1. Malam Petaka
“Ahhh ….”
Seorang wanita terdengar mendesah saat pria bernama Devano terus memberi sentuhan demi sentuhan pada tubuhnya. Niat hati datang ke club untuk merayakan keberhasilan kontraknya dengan seorang designer ternama, Azura yang merupakan model ternama di London itu tak sadar menghabiskan malam dengan seorang pria tak dikenalnya.
“Bantu aku melupakannya!”
Di bawah pengaruh alkohol yang sudah memabukannya, Azura terus meracau. Meminta pada Devano agar tak berhenti bermain-main dengan tubuhnya. Entah, apa reaksinya nanti saat sadar bahwa saat ini ada pria asing tak dikenalnya tengah merengguk kenikmatan bersamanya.
“Baik, aku tidak akan menahannya lagi! Mendesah dan panggillah namaku saat kau mencapai puncak kenikmatan!”
Devano mulai melakukan permainan inti. Membuat keduanya saling memburu kenikmatan. Adegan panas itu berlangsung selama beberapa jam hingga keduanya terkapar lemah dengan keringat yang membasahi tubuh mereka.
***
Beberapa jam sebelum adegan panas itu, Azura memilih untuk tetap tinggal. Dia tak ikut pergi bersama timnya. Masih nyaman menghabiskan waktu di tengah hingar bingar club malam itu.
“Kamu b******k, Banu!”
Senyum Banu seketika membayanginya. Entah sudah berapa kali dia minum hingga kepalanya mulai terasa pusing. Azura pun kembali beranjak, menari di lantai dansa seorang diri.
Tanpa dia sadari, seorang pria yang melihat Azura tersenyum karena melihat tingkah dan gaya Azura yang begitu menggemaskan di matanya.
Sambil menenggak gelas ke limanya pria itu berjalan mendekati Azura, menarik pinggang Azura hingga tubuh mereka saling bersentuhan. Azura menatapnya dingin lalu sebuah senyuman menggoda terukir di wajah wanita cantik itu.
“Hai, Cantik!” Sapa pria bernama Devano yang ikut menari bersama Azura.
"Baru menyadari kecantikanku, hem?" Azura yang sedang mabuk tidak peduli dengan siapa dia sekarang di lantai dansa, dia melihat pria itu menatapnya penuh hasrat dan Azura pun tiba-tiba mulai mencium pria itu.
Bibir Azura bagai magnet bagi Devano, tangan pria itu mulai menelusuri lekuk indah tubuh wanita yang juga sedang menikmati kegiatan mereka sambil menari mengikuti irama musik yang semakin memekakkan telinga. Karena merasa gerah, Devano akhirnya menggendong Azura, dia menggendong Azura menuju keluar club dan membawanya masuk ke mobilnya. Namun, baru saja Devano duduk di kursi pengemudi, dia langsung terkejut saat Azura tiba-tiba duduk di pangkuannya, Azura mengunci tatapan matanya. Menatap Devano begitu lekat dan terlihat sensual.
Apa yang dilakukan Azura benar-benar membuat Devano tak habis pikir. Devano pun dengan cepat menjalankan mobilnya meski Azura masih duduk di pangkuannya.
"Ah …." Suara desahan Devano lolos begitu saja saat Azura menghisap lehernya dengan kuat.
"Sabar, Sayang! Sebentar lagi kita akan sampai. Jangan terburu-buru, oke!”
Untungnya kaca mobil Devano cukup gelap untuk menutupi apa yang dilakukan Azura di dalam mobil.
Hanya butuh sepuluh menit, akhirnya Devano sampai di hotel tempat dia menginap. Dia menggendong Azura lagi untuk tiba ke kamarnya.
Begitu sampai di kamarnya, Devano langsung merebahkan tubuh Azura dan langsung menciumi bibir wanita yang sejak tadi sudah memancing hasratnya dengah begitu hebat. Devano terus menghisap dan menyapu bibir merah Azura sambil membuka pakaiannya dan Azura pun tampak melakukan hal yang sama. Keduanya terlihat sudah dirasuki nafsu yang tak bisa lagi ditahan.
"Ah … jangan hentikan, kumohon lakukanlah! Bantu aku melupakannya!" pinta Azura dan untuk pertama kalinya Devano mendengar Azura berbicara panjang dengannya dan suara itu akan Devano ingat terus seumur hidupnya.
Azura mengalungkan tangannya dileher Devano saat pria itu masih ragu. Ragu karena dia akan menjadi pria b******k malam ini, selama dia berhubungan dengan wanita-wanita lain, Devano tidak pernah merenggut keperawanan seseorang, ditambah Azura sedikit mabuk. Namun, meski ingin menolak, rasanya begitu sulit karena Azura terus menggodanya.
Malam itu, malam panas di antara keduanya pun akhirnya terjadi selama berjam-jam meski sebenarnya Devano sempat ragu karena baginya ini adalah pengalaman pertama di mana dia merenggut keperawanan seorang wanita.
***
Keesokan paginya, Azura terlihat mulai mengerjapkan matanya, dia terjaga dengan kepala yang terasa pusing. Namun, ketika pandangannya mulai memindai sekitar, dilihatnya, segelas s**u sudah tersaji di atas nakas samping tempat tidur yang dia tiduri saat ini.
“Di mana ini?” Masih memindai dan coba berpikir di mana dia berada saat ini.
Tiba-tiba, seorang pria yang hanya menggunakan boxer-lah datang. Membuat detak jantung Azura mendadak seperti akan meledak.
“Oh my God, jangan bilang semalam aku … s**t!” umpat Azura karena dia sudah melepaskan mahkotanya dengan cara terkutuk yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tidur dengan pria asing untuk pertama kalinya yang bukan suaminya.
Azura coba bangkit dan meraih stelan baju juga pakaian dalamnya.
"Minumlah, kita akan bicarakan ini."
Setelah selesai memakai pakaiannya, Azura langsung mencari di mana tas dan ponselnya berada.
"Tas dan ponselku di sana."
Azura menoleh ke arah yang ditunjuk Devano. Dengan cekatan dia berjalan, mengambil tas itu dengan wajah dingin. Kesal karena pria asing itu sangat kurang ajar. Ya, memanfaatkan kondisinya yang mabuk untuk merenggut kesuciannya, bukankah itu b******k?
"Namamu Azura, ‘kan?" tanya Devano. Namun, Azura hanya diam dan sibuk dengan ponselnya.
"Aku akan menikahimu. Jadi, kamu tenang saja."
"Stop dan lupakan apa yang kita lakukan malam ini, oke! Kau tidak perlu bertanggung jawab karena kupikir ini bukan hanya kesalahanmu, tapi juga aku karena aku mabuk." Azura langsung keluar dari kamar meninggalkan pria yang sudah menghabiskan malam bersamanya.
“Tunggu!” Devano coba mengejar. Membuat Azura sejenak menghentikan langkah kakinya tepat di ambang pintu.
“Seharusnya, kau menahanku agar kita tidak melakukan itu di saat aku mabuk! Pokoknya, lupakan semuanya! Oke!” Dengan sorot mata yang tajam Azura seperti menunjukan kebenciannya pada Devano, padahal hal yang terjadi semalam, dialah yang sudah menggoda pria itu dan meminta untuk tidak berhenti hingga malam panas pun terjadi.
Setelah mengatakan itu, Azura langsung pergi tanpa menunggu jawaban Devano yang hanya menatap kepergian wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
"Aku tidak mungkin bisa melupakan malam ini Azura." Devano mencium layar ponselnya yang menampilkan foto Azura yang sempat dia ambil semalam. Azura tampak begitu seksi di foto itu dan itu akan menjadi obat rindu untuknya. Ya, Devano sudah putuskan akan mengejar cinta Azura sekalipun wanita itu sulit untuk dia taklukan.