Sarapan kali ini cukup membuat Thalha dilanda kegalauan ketika ia kembali ke kamar Ali. Dan terlihatlah disana kedua adiknya yang sangat kurang ajar sekali itu duduk dan berbaring di ranjang sambil memainkan ponsel.
Yaa Allah, kakaknya sibuk diceramahi kedua adiknya bersantai di atas penderitaannya.
“Kalian bersyukurlah kepada Allah karena kalian ditakdirkan memiliki kakak yang baik hati sepertiku.” Yusuf memutar matanya malas. Ali baru saja menelan obatnya dan menatap kedua kakaknya putus asa.
“Aku tidak habis pikir dengan kedua kakakku ini. Alhamdulillah tampang kalian sangat memuaskan, akhlak? Tidak perlu ditanyakan lagi. Finansial? Siap lahir batin. Tapi kenapa tidak ada satu pun akhwat yang terpikat pada kalian? Kalian hampir kepala empat.” Thalha langsung berkacak pinggang.
“Jaga perkataanmu Ali. Aku baru 37 tahun ini.” Kali ini giliran Ali yang memutar matanya malas.
“Aku juga baru 36 tahun dan jenjang karirku masih panjang. Aku belum memikirkan untuk mencari istri karena bisnisku sudah menyita banyak waktu. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus mengurus istri dan anak-anak nanti.” Ujar Yusuf sudah kembali terfokus pada ponselnya.
“Aku juga berpikiran seperti itu.”
Sulit bicara tentang pasangan hidup dengan mereka. Menjadi single seumur hidup dan sulit jatuh cinta… Mungkin saja Allah sedang mengazab mereka berdua. Ali menggelengkan kepalanya.
Ali prihatin dengan kedua kakaknya. Banyak sekali ikan di laut, tapi kedua kakaknya tidak mendapatkan satu ikan pun. Ali heran tentunya, hidup mereka sudah mapan dan umur sudah memadai. Tapi…
Entahlah, Ali tidak ingin mati cepat memikirkan istri kedua kakaknya. Yang terpenting adalah bagaimana caranya ia balas dendam dengan wanita gorilla itu. Ali berjalan menuju ranjangnya dan memeriksa notifikasi ponselnya.
Demi Allah, Ali langsung kesal melihatnya. Berita itu masih saja hangat diperbincangkan pagi ini. Apakah mereka tidak takut melakukan ghibah secara terang-terangan di media masa?
“Aku pergi sebentar.” Yusuf yang pertama mengangkat pandangannya.
“Wa’alaikumussalam.” Ali menggelengkan kepalanya.
“Assalamu’alaikum.”
Ali segera bergegas pergi menuju kantor polisi dengan menaiki Bugatti hitam miliknya. Ada dua mobil hitam yang mengekori dari belakang lengkap dengan dua polisi berkendaraan motor yang memimpin perjalanan.
Pagi hari di Yordania sudah sangat ramai dengan para pekerja untuk menjemput rezeki mereka. Untuk itulah Ali meminta beberapa aparat kepolisian untuk membukakan jalan untuk mobilnya. Kekuasaan memang segalanya.
Siapa yang tidak kenal dengan pangeran Ali? Seluruh masyarakat Yordania tahu siapa dia. Raja Zubair memang memiliki tiga putra yang tampan-tampan termasuk Ali sebagai putra bungsu.
Perawakan Ali persis seperti ayahnya ketika muda. Dan tidak heran jika Ali yang paling mirip dengan ayahnya dari kedua kakaknya yang lain. Hidupnya pun bergelimang harta sebagai anak raja.
Gelar pangeran ketiga dan bahkan pengusaha sukses membuatnya tidak lepas dari jerat media yang haus akan informasi tentangnya. Tetapi begitulah Ali, walaupun media tidak bisa menjangkau apa pun dari Ali karena ia pria yang sangat tertutup.
“Pangeran Ali, silahkan.” Ucap salah satu petugas kepolisian yang dengan kaku mempersilahkan Ali masuk.
Ali menatap sekeliling sebelum matanya memicing melihat wanita gorilla itu duduk dengan santai sambil menatapnya tajam. Well, Ali langsung mengangkat dagunya dan berjalan langsung mendekati sel tahanan.
“Bagaimana dengan kasusnya? Apakah wanita ini sungguh bukan mata-mata Amerika?” Ucap Ali begitu menekan.
“Kami sudah menginterogasinya dan jawabannya tetap sama.” Ali menatap tajam si kepala pirang itu.
Seumur hidup Krista, baru kali ini melihat seorang pria yang bertingkah sombong di hadapannya. Apa maksudnya melepas kacamata di depannya sambil mengangkat dagu? Krista menggelengkan kepalanya.
Makhluk sombong ini belum pernah menyentuhkan dagu di atas tanah? Krista sudah mencap jelek Ali dengan sekali tatap. Apa kata pepatah untuk tidak menilai seseorang dari sampulnya? Apakah yang seperti ini sandiwara? Dari sampulnya saja Krista tahu Ali akan menjadi batu sandungannya selama di Yordania.
“Aku sudah dengar semua hasil interogasimu dan…” Ali berjalan mendekat, sengaja menggantungkan perkataannya.
“Dan?”
“Dan mana permintaan maafmu?” Krista mendengus. Sudah bisa ditebak.
“Fine. Aku mengaku salah dan aku minta maaf.” Ali tersenyum licik.
“Kau ingin hidup di penjara lebih lama lagi? Katakan yang tulus.” Krista memejamkan matanya. Berharap ketika ia membuka mata, pria itu hilang dan lenyap dari hadapannya.
“Aku, Michaela Krista mengaku salah karena membanting pangeran ketiga di pinggir jalan dan aku minta pengampunan darinya tulus dari dasar hatiku yang paling dalam.”
‘Tulus dari dasar hatiku yang paling dalam bahwa aku menyesal hanya membantingmu. Seandainya aku mematahkan lehermu saja kemarin.’ Batin Krista melanjutkan dalam hati.
Binar mata Krista yang penuh akan dendam itu membuat Ali tertantang. Kita lihat, bagaimana ia akan menyesuaikan hidup selama ia di Yordania. Ali tersenyum puas dan mengeluarkan ponselnya.
“Katakan sekali lagi. Aku harus merekamnya sebagai bukti.” Krista memutar matanya malas.
“Terserah padamu, pangeran aneh. Cepat keluarkan aku. Aku harus bertemu dengan keluarga Ahmad untuk masuk Islam.” Ali menaikkan sebelah alisnya. Ada yang aneh disini.
“Kenapa kau harus menemui keluarga Ahmad jika kau ingin masuk Islam? Bersyahadatlah.” Ucap Ali yang kini memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Apakah sungguh wanita ini datang jauh-jauh dari Amerika hanya untuk bersyahadat di hadapan keluarga Ahmad? Lagipula siapa Ahmad?
“Aku butuh saksi, tidak mungkin aku bersumpah seorang diri.” Krista mulai seperti cacing kepanasan karena berbicara panjang lebar dengan pangeran menyebalkan.
“Tidak perlu. Bersyahadatlah sekarang, aku akan menuntunmu.”
Ali cukup tersentuh karena tahu wanita ini tulus ingin mengenal islam. Seharusnya ia memudahkannya untuk masuk Islam bukan? Maka dengan hati yang tulus juga, Ali akan menuntun wanita ini untuk bersyahadat dan menjadi muslim.
“Tidak. Aku tidak mau kau menjadi saksiku. Aku tidak sudi.”
“Yaa Allah, makhluk jenis apa kau ini? Aku yang menuntunmu atau kau tidak akan bisa keluar dari penjara. Pilih salah satu.” Ucap Ali sudah merasakan emosi naik turun bak roller coaster.
“Ck! Aku tidak mau.” Ali melotot karena Krista menolak kebaikan hatinya. Berani sekali wanita ini pada pangeran.
“Pilih salah satu.” Ali masih memplototi Krista. Setelah keheningan selama beberapa menit, akhirnya Krista pun mengalah demi kewarasan otaknya.
“Baiklah, tapi aku akan tetap bersyahadat di depan keluarga Ahmad.” Ali tidak peduli.
“Aku akna tekankan kau sekali dan sangat tegas padamu, bahwa agama ini tidak boleh dipermainkan. Setelah kau bersumpah dengan syahadat, kau akan langsung menjadi seorang muslim. Kerjakan apa yang diperintahkan dan jauhkan dirimu dari apa yang dilarang. Kau mengerti?” Krista menganggukkan kepalanya.
Ali pun menganggukkan kepalanya juga, “Ikuti setelah perkataanku.”
“ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH.”
Krista memejamkan matanya sejenak dan memantapkan hatinya sebelum ia membuka mata dan dengan ekspresi yakin dan Lillah ia mengikuti perkataan Ali.
“ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH.” Ali langsung terkejut. Faseh sekali untuk ukuran wanita yang baru mengucap syahadat.
“WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.”
“…WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.” Ali pun mengangguk puas.
“Panggilkan polisi wanita kemari dan suruh wanita ini bersuci.”