Happy Reading . . .
***
Pekerjaan milik Savannah beberapa hari belakangan ini benar-benar begitu menggila. Sang atasan yang tiada henti memberikannya pekerjaan, membuat wanita itu menjadi lupa akan segalanya. Lupa akan waktu, kehidupan pribadinya, bahkan sampai kesehatannya. Termasuk kejadian yang membuat dirinya menjadi merasa canggung terhadap sang atasan yang sudah berlalu satu minggu yang lalu. Dan jangankan memikirkan hal yang sesungguhnya tidak terlalu penting seperti yang satu itu, Savannah pun juga seakan tidak memiliki waktu beristirahat, membuat wanita itu menjadi lupa akan kebutuhan tubuhnya juga yang membutuhkan nutrisi dari makanan. Bahkan ia pernah mencatat rekor selama satu harian penuh, ia hanya menyentuh secangkir kopi yang itu pun hanya diminum sedikit olehnya. Jam istirahat yang seharusnya digunakan untuk bisa mengisi tenaga untuk tubuhnya, hal seperti itu justru tidak terjadi pada wanita itu. Karena dengan pekerjaannya yang benar-benar tidak ada celah untuk bisa memberikannya sedikit waktu untuk beristirahat, membuat Savannah hanya bisa pasrah menjalani mimpi karir yang baru sedikit ia bisa raih.
Membutuhkan banyak pengorbanan dan yang paling besar adalah waktu. Seperti saat ini, Savannah seperti sedang diberi sebuah tantangan yang entah sudah berapa kalinya pernah diperintahkan oleh sang atasan untuk membuat materi presentasi dalam waktu dua puluh menit. Materi yang mencangkup mengenai seluruh materi dari pembangunan sebuah taman hiburan yang sudah benar-benar direncanakan dengan sangat baik dan dalam beberapa hari ke depan juga akan direalisasikan, harus wanita itu selesaikan dalam waktu singkat di saat pekerjaan hariannya yang sama sekali belum tersentuh dan masih juga mengantri untuk bisa dikerjakan olehnya.
Dan saat ini pun kondisi Savannah juga benar-benar sudah berada di ambang ketidaksadaran. Kepalanya yang terasa begitu sakit serta pandangannya yang juga sudah mulai terlihat kabur dan buram, membuat Savannah terus memberi sugesti kepada dirinya sendiri untuk terus bisa kuat dan jangan sampai limbung di saat pekerjaannya yang saat ini saja tidak bisa ditinggalkan. Kondisi yang dirasakannya itu semakin diperburuk dengan dirinya yang sama sekali belum menyentuh makanan apapun di saat waktu yang kini sudah menunjukkan pukul empat sore. Waktu yang seharusnya dimana kebanyakan orang sudah dua kali makan, namun untuk Savannah tidak seperti itu peraturan yang terjadi.
Beberapa keluhan yang sedang Savannah rasakan itu pun semakin diikuti dengan tubuhnya yang benar-benar terasa lemas, dan begitu juga dengan wajah yang terlihat pucat, yang tidak diketahui olehnya. Dan di saat Savannah yang sedang merasakan betapa tidak enaknya kondisi tubuhnya itu, ia pun sudah dihampiri oleh sang atasan yang langsung memberikan sebuh map berisi dokumen dengan menaruhnya tepat di atas meja kerja Savannah, di hadapan wanita itu.
"Berikan kepada departemen akuntansi sekarang. Dokumennya sangat darurat dan harus secepatnya ditangani."
"Baik, sir."
"Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Duke yang mulai menyadari raut wajah Savannah yang sangat pucat untuk dilihat.
"Wajah saya? Tidak ada apa-apa, sir. Saya baik-baik saja," elaknya.
"Kalau begitu lakukanlah tugasmu."
"Baik. Lalu apakah ada lagi yang sedang anda perlukan?"
"Pesankan lagi makan siang untuk saya. Yang tadi kau belikan belum sempat saya makan, tetapi sudah terlihat tidak baru dan segar. Pesankan menu yang sama saja, dan sepuluh menit lagi sudah harus kau sajikan kepada saya. Jangan terlambat, karena saya ada telekonferensi dengan klien setelah itu. Jika tidak, kau sudah membiarkan saya untuk tidak makan siang dan kau harus bertanggung jawab jika lambung saya terserang lagi."
"Baik, sir."
Setelah sang atasan telah pergi meninggalkan ruangannya, dengan berusaha sebisa mungkin Savannah mencoba untuk beranjak dari duduknya dan berdiri pada kedua kakinya yang sudah terasa begitu lemah seakan tidak sanggup lagi untuk menahan beban tubuhnya itu. Namun Savannah masih ingin berusaha untuk tetap bisa kuat, untuk berjalan menuju departemen akuntansi dua lantai di bawah dari lantai ruangan kerjanya ini. Setelah membawa dokumen yang diberikan kepadanya tadi, dengan perlahan Savannah mulai melangkah keluar dari ruangannya menuju lift yang jaraknya tidaklah jauh namun karena kondisinya yang sedang seperti ini, ia merasa bahwa jalanan yang dilaluinya itu menjadi bertambah dua kali lipat lebih jauh dari biasanya.
Dan pada saat berada di dalam lift pun, Savannah hanya bisa mesandarkan tubuhnya pada dinding yang terbuat dari kaca selagi lift yang dinaikinnya itu sedang turun menuju lantai dimana letak departemen akuntansi berada. Setelah sampai dan pintu lift langsung terbuka, wanita itu pun mulai melangkah kembali keluar dari lift menuju meja para pegawai akuntansi berada. Namun ketika Savannah hendak menuju meja tersebut, ia pun langsung berpapasan dengan sosok Dylan yang memang menghampiri wanita itu karena sudah sejak kedatangan Savannah ke departemennya, pria itu sudah melihatnya.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Dylan sambil memperhatikan wajah Savannah yang terlihat pucat dengan pandangan aneh.
"Dokumen darurat, harus ditangani secepatnya." Balas Savannah yang sudah tidak fokus karena kondisinya yang juga sudah membuatnya benar-benar tidak menahan diri dari kesadaran.
"Okay. Tetapi kau baik-baik saja, bukan? Wajahmu terlihat begitu pucat, Savee." Tanya Dylan dengan begitu cemas sambil mengambil dokumen dari tangan wanita itu.
"Ya, aku baik-baik saja. Aku ingin langsung kembali ke mejaku, okay? Pekerjaanku sedang begitu menggila."
"Tidak. Kau harus beristirahat. Duduklah sejenak di kursiku. Ayo."
"Dy..., aku tidak ap-"
Belum selesainya Savannah mengucapkan hal itu, dengan begitu cepat wanita itu pun langsung tidak sadarkan diri dan terjatuh ke dalam pelukan Dylan yang dengan sigap langsung menangkap tubuh wanita itu yang sudah benar-benar tidak sadarkan diri.
"Savee..., hei..., sadarlah. Savee..." Ucap Dylan yang terus berusaha membangunkan wanita itu dengan kepanikan yang dengan cepat langsung dirasakan.
Namun usaha yang dilakukan Dylan itu sepertinya tidak menghasilkan karena Savannah yang tidak juga terbangun dari ketidaksadarannya. Dengan rasa cemas di dalam dirinya, tanpa berpikir lagi Dylan pun langsung mengangkat tubuh Savannah ke dalam gendongannya dan dengan cepat ia melangkah menuju lift untuk bisa secepatnya juga membawa wanita itu menuju rumah sakit sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada diri Savannah jika ia terlambat ditangani di rumah sakit mengenai kondisinya yang masih tidak diketahui namun saat ini memang sedang membutuhkan pertolongan.
***
Tidak sedetik pun pria itu ingin melepaskan genggamannya dari seorang wanita yang sedang terbaring dengan lemah di sebuah ranjang rumah sakit. Pikiran pria itu tidak bisa tenang setelah membawa Savannah yang tidak sadarkan diri, hingga wanita itu yang kini masih tidak sadarkan diri. Kondisinya yang lemah itu dipicu dengan segala kesibukan yang belakangan ini sedang dialami oleh Savannah, hingga ia menjadi jatuh sakit yang sudah pasti karena kelelahan dan juga jarangnya makanan yang masuk ke dalam tubuhnya itu.
Walaupun hanya karena sekedar faktor kelelahan saja, tetapi perasaan yang dimiliki Dylan tetap masih tidak bisa tenang. Namun, hal yang ditakutkan oleh Dylan itu rupanya dapat berakhir juga. Karena ia bisa melihat dengan perlahan sosok Savannah yang mulai membuka mata dan tersadar dari tidurnya itu.
"Savee... Hei, apakah kau bisa mendengarku?" Ucap Dylan yang merasa begitu senang dan bersemangat untuk bisa mendengar balasan wanita itu.
"Dy..." Panggil Savannah yang terdengar dengan sangat lemah.
"Ya, Sayang. Aku di sini."
"Aku berada dimana?"
"Di rumah sakit, Savee. Tadi kau tidak sadarkan diri pada saat di kantor. Untung saja kau tidak sadarkan diri pada saat ada diriku. Jadi, aku pun bisa langsung membawamu ke rumah sakit."
"Dokumen yang aku berikan kepadamu tadi bagaimana? Itu darurat, Dy."
"Sudah aku serahkan kepada rekanku di sana."
"Pekerjaanku yang lainnya, bagaimana? Masih banyak yang harus aku kerjakan, Dy."
"Savee..., kau sedang sakit. Kondisimu sedang seperti ini dan kau masih memikirkan mengenai pekerjaan. Bagaimana bisa, Savee?"
"Tetapi aku harus, Dy. Aku tidak memiliki waktu untuk yang seperti ini." Ucap wanita itu yang hendak beranjak dari posisi tidurnya, namun hal itu justru langsung ditahan oleh Dylan yang sedikit mendorong tubuh Savannah dengan perlahan hingga wanita itu kembali ke posisinya semula.
"Hei, kau masih ingin mendengarkanku, bukan? Istirahatlah, Savee. Saat ini kau sangat membutuhkannya. Dan sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Kapan terakhir kali kau makan, hah?"
"Hmm..., aku tidak mengingatnya."
"Itu dia. Karena hal itulah kau menjadi seperti ini. Kau tidak ingat kapan terakhir kali kau makan, karena kau selalu disibukkan dengan pekerjaanmu. Kau tidak bisa seperti ini, Savee. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri saja" Seru Dylan dengan nada cemas yang sedikit ia tinggikan.
Savannah pun menjadi sempat terdiam setelah mendengar ucapan Dylan yang ditujukan kepadanya tadi. Wanita itu sedang memikirkan bagaimana ia akan menerima jika dirinya itu berhenti dari pekerjaan yang sudah di cintainya. Membayangkan saja rasanya Savannah tidak sanggup. Dan air mata akan rasa lelah yang beberapa hari ini sudah wanita itu tahan, pada akhirnya menetes juga. Tidak hanya air mata akan rasa lelah saja, tetapi air mata akan rasa sakit hati, pengorbanan yang sia-sia kini rasanya sedang benar-benar Savannah tumpahkan tepat di hadapan Dylan.
"Hei, ada apa? Mengapa kau menjadi menangis? Maafkan aku jika ucapanku tadi menyakiti hatimu, okay?" Ucap Dylan dengan sangat menyesal setelah tersadar bahwa baru saja ia meninggikan suaranya terhadap wanita itu.
"Tidak. Bukan karena itu," balas Savannah sambil menghapus air matanya itu dengan cepat.
"Lalu? Hei, sudahlah. Aku tidak bisa melihatmu yang bersedih seperti ini."
"Aku lelah, Dy. Aku sangat lelah. Dia tidak pernah berhenti untuk menyiksaku. Dia selalu memperlakukanku dengan buruk dan sesuka hatinya saja. Aku sangat lelah dengan semua itu."
Melihat Savannah yang sudah menunjukkan bagian dirinya yang putus asa itu membuat Dylan tentu merasa sangat tidak tega melihat wanita yang dicintainya menjadi seperti itu. Dengan semakin menggenggam erat tangan wanita itu di dalam tangannya, Dylan pun mulai memberikan ketenangan dan juga kekuatan dengan mengusap lembut kepala Savannah.
"Sudah tidak terhitung lagi kita membicarakan mengenai hal ini entah keberapa kalinya, bukan? Lalu, sekarang apakah kau masih tidak bisa memutuskan juga?"
"Aku sangat tidak ingin kehilangan pekerjaan yang aku miliki ini, Dy. Tetapi di sisi lain, terkadang aku sempat berpikir bahwa. Apakah aku bisa meraih mimpiku di luar sana?"
"Pertanyaanmu itu, hanya bisa kau jawab, wujudkan, dan lakukan sendiri. Karena apa? Itu adalah mimpi milikmu. Dan aku, di sini hanya bisa mendukungmu, memberikanmu semangat, agar kau bisa melewati semuanya ini dengan baik."
"Kalau begitu, aku ganti saja pertanyaannya. Apakah aku bisa melewati hal yang buruk ini, Dy?"
"Aku akan selalu berada di sampingmu."
"Dy..., sejak tadi kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Aku menjawab. Kau saja yang tidak menyimak. Sejak tadi aku menjawab bahwa aku akan selalu berada di sampingmu apapun itu masalah yang sedang kau lalui, Savee. Apapun itu," balas Dylan dengan senyuman di wajahnya.
"Terima kasih karena kau sudah selalu ingin berada di sampingku."
"Tentu, Sayang. Dan sekarang, maukah kau mendengarkan ucapanku?"
"Apa?"
"Istirahatlah. Paling tidak sampai esok hari, okay?"
"Pikiranku tetapi tidak sedang berada di sini, Dy. Aku pun sesungguhnya juga ingin beristirahat, tetapi pekerjaan yang aku miliki itu sudah begitu menguasai isi kepalaku."
"Kalau begitu itu artinya kau tidak ingin mendengarkanku, begitu?"
"Tidak. Bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Baiklah, baiklah. Aku ingin mendengarkanmu untuk beristirahat malam ini di rumah sakit saja. Kau menang, apakah kau sudah merasa puas?"
"Itu lebih baik. Karena ini pun untuk dirimu sendiri, Savee. Untuk kesehatanmu dan untuk kepentingan dirimu sendiri juga."
"Iya. Terima kasih sudah selalu ingin mengingatkanku."
"Kau terlalu banyak berterimakasih, kau tahu?"
"Itu artinya aku peduli kepadamu."
"Hanya peduli?"
"Memangnya ingin apalagi?"
"Cinta dan kasih sayangnya, tidak?"
"Sayang sudah, tetapi kalau cinta sepertinya masih harus meminta izin terlebih dahulu dengan karirku. Jadi, bagaimana?"
"Aku akan menaklukkan karirmu agar kau bisa menerima cintaku," balas Dylan dengan tegas dan membuat Savannah langsung tersenyum karenanya. "Kalau begitu istirahatlah kembali. Aku akan menemanimu dan akan selalu berada di sampingmu sampai kau terbangun esok hari," sambung pria itu yang kembali mengusap kepala Savannah dengan lembut dan mengantarkan wanita itu menuju alam mimpi kembali untuk bisa mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan itu.
Dan setelah memastikan Savannah yang sudah kembali tertidur, dengan perlahan Dylan pun langsung bergegas meninggalkan wanita itu sejenak di rumah sakit sendirian. Selagi emosi yang sesungguhnya sedang dirasakan meluap-luap pada diri pria itu, membuat Dylan berniat untuk menghampiri seseorang yang dituju untuk bisa meluapkan rasa emosinya tersebut terhadap sosok yang memang sudah seharusnya bertanggung jawab atas hal tidak terduga yang sudah terjadi terhadap wanita yang dicintainya itu.
***
To be continued . . .