatinya tenang, wajah wanita itu kembali merasuki pikirannya dan terbayang dengan German Suplex itu. “Tetap saja dia keterlaluan, Ummi.” Ucap Ali masih membantah. “Maafkan saja, Ali. Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahala baginya.” Thalha kini menutup botol minyak rempah itu dan menyerahkannya pada ibunya. Ali masih diam walaupun dalam hati ia tidak tega juga mengurung seorang wanita di dalam penjara. Tetapi gengsinya masih saja tinggi dan tidak ingin mendengarkan apa pun saat ini. Padahal tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja ia melayang tanpa sebab. Melayang dan terbanting ke tanah seperti pahitnya kenyataan hidup ini. “Aku akan menemuinya nanti sore.” Ibunya tersenyum kecil. “Ummi tahu kau anak yang pemaaf, sayang. Tapi usahakan agar dirimu tidak terbanting lagi pffttt hahahaha.” Sang ibu sudah melompat turun dari ranjang dan berlari meninggalkan Ali yang sudah mengamuk melemparkan semua bantalnya. Pada akhirnya Ali datang keesokan harinya karena kesal diejek oleh Thalha dan Yusuf ketika malam harinya mereka berkumpul. Dan tentu saja pagi yang cerah ini, sang ayah Zubair duduk di tengah-tengah mereka dan menikmati sarapan dengan tenang. Ali masih sulit menoleh karena efek dari bantingan itu, Yusuf tidak henti-hentinya menahan tawa. Ia sengaja bermalam di kamar Ali dan mentertawakannya sampai puas sedangkan Thalha juga ikut memeriahkan acara. Ia berdehem kecil. “Abi? Bagaimana menurut Abi tentang kasus Ali kemarin?” Tanya Yusuf dan langsung mendapat kiriman delikan maut dari Ali. “Hey! Kita sudah berjanji untuk tidak membahasnya disini.” Ali memprotes dan langsung ditenangkan oleh ibunya dengan sepotong daging empuk di atas piringnya. “Sudah, makanlah dengan tenang.” Ali mendengus jengkel. Zubair terlihat melirik Thalha sejenak dan pada akhirnya ia menghela nafas berat sambil meletakkan sendok dan garpunya. Kumis dan janggutnya yang memutih membuatnya tampak terlihat tidak sehat pagi ini. “Aku tidak akan membahas ini lebih lanjut. Tapi Ali sudah dewasa, aku harap dia bisa memilah mana yang benar dan mana yang salah.” Thalha tidak mengangkat kepalanya ketika sang ayah berkata. Perkataan ayahnya jelas sekali menyinggung dirinya. Ia sebagai kakak tertua masih belum bisa memberikan contoh yang baik untuk adik-adiknya. Terlebih- “Aku rasa sudah saatnya kalian memilih pasangan yang tepat.” Yusuf menghela nafasnya. “Abi… Jangan lagi.” Ucapnya putus asa. TAAKK Maryam sang ibu langsung sedikit membanting pitcher kaca di atas meja setelah Yusuf mengatakan itu. Zubair langsung gugup. Baik Thalha, Yusuf dan Ali pun langsung diam seribu bahasa. Melirik ke arah ibunya yang mendudukkan diri dengan tenang tanpa senyum dan alis yang mengkerut membuat mereka mati kutu. Pembahasan mencari calon mantu selalu saja membuat ibunya kesal. “Berapa umur Ummi sekarang? Kalian tahu?” Ali meletakkan sendok makannya. “Tu-tujuh puluh tiga.” Jawabnya terbata-bata. Thalha mengedipkan matanya berkali-kali saat melihat ke arah Yusuf. Memberi kode padanya untuk segera mencari cara agar bisa keluar dari amukan ibunya sebentar lagi. Yusuf kemudian melirik kesana kemari sebelum- “A-aduuhh! Perutku sakit! Aku ke toilet dulu sebentar.” Ucapnya seraya berdiri dari kursi dan berjalan menjauh dari meja makan, berhasil kabur. Thalha berdecak kesal. Padahal ia akan memakai alasan itu tadi. Satu-satunya penyelamatnya adalah Ali. Segera ia melirik adiknya itu. “Aku lupa mengambil obatku di kamar. Aku permisi dulu.” Thalha melotot ngeri. Seriously? Tega nian kedua adiknya menjadikannya tumbal. Merasa tidak ada penyelamatnya, Thalha berdoa agar ibunya tidak mengomelinya sampai sore hari ini. Zubair menyandarkan punggung pada kursinya. “Thalha, sebaiknya kau segera mencari istri dan berikanlah kami cucu. Umur kami semakin menua setiap waktu dan umurmu sudah lebih dari cukup untuk menikah.” Ucap sang ayah yang kini menatapnya dengan tatapan wibawanya. “Aku tahu, Abi. Tapi aku sungguh belum menemukan satu pun wanita yang menarik minatku.” Thalha membela diri. Sejujurnya ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia belum menemukan calon. Ia juga tidak ingin didesak untuk menikah seperti ini. Ia merasa beban dipunggungnya bertambah berat saat melihat wajah ayah dan ibunya. “Thalha, Ummi tidak ingin memaksakan dirimu untuk urusan ini karena kau yang paling tahu bagaimana perasaanmu. Tapi berusahalah sedikit lebih keras, Ummi khawatir tidak bisa mendampingimu di pesta pernikahanmu.” Thalha segera menggenggam tangan ibunya dengan erat. “Ummi, jangan berkata seperti itu. Aku sudah cukup berusaha, tapi Allah belum mempertemukan kami lalu aku harus bagaimana lagi Ummi. Mengertilah.” Ucap Thalha tidak tega. Maryam menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. “Ummi hanya ingin melihat putra-putra Ummi menikah. Ummi ingin menimang cucu.” Zubair segera berdehem kecil. Memberi kode pada Thalha bahwa ia juga ingin menimang cucu. Thalha seperti ingin menangis. “Aku akan berusaha lebih keras lagi, Ummi, Abi.” Maryam menganggukkan kepalanya. “Lanjutkan sarapanmu.” Thalha memakan sarapannya dengan berat sekali. Rasanya tadi nasi Maqluba ini enak sekali. Entah kenapa rasanya sekarang menjadi pahit, sepahit hidupnya. Bingung mencari istri kemana lagi. Thalha juga tidak menyangka akan sesulit ini mencari wanita untuk dijadikan istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN