" Non, sudah sampai nih.."
" Iya mas, makasih ya, kalau mau rehat silahkan nanti saya telepon kalau perlu" kata Laras seraya turun dari mobil.
" Siap Nona Muda..." sahut si Boy sambil nyengir.
Susana pagi yang cerah, matahari bersinar hangat. Laras mengedarkan pandangan ke segala penjuru pembangunan gedung tersebut. Dari dalam ruang kantor, seorang Bapak paruh baya menghampirinya.
" Selamat pagi Nona Muda, silahkan" sambutnya ramah.
" Pagi juga pak, Terimakasih."
Laras berjalan mengikuti pak mandor tersebut. Sebuah ruangan yang sangat rapi dan bersih. Tak heran Oma Soraya adalah orang yang sangat apik.
" Apa mereka bisa dikumpulkan sekarang Nona" tanya pak mandor dengan hormat.
" Silahkan pak, di aula saja, sebentar saya kesana" sahut Laras sambil membenahi barang bawaannya.
" Baik Nona ..saya permisi" pamit sang mandor.
Laras hanya mengangguk sambil tersenyum. Selanjutnya sibuk dengan berkasnya.
Sementara itu pak mandor bergegas ke lapangan untuk memberitahukan kepada semua pekerja agar berkumpul di aula perusahaan.
Selang setengah kemudian semua sudah berkumpul didalam aula. Suara riuh rendah dari mereka. Saling berbisik dan membicarakan Cucu dari pemilik perusahaan kontraktor tersebut.
"Perhatian semua...harap tenang...." Pak mandor memberikan instruksinya.
Setelah semua tenang Pak Mandor melanjutkan kata-katanya.
" Selamat pagi semua....hari ini saya akan memperkenalkan Cucu dari pemilik perusahaan ini, dan yang otomatis akan menggantikan ibu bos Soraya, kepada beliau Nona Muda dipersilahkan."
Semua mata tertuju kearah barisan kursi samping. Seorang wanita cantik berdiri dan berjalan dengan anggun menuju tengah podium. Tidak ada yang tidak terkesima dan memuji kecantikan wanita tersebut.
" Terimakasih" sambutnya kemudian sambil melempar senyum tipis yang membuat semakin terlihat penuh wibawa dan elegan.
Disaat sang Nona Muda sedang memperkenalkan diri dan memberikan kata sambutan ya, di bagian barisan belakang..Anto berdiri mematung sambil menatap kearah wanita tersebut. Dia sangat terkejut melihat siapa yang berada diatas podium tersebut.Dia sampai tidak fokus dengan apa yang disampaikan oleh pemimpin perusahaan tersebut.
Dia baru tersadar saat semuanya bubar. Tapi Anto masih tetap terpaku ditempatnya. Selang beberapa detik kemudian dia berlari kearah podium. Untung semua pekerja sudah keluar dari aula tersebut. Hanya menyisakan para petinggi dan para Mandor.
"Larasss.....kamu istriku kan...?!" teriaknya.
Laras menoleh kearah suara tersebut, sesaat dia terkejut, tapi segera berusaha untuk menguasai keadaan dan tetap bersikap tenang. Semua pegawai dan mandor terkejut dan berdiri mematung menunggu sang atasan menjawab.
" Laras...kamu Laras istriku kan...maafkan aku...."
" Kamu siapa...aku tidak mengenalmu..." Laras memotong perkataan Anto yang mengakui kalau dia istrinya. Dan sukses membuat Anto terkaget kaget.
" Tidak mungkin...tidak mungkin aku salah..kamu pasti Laras..." bantahnya dan berusaha mendekat kearah Laras.
" Berhenti..jangan tidak sopan " teriak mandor mengingatkan. Laras mengangkat tangannya. supaya sang mandor diam. Itu membuat Anto semakin percaya diri.
" Benarkah kamu Laras..."
" Maaf....aku tidak mengenalmu...lagian siapa kamu berani mangaku ngaku saya sebagai istri anda. Apa anda tidak mempunyai kaca dirumah. Kalau dirumah tidak punya..silahkan berkaca disini dan temukan jawabannya" jawab Laras penuh penekanan kemudian tersenyum penuh arti.
Anto benar- benar terkejut mendengar apa yang dikatakan Laras. Tubuhnya gemetar menahan amarah. wajahnya merah padam, tapi dia tidak berbuat apapun.
Laras tersenyum mengejek kemudian berlalu meninggalkan Anto yang berkutat dengan amarahnya.
"Dasar tidak punya malu, otaknya dipakai buat berfikir sebelum bertindak...sudah sana kembali kerja..." hardik sang mandor.
Mau tidak mau Anto beranjak meninggalkan aula perusahaan tersebut dengan amarah dan pikiran yang kacau.